Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Faktor Yang Berhubungan dengan Pemberian Asi Eksklusif di Desa Randuagung Kecamatan Tajinan Kabupaten Malang Putri, Rismaina; Arifiandi, Maya Devi; Irvinda, Irvinda; Hasanah, Nikmatun; Milasari, Milasari
Journal of Issues in Midwifery Vol 1, No 2 (2017)
Publisher : Journal of Issues in Midwifery

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (206.684 KB) | DOI: 10.21776/ub.JOIM.2017.001.02.5

Abstract

World Health Organization (WHO) merekomendasikan pemberian ASI eksklusif pada bayi selama enam bulan. Walaupun ASI memiliki banyak manfaat, tetapi cakupan ASI eksklusif di Indonesia masih rendah. Kecamatan Tajinan merupakan Kecamatan dengan prosentase ASI eksklusif terendah di Kabupaten Malang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan faktor internal ibu, dukungan suami, dukungan keluarga dan dukungan petugas kesehatan  dengan pemberian asi ekslusif di Desa Randugading. Desain penelitian ini adalah korelasi deskriptif menggunakan uji fisher dan analisis regresi berganda. Pemilihan sampel menggunakan metode total sampling dan purposive sampling pada 39 ibu. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan, namun tidak signifikan antara faktor internal ibu yang meliputi pendidikan p=0,402, pengetahuan p=0.992 dan sikap ibu p=0,404 dengan pemberian ASI eksklusif di desa Randugading. Sedangkan terdapat hubungan positif signifikan antara dukungan suami p=0,000, dukungan keluarga p=0,000 dan dukungan petugas kesehatan p=0,000 dengan pemberian ASI eksklusif di desa Randugading. Faktor internal ibu, dukungan suami, dukungan keluarga dan dukungan petugas kesehatan p=0,000 secara simultan berhubungan positif signifikan dengan pemberian ASI eksklusif. Besarnya nilai koefisien determinasi sebesar 0,894 yang berarti bahwa korelasi sangat kuat (0,80–1,00). Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat hubungan namun tidak signifikan antara faktor internal ibu yang meliputi pendidikan, pengetahuan dan sikap ibu dengan pemberian ASI eksklusif di Desa Randugading, sedangkan dukungan suami, dukungan keluarga dan dukungan petugas kesehatan berhubungan positif signifikan dengan pemberian ASI eksklusif di Desa Randugading. Faktor internal ibu, dukungan suami, dukungan keluarga dan dukungan petugas kesehatan secara simultan berhubungan positif signifikan dengan pemberian ASI eksklusif di Desa Randugading.
Perbandingan Rumus Johnson-Toshack Dan Rumus Risanto Dalam Menentukan Taksiran Berat Janin (TBJ) di Praktek Bidan Delima Yeni Malang Wardani, Diadjeng Setya; Puspita, Alfi Laili; Arifiandi, Maya Devi
Journal of Issues in Midwifery Vol 3, No 2 (2019)
Publisher : Journal of Issues in Midwifery

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (583.422 KB) | DOI: 10.21776/ub.JOIM.2019.003.02.5

Abstract

Mengetahui taksiran berat janin (TBJ) pada asuhan kehamilan merupakan salah satu hal penting yang dapat dilakukan untuk menentukan asuhan kehamilan hingga persalinan ibu. Di tempat pelayanan kesehatan primer yang tidak memiliki alat ultrasonografi, penggunaaan ukuran tinggi fundus uteri (TFU) sebagai cara menghitung TBJ dinilai lebih praktis dan mudah dilakukan oleh tenaga kesehatan. Rumus Johnson-Toshack merupakan formula TBJ yang umum digunakan di Indonesia sedangkan Rumus Risanto adalah rumus TBJ buatan peneliti Indonesia yang diklaim lebih sesuai untuk populasi ibu di Indonesia namun belum banyak digunakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui rumus TBJ manakah yang memberikan hasil lebih mendekati berat badan lahir bayi. Data diambil di tempat praktek bidan Yeni kota Malang sejak Februari-April 2019. Seluruh ibu bersalin yang memenuhi kriteria kelayakan diambil sebagai subyek penelitian. Tinggi fundus uteri diukur menggunakan pita centimeter dan data berat badan bayi diambil menggunakan timbangan bayi. Data dibandingkan untuk mengetahui rumus TBJ manakah yang memberikan hasil lebih mendekati berat lahir bayi. Dari penelitian didapatkan hasil bahwa rumus Johnson-Toshack dan Risanto memiliki kesesuaian dalam memprediksi berat lahir bayi (p value 0,093 dan 0,105). Selisih rata-rata TBJ rumus Risanto terhadap berat lahir bayi lebih kecil daripada TBJ Johnson-Toshack (∆TBJ Risanto = 103 gram; ∆TBJ Johnson-Toshack = 121 gram). Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa rumus Risanto memberikan taksiran lebih mendekati berat lahir bayi daripada rumus Johnson-Toshack.
Amenore Primer et causa Hiperplasia Adrenal Kongenital Non Klasik Arifiandi, Maya Devi; Wiyasa, I Wayan Arsana
Journal of Issues in Midwifery Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : Journal of Issues in Midwifery

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (632.658 KB) | DOI: 10.21776/ub.JOIM.2018.002.01.3

Abstract

ABSTRACTPrimary amenorrhea is menarche delayed at 14 of age without secondary sex or absent of menstruation at 16 of age with appearance of normal secondary sex. Congenital Adrenal Hyperplasia (CAH) is one of endocrine disturbance can cause primary amenorrhea. Three CAH phenotypes are classical salt wasting and classical simple virilizing, also non classical CAH with late onset in symptoms and diagnosis which unknown in prenatal time. Non classical CAH caused by P450C21(21-hydroxilase) deficiency, where autosomal recessive cause by mutation of gene CYP21A2. A case 16 years old female patient came with absent of menstruation and mass near vagina as penis like. Number of screening and  examination, diagnosis for this patient is Non Classical Congenital Adrenal Hyperplasia.                  Keywords : primary amenorrhea, non classical congenital adrenal hyperplasia   ABSTRAKAmenore primer adalah tertundanya menarke pada usia 14 tahun tanpa disertai seks sekunder atau tidak adanya menstruasi pada usia 16 tahun dengan adanya pertumbuhan normal seks sekunder. Hiperplasia Adrenal Kongenital (HAK) merupakan salah satu gangguan endokrin yang dapat menyebabkan terjadinya amenore primer. Terdapat tiga fenotip HAK, HAK tipe klasik yaitu  classical salt wasting dan classical simple virilizing sejak lahir serta HAK non klasik dengan late-onset baik gejala maupun diagnosisnya dimana saat prenatal tidak diketahui. HAK non klasik disebabkan karena adanya defisiensi  enzim P450C21 (21-hidroksilase) yang merupakan kelainan autosomal resesif yang diakibatkan oleh mutasi gen CYP21A2. Sebuah kasus seorang pasien wanita lajang usia 16 tahun dengan keluhan belum menstruasi sama sekali dan memiliki benjolan di dekat vagina menyerupai penis. Dilakukan serangkaian pemeriksaan, diagnosis pada pasien ini adalah Hiperplasia Kongenital Adrenal Kongenital (HAK) non klasik.     Kata kunci: amenore primer, hiperplasia adrenal kongenital (HAK) non klasik 
Risiko Kejadian Abortus pada Ibu Hamil dengan Advanced Maternal Age (AMA) di RSUD Kota Malang Megawati, Galih; Arifiandi, Maya Devi; Windari, Era Nurisa
Madu Jurnal Ilmu Kebidanan Vol 14, No 2: Desember 2025
Publisher : Program Studi DIV Kebidanan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31314/mjk.14.2.175-181.2025

Abstract

Social changes have led to delayed marriage and pregnancy planning due to higher educational attainment, career demands, and economic considerations. This shift has increased the number of pregnancies among women with Advanced Maternal Age (AMA), which is associated with a higher risk of miscarriage. This study aimed to analyze the risk of miscarriage among pregnant women with Advanced Maternal Age (AMA) at RSUD Kota Malang. This study employed a retrospective case-control design using medical record data. The study population consisted of pregnant women with gestational age <22 weeks during August 2024–July 2025. Purposive sampling was applied to obtain 108 respondents, including 54 cases and 54 controls with a 1:1 ratio. Maternal age was defined as the independent variable, while miscarriage was the dependent variable. Data was analyzed using the chi-square test to determine the association between variables, and odds ratio (OR) with a 95% confidence interval (CI) was calculated. The incidence of miscarriage among women with AMA was 73.7%, compared to 37.1% in women aged 20–34 years. Statistical analysis showed a significant association between AMA and miscarriage (p=0.001). Pregnant women with AMA had a 4.7-fold higher risk of miscarriage (OR=4.738; 95% CI: 1.986–11.307) than those of reproductive age. Advanced Maternal Age significantly increases the risk of miscarriage, indicating the importance of preconception counseling and intensive antenatal monitoring for women of advanced age.
Hubungan Pembukaan Serviks dengan Keberhasilan Perawatan Konservatif pada Partus Prematurus Imminens di RSUD Bangil Widayanti, Lilis; Arifiandi, Maya Devi; Maharani, Afniari
Muhammadiyah Journal of Midwifery Vol. 6 No. 1 (2025): MUHAMMADIYAH JOURNAL OF MIDWIFERY (MYJM)
Publisher : Faculty of Medicine and Health Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/myjm.6.1.37-47

Abstract

Latar Belakang: Partus Prematurus Imminens (PPI) merupakan kondisi ancaman persalinan prematur yang terjadi sebelum usia kehamilan 37 minggu. Kelahiran prematur berdampak signifikan pada morbiditas dan mortalitas neonatal, terutama yang berkaitan dengan BBLR dan asfiksia. Salah satu strategi penatalaksanaan PPI adalah perawatan konservatif. Perawatan konservatif merupakan metode suportif non-invasif yang bertujuan untuk menunda persalinan serta memberikan induksi maturasi paru janin. Keberhasilan perawatan konservatif sangat bermanfaat untuk menstabilkan kondisi ibu dan janin. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pembukaan serviks dengan keberhasilan perawatan konservatif pada pasien PPI di RSUD Bangil. Metode: Penelitian ini menggunakan metode analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Data dikumpulkan dari rekam medis pasien yang didiagnosis PPI pada periode Januari 2024 hingga Juni 2025. Sampel diperoleh dengan teknik purposive sampling, dengan jumlah 140 rekam medis sebagai responden. Hasil: Analisis univariat dan bivariat menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara pembukaan serviks dengan keberhasilan perawatan konservatif pada kasus partus prematurus imminens di RSUD Bangil, dengan nilai p < 0.001. Simpulan: Penelitian ini menunjukkan adanya hubungan bermakna antara pembukaan serviks dan keberhasilan perawatan konservatif pada kasus partus prematurus imminens. Pembukaan serviks yang lebih kecil saat pemeriksaan awal berhubungan dengan kemungkinan keberhasilan terapi yang lebih tinggi, yang mencerminkan bahwa kondisi tersebut masih berada pada tahap persalinan yang lebih dini dan masih reversible. Secara klinis, pembukaan serviks merupakan penanda prognosis yang praktis untuk mendukung stratifikasi risiko dini, memandu pengambilan keputusan terapeutik dan mengoptimalkan pemberian kortikosteroid antenatal untuk meningkatkan luaran perinatal.