Murphy’s Law, often stated as “anything that can go wrong will go wrong,” is widely used to explain failure and uncertainty, including among Christians. This raises a key question: is it compatible with the doctrine of divine sovereignty? This study examines Murphy’s Law using a qualitative approach that integrates systematic theology, biblical analysis, and philosophical reflection, with focus on Job, Ecclesiastes, Romans 8:28, and Genesis 50:20. The study finds that Murphy’s Law reflects aspects of a fallen world, where failure and disorder occur. However, its value is only descriptive and limited. It is not theologically adequate and cannot function as a normative framework. If accepted uncritically, it may lead to fatalism and distort the understanding of suffering. In contrast, the doctrine of divine sovereignty affirms that God works in all events with purpose. Therefore, Murphy’s Law should be treated as an observation, not a theological principle. This study proposes a framework that places human experience within the doctrine of providence while critically engaging cultural assumptions. Abstrak Murphy’s Law, yang sering dirumuskan sebagai “segala sesuatu yang bisa salah akan salah,” banyak digunakan untuk menjelaskan kegagalan dan ketidakpastian, termasuk di kalangan Kristen. Hal ini menimbulkan pertanyaan teologis tentang kesesuaiannya dengan doktrin kedaulatan Allah. Penelitian ini mengkaji legitimasi dan batas penerapan Murphy’s Law dalam teologi Kristen. Metode yang digunakan adalah kualitatif, melalui analisis teologi sistematis, studi Alkitab, dan refleksi filosofis. Teks yang dikaji meliputi Ayub, Pengkhotbah, Roma 8:28, dan Kejadian 50:20. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Murphy’s Law mencerminkan sebagian realitas dunia yang telah jatuh, sehingga memiliki nilai deskriptif terbatas. Namun, secara teologis, prinsip ini tidak memadai dan tidak dapat menjadi kerangka normatif. Jika diterima tanpa kritik, ia dapat mendorong fatalisme dan merusak pemahaman tentang penderitaan dan pemeliharaan Allah. Sebaliknya, doktrin kedaulatan Allah menegaskan bahwa Tuhan bekerja dalam semua peristiwa dengan tujuan. Karena itu, Murphy’s Law harus dipahami sebagai pengamatan terbatas, bukan prinsip teologis. Penelitian ini menawarkan kerangka yang menempatkan pengalaman manusia dalam doktrin providensi, sambil mengkritisi pemahaman budaya populer.