Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Gamelan Sebagai Simbol Estetis Kebudayaan Masyarakat Jawa Hananto, Fariz
representamen Vol 6 No 01 (2020): Jurnal Representamen Volume 6 No 01 April 2020
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (470.516 KB) | DOI: 10.30996/representamen.v6i01.3511

Abstract

Supporting music has the power to represent the culture of a person or group at a particular time. He understood to have a basis for understanding, determining the ways and actions in each note produced. The color of the voice, the pitch and the musical work in each region have many differences. Because in essence, music is a work of art that is here is an aesthetic symbol of every different cultural community.Gamelan is a musical instrument that represents or depicts Javanese culture. Some Javanese gamelan in Surakarta, Yogyakarta and Cirebon, among others are Kyai Guntur Madu, Kyai Guntur Sari, Kyai Naga Wilaga and Gong Sekati. That every gamelan has aesthetic symbols that are attached and contained in the laras, embat, gending, deferment, wasps and repeto technique. These 6 factors reflect Javanese culture such as beliefs, language, philosophy, livelihoods and social relations which are still faced and preserved. Research symbols are concentrated in each gamelan, intrinsic, extrinsic and instrumental symbols. The three are interrelated and elaborated on the message or meal that is presented about Javanese culture.Keywords: Gamelan, Aesthetic Symbols, Javanese Culture
Garap Gamelan Sekaten Keraton Surakarto, Yogyakato dan Cirebon Sebagai Media Dakwah Islam Hananto, Fariz
Widyadewata Vol. 7 No. 1 (2024): Vol. 7 No. 1 (2024): Widyadewata : Jurnal Balai Diklat Keagamaan Denpasar
Publisher : Balai Diklat Keagamaan Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47655/widyadewata.v7i1.148

Abstract

Gamelan sekaten pada keraton Kasunanan Surakarta, Kasultanan Yogyakarta dan Kanoman Cirebon membuktikan bahwa keberhasilan dakwah Walisongo tidak terlepas dari media seni khususnya karawitan. Seluruh aspek yang terdapat pada gamelan sekaten menunjukkan bahwa agama dan kebudayaan dapat bersinergi sehingga mampu menyampaikan seluruh ajaran dari Walisongo. Garap dari gamelan sekaten merupakan unsur dari kolaborasi budaya dan agama yang menjadi dasar lahirnya kebudayaan yang memiliki nilai filosofi keislaman. Mulai dari penamaan sekaten yang diadaptasi dari syahdatain, makna jumlah ricikan yang digunakan hingga gending-gending pagelaran gamelan sekaten yang disajikan. Seluruh aspek yang ada pada gamelan sekaten merupakan bentuk ajaran yang diciptakan Walisongo dan raja-raja islam terdahulu sebagai media yang untuk menyiarkan islam dan menanamkan ajarannya kepada seluruh masyarakat dengan pendekatan kultural. Secara keseluruhan seluruh makna yang terkandung dalam gamelan sekaten pada masing-masing daerah menunjukkan bahwa kesenian tradisional mampu menjadi sebuah media tanpa mengubah ekspresi budaya tersebut namun tetap bernapaskan ajaran-ajaran islam.