Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

ANALISIS PENGARUH IOD DAN ENSO TERHADAP DISTRIBUSI KLOROFIL-A PADA PERIODE UPWELLING DI PERAIRAN SUMBAWA SELATAN Putra, Dimas Pradana; Amin, Tamima; Asri, Devina Putri
Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Vol 4 No 2 (2017): Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1006.703 KB) | DOI: 10.36754/jmkg.v4i2.41

Abstract

Perairan Sumbawa Selatan merupakan salah satu perairan di Indonesia yang mempunyai potensi perikanan yang sangat besar. Perairan laut Sumbawa termasuk ke dalam wilayah Lesser Sunda Seascape yang berada pada segitiga karang dunia (The Coral Triangle) yang memiliki biodiversitas laut tertinggi dan habitat bagi 76 % spesies terumbu karang di dunia, dengan kondisi perairan yang tenang serta arus yang relatif stabil sehingga berpotensi memiliki diversitas laut yang besar. Namun, potensi itu belum dimanfaatkan dan dikelola secara optimal oleh masyarakat nelayan lokal. Hal ini dibuktikan dengan area potensi budidaya laut seluas 57.245 hektar, tetapi yang dimanfaatkan hanya 16.715 hektar. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh IOD dan ENSO terhadap distribusi klorofil-A pada periode upwelling di Perairan Sumbawa Selatan. Penelitian ini menggunakan data suhu permukaan laut (SST), IOD, ENSO, dan konsentrasi klorofil-A pada periode upwelling (Agustus-November) tahun 2001-2010. Metode yang digunakan yaitu metode korelasi yang diolah menggunakan Microsoft Excel dan analisis eksploratif. Berdasarkan hasil analisis, pada saat periode upwelling (Agustus-November), ketika suhu permukaan laut (SST) mengalami peningkatan sebaliknya pada konsentrasi klorofil-A yang mengalami penurunan. Nilai suhu permukaan laut (SST) tertinggi pada tahun 2010 dan terendah pada tahun 2007. Konsentrasi klorofil-A tertinggi pada tahun 2004 dan terendah pada tahun 2010. Nilai suhu permukaan laut (SST) tertinggi yaitu 28,52?C, hal ini berkaitan dengan fenomena la nina dan IOD negatif yang terjadi pada tahun 2010. Nilai suhu permukaan laut (SST) terendah yaitu 27,43?C pada tahun 2007, tetapi hal ini tidak dipengaruhi oleh IOD dan ENSO. Besar kecilnya nilai suhu permukaan laut (SST) maka akan mempengaruhi intensitas upwelling dan konsentrasi klorofil-A.  
ANALISIS PENGARUH MADDEN JULIAN OSCILLATION (MJO) TERHADAP ANOMALI CURAH HUJAN DI WILAYAH NGURAH RAI Pattipeilohy, Wendel Jan; B, Femmy Marsitha; Asri, Devina Putri
Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Vol 6 No 2 (2019): Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (778.2 KB) | DOI: 10.36754/jmkg.v6i2.123

Abstract

Madden Julian Oscillation (MJO) merupakan suatu gelombang atau osilasi non seasonal yang terjadi di lapisan troposfer yang bergerak dari barat ke timur dengan periode osilasi kurang lebih 30-60 hari. Fenomena ini sangat berdampak terhadap kondisi anomali curah hujan pada suatu wilayah yang dilaluinya. Dalam penelitian ini delapan fase MJO dikelompokan menjadi 4 bagian sesuai dengan pergerakannya yaitu fase 1 dan 8 (Western and Africa), fase 2 dan 3 (Indian Ocean), fase 4 dan 5 (Maritime Continent),  fase 6 dan 7 (Western Pacific). Data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu data curah hujan periode 1996-2015 dan data MJO periode yang sama. Lokasi penelitian yaitu wilayah Ngurah Rai. Data curah hujan dihitung anomalinya lalu dipisahkan antara anomali positif dan negatif  lalu disandingkan dengan fase MJO aktif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis porsentase kelompok fase MJO mana yang mendominasi anomali curah hujan pada saat anomali positif maupun negatif. Hasil kajian menunjukan persentase kejadian anomali curah hujan positif dominan terjadi saat fase MJO berada di Maritime Continent  sebesar 36%. Kemudian persentase kejadian anomali curah hujan negatif dominan terjadi saat MJO berada pada fase Indian Ocean dengan porsentasi sebesar 33%.