Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Manuskripta

Konsepsi Raja Melayu dalam Hikayat Petualangan Ajaib Hikayat Kemala Bahrain Rizqi Handayani
Manuskripta Vol 10 No 1 (2020): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara (The Indonesian Association for Nusantara Manuscripts, Manassa)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v10i1.152

Abstract

Abstract: This article explains the views of the Malay community regarding the concept of a king in one of the magical adventure stories, entitled Hikayat Kemala Bahrain ML 443 (HKB). HKB is one of the classic Malay magical adventures stored in the National Library of the Republic of Indonesia. HKB tells about the adventures of a king in finding his identity as the heir to the kingdom. The results of this study indicate that HKB carries the idea of ​​the Malay king as the caliph on earth (Ḍillullah fī al-‘ālam). However, in formulating the concept of king's leadership, the Malay community was still trapped in the idea of ​​god-king spiritualism (devarāja spiritualism) which became one of the criteria attached to the Malay king. Based on the king's conception presented by HKB, it is clear that the Malay worldview aspires to a leader or king who upholds political and state ethics based on noble moral values ​​that are relevant to various situations and conditions. --- Abstrak: Artikel ini menjelaskan pandangan masyarakat Melayu mengenai konsep raja dalam salah satu hikayat petualangan ajaib, yang berjudul Hikayat Kemala Bahrain ML 443 (HKB). HKB merupakan salah satu hikayat petualangan ajaib melayu klasik yang tersimpan di Perpustakaan Nasional RI. HKB bercerita tentang petualangan seorang raja dalam menemukan identitas dirinya sebagai pewaris kerajaan. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa HKB mengusung gagasan tentang raja Melayu sebagai khalifah di muka bumi (Ḍillullah fī al-‘ālam). Namun, dalam merumuskan konsep kepemimpinan raja, masyarakat Melayu masih terjebak pada gagasan tentang spiritualisme dewa-raja (devarāja spiritualism) yang menjadi salah satu kriteria yang melekat pada raja Melayu. Berdasarkan pada konsepsi raja yang ditampilkan HKB maka terlihat jelas bahwa pandangan dunia Melayu mencita-citakan pemimpin atau raja yang menjunjung tinggi etika politik dan kenegaraan yang berbasis pada nilai-nilai moral yang luhur yang relevan dengan berbagai situasi dan kondisi. Keywords: Magical Adventure Stories, Malay King Concept, Leader Ethics, Hikayat Kemala Bahrain. Kata Kunci: Hikayat Petualangan Ajaib, Konsepsi Raja Melayu, Etika Kepemimpinan, Hikayat Kemala Bahrain.
Seksualitas dan Daulat Tubuh Perempuan dalam Cherita Pandawa Lima Rizqi Handayani
Manuskripta Vol 11 No 2 (2021): [Selected Papers] Simposium Internasional Pernaskahan Nusantara XVIII
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara (The Indonesian Association for Nusantara Manuscripts, Manassa)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v11i2.193

Abstract

The paper aims to see the contestation and struggle for discourse on sexuality and the female body in Cherita Pandawa Lima. This research is literature research that uses critical discourse analysis as an approach in analyzing literary texts. Critical discourse analysis is used to dismantle the presumptions and ideologies of patriarchal power that are stored in androcentric literary discourses. The data that will be identified and classified are aspects related to women's bodies and sexuality which are exploited and maintained through patriarchal culture. These data will be analyzed using a feminist literary criticism approach to dismantle the patriarchal ideology that is hidden behind the text and reconstruct it within the framework of feminism. By using Cheritera Pandawa Lima edited by Khalid Hussain as the main data, this study shows that the female characters in Cheritera Pandawa Lima are the main axis in the storyline, and even become one of the main myths that drive the occurrence of the masculine Bharatayuddha war. Based on this, female figures try to get out of the patriarchal cultural norms and social constructs that develop in society, by seizing the discourse of patriarchal hegemony through sexuality and body sovereignty. Thus the female characters in this story try to align themselves with the ranks of the men. --- Tulisan ini bertujuan untuk melihat kontestasi dan perebutan wacana terhadap seksualitas dan tubuh perempuan dalam Cherita Pandawa Lima. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan yang menggunakan analisis wacana kritis sebagai pendekatan dalam menganalisa teks sastra. Analisis wacana kritis digunakan untuk membongkar praduga dan ideologi kekuasaan patriarki yang tersimpan dalam wacana-wacana sastra yang androsentris. Adapun data yang akan diidentifikasi dan diklasifikasikan adalah aspek-aspek yang berkaitan dengan tubuh dan seksualitas perempuan yang dieksploitasi dan dipertahankan melalui budaya patriarkhi. Data-data tersebut akan dianalisa dengan pendekatan kritik sastra feminis untuk membongkar ideologi patriarkhis yang tersimpan di balik teks, serta merekontruksinya dalam kerangka pikir feminisme. Dengan menggunakan Cheritera Pandawa Lima yang disunting oleh Khalid Hussain sebagai data utama, maka penelitian ini menunjukkan bahwa tokoh-tokoh perempuan dalam Cheritera Pandawa Lima menjadi poros utama dalam jalan cerita, bahkan menjadi salah satu mitos utama yang mengendarai terjadinya perang Bharatayuddha yang maskulin. Berdasarkan hal tersebut tokoh-tokoh perempuan berusaha mencoba keluar dari norma-norma budaya patriarki dan konstruk sosial yang berkembang di tengah masyarakat, dengan cara merebut wacana hegemoni patriarki melalui seksualitas dan kedaulatan tubuhnya. Dengan demikian tokoh-tokoh perempuan dalam cerita ini berusaha menyejajarkan diri dengan barisan para laki-laki.