Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

OPEN WINDOW THORACOSTOMY FOR MULTIPLE LUNG ABCESS Kuncoro, Endika Cahyo; Ismail, Darmawan
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 1 (2025): APRIL 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i1.42785

Abstract

Abses paru multipel tetap menjadi tantangan signifikan dalam pengobatan paru, terutama pada kasus yang resistan terhadap terapi konvensional. Penanganan kasus kompleks ini memerlukan pendekatan bedah yang tepat, dengan Open Window Thoracostomy (OWT) muncul sebagai opsi potensial untuk kasus yang sulit. Untuk melaporkan keberhasilan penanganan abses paru multipel menggunakan teknik OWT dengan komorbid diabetes melitus dan riwayat konsumsi alkohol kronis. Seorang pria dengan diabetes melitus tipe 2 yang tidak terkontrol dengan baik (HbA1c 9,2%) datang dengan batuk produktif, demam, dan dispnea progresif selama tiga minggu. CT scan dada menunjukkan tiga rongga abses di paru kanan dengan berbagai ukuran (6,8 x 5,2 cm, 4,5 x 3,8 cm, dan 5,6 x 4,7 cm). Setelah kegagalan terapi antibiotik selama 14 hari, prosedur OWT dilakukan menggunakan pendekatan anterolateral yang dimodifikasi. Pemulihan pascaoperasi mencakup protokol perawatan luka terstruktur dan rehabilitasi komprehensif. Penutupan luka yang lengkap dicapai pada bulan ke-4, dengan perbaikan signifikan pada fungsi paru (FEV1 82% dan FVC 78% dari nilai prediksi) pada bulan ke-6 pascaoperasi. OWT terbukti efektif dalam mengelola abses paru multipel yang kompleks, bahkan pada pasien dengan komorbiditas yang signifikan. Rekomendasi mencakup pentingnya pengenalan dini kegagalan pengobatan medis, optimalisasi teknik bedah dengan rekonstruksi CT 3D, pengembangan protokol pascaoperasi yang terstruktur, dan perlunya penelitian lebih lanjut tentang faktor prediktif untuk keberhasilan OWT.
Empiema Necessitans Akibat Infeksi Tuberkulosis Yang Ditatalaksana Dengan Pembedahan: Laporan Kasus Dan Tinjauan Pustaka Dewi, Amelinda Fortuna; Abdillah, Fauzi; Utomo, Arif Prasetyo; Ismail, Darmawan
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 12, No 7 (2025): Volume 12 Nomor 7
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v12i7.20068

Abstract

Empiema necessitans (EN) adalah konsekuensi yang sangat jarang terjadi dari infeksi pleura yang tidak diobati. Ini terjadi ketika empiema yang tidak diobati melalui pleura parietal dan membentuk abses di jaringan subkutis pada dinding dada. Respons segera diperlukan untuk menghindari morbiditas yang signifikan. Di sini kami sajikan seorang wanita berusia 51 tahun dengan pembengkakan lunak di dinding dada posterior kanan bawah. Rontgen dada dan Computed Tomography (CT) thorax menunjukkan adanya abses paru dan empiema necessitan di lobus inferior paru kanan, kami menemukan empiema intraoperatif. Pasien diobati dengan sayatan kecil dan drainase; namun, kondisinya tetap tidak terselesaikan. Perawatan dilanjutkan dengan dekortikasi torakotomi sebagai drainase dan debridemen jaringan yang terinfeksi serta eskalasi antibiotik. Selang dada dilepas dan pasien dipulangkan pada hari ke-5 pasca operasi setelah menunjukkan perbaikan klinis. Tes GeneXpert® telah dilakukan dan mengkonfirmasi bahwa M. tuberculosis adalah penyebabnya. EN jarang ditemukan sebagai satu-satunya infeksi pada paru-paru dan pleura. Diagnosis yang akurat berdasarkan temuan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang yang spesifik adalah penting untuk mencegah morbiditas dan mortalitas yang signifikan. Manajemen yang efektif dari empiema necessitans melibatkan perawatan yang cepat dan akurat, seperti intervensi bedah dan eskalasi antibiotik.
Case Report: Prompt Management in 35 Years Old Man with Vascular Injury at The Level of Brachialis Artery Amijaya, Dody Tisna; Ismail, Darmawan
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v10i4.57961

Abstract

Penetrating trauma to the upper extremity frequently causes vascular injuries, often involving nerves and tendons, with the brachial and ulnar arteries being critical for arm function, necessitating prompt and effective management. This study reports on the management of brachial and ulnar artery injury due to penetrating trauma. A 35-year-old man sustained lacerations to the right upper and lower arm from broken glass, leading to numbness in the fingers and absent ulnar pulse. Examination revealed hypesthesia, limited range of motion, and absent SpO2 readings in the third to fifth fingers, with angiography showing a proximal brachial artery gap and nearly empty ulnar artery flow. The patient underwent emergency surgery, where exploration revealed severed flexor tendons, muscles, and ulnar artery. Thrombectomy and vascular anastomosis were performed, successfully restoring blood flow. The procedure was completed without complications, and the patient showed satisfactory post-surgical outcomes. Forearm arterial injuries require prompt diagnosis and surgical repair, as timely intervention within 6–12 hours improves long-term outcomes by preserving circulation, preventing ischemic damage, and maintaining limb function.
Comparative Environmental Sustainability of Reusable SUNS Proque Versus Level 3 PPE in COVID-19 Isolation Wards Bani, Dony Marthen; Ismail, Darmawan; Suwardi; Surya Adhnyana, Ida Bagus Budhi; Wibisono; Marwanto, Pigur Agus
Health and Medical Journal Vol. 8 No. 2 (2026): May 2026
Publisher : Universitas Baiturrahmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33854/heme.v8i2.2144

Abstract

Background: The COVID-19 pandemic led to an unprecedented surge in the use of disposable personal protective equipment (PPE), contributing to a substantial increase in medical waste and environmental pollution. While Level 3 disposable PPE is widely used to protect healthcare workers, its environmental sustainability remains a growing concern. Reusable PPE systems, such as the Surgeons of Universitas Sebelas Maret Protective Equipment (SUNS Proque), have been developed as alternatives to mitigate environmental impacts while maintaining adequate protection. Objective: This study aimed to compare the environmental sustainability of reusable SUNS Proque PPE and conventional Level 3 disposable PPE used in COVID-19 isolation wards. Methods: An observational analytical cross-sectional study was conducted at Dr Moewardi Hospital in Indonesia. A total of 56 healthcare workers (physicians, nurses, and sanitation staff) who had experience using both PPE types participated. Environmental sustainability was assessed using a validated 10-item Likert-scale questionnaire covering recyclability, reusability, waste volume, material characteristics, waste segregation, and circular economy principles. Statistical analyses included Chi-square tests, independent t-tests, and Eta correlation analysis. Results: SUNS Proque PPE demonstrated significantly higher overall environmental sustainability compared with Level 3 PPE (p < 0.001). Significant differences were observed in recyclability (p = 0.025), design for reuse (p = 0.002), waste volume reduction (p = 0.017; Eta = 0.772), and waste segregation (p = 0.013). Waste volume emerged as the strongest determinant differentiating the two PPE systems. Other indicators, including material toxicity and non-incineration processing, showed no statistically significant differences. Conclusion: Reusable SUNS Proque PPE offers superior environmental sustainability compared with conventional disposable Level 3 PPE, particularly through substantial waste reduction. Integrating reusable PPE into hospital infection control strategies may support environmentally sustainable healthcare systems without compromising occupational safety.