Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Integrasi Kecerdasan Holistik RASULULLAH SAW Untuk Generasi Muda Berkarakter di Pendidikan Era Industri 4.0 Farida, Siti; Jamilah, Fitrotin; Khotib, Ahmad; Joni, Joni
Widya Balina Vol 4 No 2 (2019): Jurnal Ilmu Pendidikan dan Ekonomi
Publisher : widya balina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (126.181 KB) | DOI: 10.53958/wb.v4i2.37

Abstract

ABSTRAKIntegrasi adalah penggabungan suatu hal agar menjadi satu kesatuan yang utuh dalam satu tujuan. Pada Globalisasi saat ini, pengembangan teknologi dan era revolusi industry 4.0, sebuah era baru yang menekankan pada pola digital economy,artificial intelligence (kecerdasan buatan), big data, robotic. Dimana era 4.0 merupakan fenomena disruptive innovation. Istilah disruptive innovation dicetuskan pertama kali oleh Clayton M. Christensen dan Joseph Bower; inovasi yang membantu menciptakan pasar baru yang mengubah konsep pekerjaan, struktur pekerjaan, dan kompetensi yang dibutuhkan dunia pekerjaan. Era revolusi industri 4.0 juga mengubah cara pandang tentang pendidikan. Perubahan yang dilakukan tidak hanya sekedar cara mengajar, tetapi jauh lebih esensial, yakni perubahan cara pandang terhadap konsep pendidikan itu sendiri. Pendidikan karakter bukan hal yang baru di Indonesia. Tokoh-tokoh pendidik Indonesia prakemerdekaan, seperti Kartini, Ki Hajar Dewantara, Soekarno Hatta, Moh Natsir sudah memulai apa yang dinamakan pendidikan karakter sebagai semangat pembentukan kepribadian dan identitas bangsa sesuai konteks dan situasi yang terjadi saat itu. Membangun dan mencetak karakter merupakan keprihatinan pokok para tokoh tersebut. Mereka menggagas sebuah bangsa yang memiliki sebuah identitas tersendiri. Ide dan gagasan itu mulai dari hasil pengembaraan dan perantauan mental para pemikir dan cendikiawan. Dari ide dan gagasan itu, muncullah semangat karakter kebangsaan yang harus diperjuangkan dengan perjuangan tanpa akhir sehingga muncullah Negara Indonesia saat ini. Ki Hajar Dewantara misalnya, telah mengajarkan pendidikan karakter melalui praktekpendidikan yang mengusung kompetensi alam murid, bukan dengan perintah paksaan, tetapi dengan tuntunan. Cara mendidik seperti ini lebih dikenal dengan pendekatan among, yang lebih menyentuh pada tataran etika dan perilaku yang tidak terlepas dengan karakter seseorang. Membangun karakter dan watak bangsa melalui pendidikan, mutlak dibutuhkan. Mulai diri sendiri, lingkungan rumah, sekolah, dan masyarakat dengan meneladani para tokoh tersebut.
DAMPAK TRANSISI SOSIAL DENGAN PEMBAGIAN HARTA WARISAN DALAM HUKUM ISLAM Jamilah, Fitrotin
USRATUNA: Jurnal Hukum Keluarga Islam Vol. 3 No. 1 (2019): USRATUNA: Jurnal Hukum Keluarga Islam
Publisher : Prodi  Ahwal al-Syakhsiyah STAI Darussalam Nganjuk

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This paper is a study of the effects of the transitional era with the distribution of inheritance in Islamic law. This study is to determine the impact of the age of transition with the distribution of inheritance in Islamic law. In collecting data, this research uses library research. The conclusion in this study is the impact of the age transition can affect the distribution of inheritance. However, this legal change is a law that results from al-maslahah al-mursalah, such as the problems in the wasiyyat al ajibah which have been regulated in the laws of Muslim countries. In the qat'i law the distribution of inheritance cannot be changed by changing times or by any factor. This paper also provides suggestions for a deeper study of the distribution of inheritance. In this study, the authors found a number of peculiarities and shortcomings in matters related to the use of the ushuliyah rules.
Divorce Petitions by Female PPPK Employees in Indonesia:  A Socio-Legal Analysis of Legal Empowerment and Cultural Transformation Jamilah, Fitrotin
VRISPRAAK : International Journal of Law Vol. 9 No. 2 (2025): September 2025
Publisher : STAI Miftahul Ula Nganjuk

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59689/y1h2zp43

Abstract

This article aims to analyze the phenomenon of divorce petitions filed by wives working as Government Employees with Work Agreements (Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja or PPPK) through a socio-legal perspective. The study is designed as a literature-based research that explores the increasing trend of divorce initiated by PPPK wives as a distinctive socio-legal phenomenon in contemporary Indonesia. The significance of this research lies in its attempt to interpret the issue not merely from a normative legal standpoint but as a complex interaction between economic independence, social mobility, and the transformation of legal culture. The status of PPPK acts as a catalyst for women’s legal empowerment, providing them with access to financial resources, information, and social networks that enhance their legal capability. Using Lawrence M. Friedman’s legal system theory, this study finds that the shifting legal culture among PPPK wives from a culture of endurance to a culture of exit serves as the primary driver activating the substantive and structural components of divorce law. The research concludes that divorce petitions by PPPK wives represent a form of agency and legal empowerment among modern Indonesian women, reflecting the dynamic interaction between law and changing socio-economic structures. Strengthening gender-sensitive legal awareness and responsive family law policies is therefore essential to accommodate this evolving social reality.  
Integrasi Kecerdasan Holistik RASULULLAH SAW Untuk Generasi Muda Berkarakter di Pendidikan Era Industri 4.0 Farida, Siti; Jamilah, Fitrotin; Khotib, Ahmad; Joni, Joni
Widya Balina Vol. 4 No. 2 (2019): Jurnal Ilmu Pendidikan dan Ekonomi
Publisher : widya balina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53958/wb.v4i2.37

Abstract

ABSTRAKIntegrasi adalah penggabungan suatu hal agar menjadi satu kesatuan yang utuh dalam satu tujuan. Pada Globalisasi saat ini, pengembangan teknologi dan era revolusi industry 4.0, sebuah era baru yang menekankan pada pola digital economy,artificial intelligence (kecerdasan buatan), big data, robotic. Dimana era 4.0 merupakan fenomena disruptive innovation. Istilah disruptive innovation dicetuskan pertama kali oleh Clayton M. Christensen dan Joseph Bower; inovasi yang membantu menciptakan pasar baru yang mengubah konsep pekerjaan, struktur pekerjaan, dan kompetensi yang dibutuhkan dunia pekerjaan. Era revolusi industri 4.0 juga mengubah cara pandang tentang pendidikan. Perubahan yang dilakukan tidak hanya sekedar cara mengajar, tetapi jauh lebih esensial, yakni perubahan cara pandang terhadap konsep pendidikan itu sendiri. Pendidikan karakter bukan hal yang baru di Indonesia. Tokoh-tokoh pendidik Indonesia prakemerdekaan, seperti Kartini, Ki Hajar Dewantara, Soekarno Hatta, Moh Natsir sudah memulai apa yang dinamakan pendidikan karakter sebagai semangat pembentukan kepribadian dan identitas bangsa sesuai konteks dan situasi yang terjadi saat itu. Membangun dan mencetak karakter merupakan keprihatinan pokok para tokoh tersebut. Mereka menggagas sebuah bangsa yang memiliki sebuah identitas tersendiri. Ide dan gagasan itu mulai dari hasil pengembaraan dan perantauan mental para pemikir dan cendikiawan. Dari ide dan gagasan itu, muncullah semangat karakter kebangsaan yang harus diperjuangkan dengan perjuangan tanpa akhir sehingga muncullah Negara Indonesia saat ini. Ki Hajar Dewantara misalnya, telah mengajarkan pendidikan karakter melalui praktekpendidikan yang mengusung kompetensi alam murid, bukan dengan perintah paksaan, tetapi dengan tuntunan. Cara mendidik seperti ini lebih dikenal dengan pendekatan among, yang lebih menyentuh pada tataran etika dan perilaku yang tidak terlepas dengan karakter seseorang. Membangun karakter dan watak bangsa melalui pendidikan, mutlak dibutuhkan. Mulai diri sendiri, lingkungan rumah, sekolah, dan masyarakat dengan meneladani para tokoh tersebut.