Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilatarbelakangi oleh tantangan pembinaan keagamaan di Lapas High Risk Pulau Nusakambangan, khususnya terkait masih kuatnya pemahaman keagamaan yang eksklusif pada narapidana terorisme (Napiter) serta kompleksitas peran sipir dalam menjaga keamanan dan melakukan pembinaan. Kondisi tersebut menuntut adanya pendekatan moderasi beragama yang mampu mendorong sikap toleran, dialogis, dan humanis. Tujuan kegiatan ini adalah memperkuat pemahaman dan praktik moderasi beragama bagi sipir dan Napiter guna mendukung terciptanya lingkungan lapas yang kondusif serta memperkuat proses deradikalisasi. Metode kegiatan menggunakan pendekatan partisipatif-edukatif melalui tahapan analisis kebutuhan, perancangan program, implementasi, dan evaluasi. Kegiatan dilaksanakan dalam bentuk sosialisasi, edukasi moderasi beragama, dialog terbimbing, refleksi keagamaan, serta pendampingan penguatan kapasitas sipir dalam komunikasi persuasif. Hasil kegiatan menunjukkan adanya perubahan positif pada sasaran pengabdian, ditandai dengan meningkatnya pemahaman moderasi beragama, sikap toleransi, keterbukaan berdialog, serta interaksi yang lebih humanis antara sipir dan Napiter. Napiter menunjukkan penurunan resistensi ideologis dan kesiapan untuk menerima perspektif keagamaan yang lebih inklusif, sementara sipir memiliki kemampuan yang lebih baik dalam mengelola konflik dan melakukan pembinaan secara persuasif. Kesimpulan dari kegiatan ini adalah pendampingan moderasi beragama efektif dalam menjawab tujuan pelaksanaan kegiatan, yaitu memperkuat sikap moderat, toleran, dan dialogis sebagai fondasi penting dalam mendukung keamanan lapas dan keberhasilan program deradikalisasi.