Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PENGARUH DOSIS INOKULUM DAN BIJI KELOR DALAM PENGOLAHAN LIMBAH CAIR TEMPE MENGGUNAKAN TRICKLING BED FILTER Rizza Fadillah Fitri; Ummu Fithanah; M. Said
Jurnal Teknik Kimia Vol 23 No 2 (2017): Jurnal Teknik Kimia
Publisher : Chemical Engineering Department, Faculty of Engineering, Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Limbah cair industri tempe merupakan masalah utama dalam pengendalian dampak lingkungan karena mengandung bahan-bahan organik yang tinggi. Salah satu alternatif pengolahan limbah cair industri tempe adalah dengan menggunakan biofilter horizontal dengan menambahkan EM4 sebagai Inokulum dan Biji Moringa Oleifera sebagai biokoagulan. Pengolahan limbah cair industri tempe menggunakan biofilter horizontal menggunakan kerikil sebagai media penyangga untuk menumbuhkan mikroorganisme. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan kombinasi perlakuan yang tepat antara EM4 dan Biji Moringa oleifera yang digunakan terhadap penurunan kandungan organik pada limbah cair industri tempe. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 3 faktor. Faktor A (Penambahan Konsentrasi Inokulum EM4) yang terdiri dari 3 level yaitu 0%, 5%, 10% dari total volume limbah. Faktor B (Penambahan konsentrasi Biokoagulan Biji Moringa Oleifera) yang terdiri dari 3 level yaitu 0 mg, 1000 mg dan 1500 mg. dan factor C (Lama waktu pengendapan limbah) yang terdiri dari 5 level yaitu 0 hari, 4 hari, 8 hari, 12 hari dan 16 hari. Data hasil parameter limbah cair industri tempe (TSS, BOD dan pH). Limbah cair industri tempe yang digunakan pada penelitian ini memiliki kandungan organik yang diwakili nilai TSS, BOD dan nilai pH berturut-turut adalah 9141,7 mg/l; 213,3 mg/l dan 3,1. Perlakuan terbaik pada pengolahan limbah cair industri tempe yaitu pada perlakuan dengan penambahan konsentrasi inokulm 10 %, konsentrasi koagulan 1500 mg/l dan lama waktu pengendapan limbah 16 hari. Hasil pengolahan limbah cair industri tempe menghasilkan nilai TSS, BOD dan pH berturut-turut adalah 48 mg/l; 54,3 mg/l; dan 6,9.
SINTESIS SENYAWA POLIOL MELALUI REAKSI HIDROKSILASI SENYAWA EPOKSI MINYAK JAGUNG M. Said; Mutia Shaza Fita; Ricka Ayu Sugiarti
Jurnal Teknik Kimia Vol 23 No 3 (2017): Jurnal Teknik Kimia
Publisher : Chemical Engineering Department, Faculty of Engineering, Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pelumas nabati menjadi solusi alternatif pengganti pelumas. Sifat ramah lingkungan dan ketersediaan bahan baku menjadi alasan pelumas nabati dijadikan solusi dalam permasalahan penggunaan pelumas dari minyak bumi. Pelumas dari minyak nabati dapat dibuat dalam proses epoksidasi, hidroksilasi dan asetilasi. Pembuatan senyawa poliol merupakan senyawa intermediate untuk produksi pelumas nabati terbentuk dari reaksi hidroksilasi senyawa epoksi minyak jagung dan metanol. Senyawa epoksi terbentuk dari reaksi epoksidasi antara minyak jagung dengan hidrogen peroksida. Pada penelitian ini, secara khusus mempelajari pengaruh temperatur dan waktu reaksi hidroksilasi dari epoksi minyak jagung terhadap nilai konversi dengan variabel temperatur 45°C, 50°C, 55°C, 60°C dan waktu reaksi 30, 60, 90, 120 menit. Berdasarkan hasil penelitian nilai konversi senyawa poliol dari senyawa epoksi minyak jagung yang paling besar pada temperatur 50°C dan waktu reaksi 120 menit yaitu 0,9871. Hasil penelitian juga menunjukkan semakin rendah nilai bilangan oksiran dan semakin tinggi nilai bilangan hidroksil senyawa poliol maka berpengaruh pada besarnya nilai konversi senyawa epoksi menjadi senyawa poliol. Konstanta kinetika reaksi hidroksilasi yang paling besar pada temperatur 50°C yaitu k? = 0,0468 mol/? menit.
SINTESIS POLIOLESTER MELALUI REAKSI ASETILASI SENYAWA POLIOL MINYAK JAGUNG M. Said; Agustria; Dimitra Alitha Utama
Jurnal Teknik Kimia Vol 23 No 3 (2017): Jurnal Teknik Kimia
Publisher : Chemical Engineering Department, Faculty of Engineering, Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pelumas merupakan kebutuhan pokok dalam suatu industri maupun kendaraan bermotor disamping bahan bakar. Salah satu bahan yang dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan pelumas adalah minyak nabati. Keunggulan dari minyak nabati, yaitu bersifat ramah lingkungan, dapat terurai (biodegradable), dan ketersediaannya melimpah di Indonesia. Minyak jagung merupakan contoh dari minyak nabati yang dapat dijadikan sebagai bahan baku alternatif pembuatan pelumas di masa sekarang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas pelumas yang dihasilkan dari bahan baku berupa minyak jagung. Proses pembuatan pelumas nabati ini memiliki 3 proses yaitu epoksidasi, hidroksilasi dan asetilasi. Proses epoksidasi dilakukan untuk mengurangi ikatan rangkap, hidroksilasi dilakukan untuk mengubah gugus oksiran dari epoksi yang bersifat tidak stabil, dan asetilasi digunakan untuk mengubah gugus OH pada minyak menjadi OR. Sintesis poliolester dihasilkan melalui proses lanjutan dari reaksi epoksidasi dan hidroksilasi, yaitu asetilasi senyawa poliol dengan bantuan asam asetat anhidrat. Kondisi operasi optimum dari reaksi epoksidasi dan hidroksilasi dengan bahan baku minyak jagung berturut-turut sebesar 60?C; 150 menit dan 50?C; 120 menit. Variabel bebas pada penelitian ini berupa Temperatur (60?C, 70?C dan 80?C) dan Waktu reaksi (15, 20, 25, 30 dan 35 menit). Hasil penelitian menunjukkan nilai konversi maksimum dari poliol menjadi poliolester berada di angka 48,96% dengan kondisi operasi temperatur dan waktu berturut-turut sebesar 60?C; 30 menit.