Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search
Journal : Nutrix Journal

PERBANDINGAN KUALITAS HIDUP PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK DENGAN KOMORBID FAKTOR DIABETES MELLITUS DAN HIPERTENSI PADA PASIEN YANG MENJALANI HEMODIALISA Andreas Rantepadang
NUTRIX Vol 5 No 2 (2021): Volume 5, Issue 2, 2021
Publisher : Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Klabat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37771/nj.Vol5.Iss2.575

Abstract

Abstrak Hipertensi dan Diabetes mellitus (DM) merupakan faktor komorbid yang berperan penting dalam peningkatan penderita Gagal ginjal kronik yang mengharuskan menjalani hemodialisa supaya kualitas hidup pasien Gagal ginjal kronik dapat dipertahankan atau ditingkatkan. Tujuan penelitian ini adalah menganalisa perbandingan kualitas hidup pasien gagal ginjal kronik dengan komorbid faktor Diabetes Melitus dan Hipertensi pada pasien yang menjalani hemodialisa. Metode penelitian observasional analitik dengan desain penelitian cross sectional, Populasi pada peneilitian ini adalah penderita Gagal ginjal kronik yang menjalani Hemodialisa di RSA Manado, penentuan sampel purposive sampling terdapat 43 sampel yang memenuhi kriteria penelitian, 23 responden komorbid Hipertensi dan 20 komorbid DM. Hasil penelitian didapatkan rata-rata kualitas hidup pada pasien Hemodialisa dengan komorbid DM 55.25 sedangkan pada pasien hemodialisa dengan komorbid hipertensi lebih tinggi yaitu 57.69 untuk hasil uji independent t test didapatkan nilai p-value 0.479 >0.05 yang menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan kualitas hidup pada pasien Gagal ginjal Kronik dengan komorbid DM dan hipertensi. Kesimpulan: secara rata-rata kualitas hidup pasien Gagal ginjal kronik dengan komorbid Hipertensi lebih baik dibandingkan dengan komorbid DM tetapi secara statistik tidak signifikan. Saran: Diharapkan untuk penelitian selanjutnya untuk menambah jumlah sampel dan sampel yang seimbang antara kedua kelompok.
PENGARUH MENGUNYAH PERMEN KARET TERHADAP RASA HAUS PADA PASIEN HEMODIALISA Andreas Rantepadang; Gracela Gwendolin Taebenu
NUTRIX Vol 3 No 1 (2019): Volume 3, Issue 1, 2019
Publisher : Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Klabat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (278.516 KB) | DOI: 10.37771/nj.Vol3.Iss1.387

Abstract

ABSTRAK Pasien hemodialisa mengalami rasa haus yang menyebabkan ketidaknyamanan dan mempengaruhi kualitas hidup, mengunyah permen karet (xylitol) merupakan salah satu intervensi yang dapat digunakan untuk mengurangi rasa haus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh mengunyah permen karet terhadap rasa haus pada pasien hemodialisa di Rumah Sakit Advent Manado. Desain penelitian quasi-eksperimental dengan pendekatan pre and posttest nonequivalent control group design. Metode sampling adalah purposive sampling. Sampel penelitian 30 responden dibagi atas 15 responden kelompok perlakuan dan 15 responden kelompok kontrol. Hasil penelitian: rata-rata rasa haus sebelum mengunyah permen karet pada kelompok intervensi (24,40) berada pada rasa haus berat, setelah diberikan intevensi permen karet selama 2 minggu rasa haus pasien menurun menjadi (11,47) rasa haus ringan. Sedangkan pada kelompok kontrol rasa haus pada hari pertama (23, 20) berada pada rasa haus berat, setelah 2 minggu, tetap berada pada haus berat (23,07). Hasil uji statistik mann whitney u-test didapati nilai p value 0,000<0,05 di mana terdapat pengaruh yang signifikan mengunyah permen karet terhadap rasa haus pada pasien hemodialisa. Rekomendasi: Bagi pasien yang menjalani hemodialisa dapat menggunakan permen karet sebagai terapi alternatif untuk mengurangi rasa haus. Kata kunci: mengunyah permen karet, rasa haus, hemodialisa ABSTRACT Hemodialysis patients feel thirsty that cause discomfort and affect the quality of life. One of the methods used to reduce thirsty is to chew gum (xylitol). This study aims to determine the effect of chewing gum on thirst in hemodialysis patients at Manado Adventist Hospital. Design of this research used quasi-experimental with a pre and posttest nonequivalent control group approach. The sampling method used was purposive sampling. The research sample of 30 respondents was divided into 15 respondents for the treatment group and 15 respondents for the control group. Result: The average thirsty before chewing gum in the intervention group (24.40) which indicated being in severe thirsty, after being given an intervention of gum for 2 weeks in the intervention group, the patients’ thirsty decreased to (11.47) being in mild thirsty. Whereas first day control group (23.20) which was in severe thirst, and thirst after 2 weeks the control group (23.07) remained in severe thirst. The result of the mann whitney u-test statistical test found p value 0.000<0.05 where there was a significant effect of chewing gum on thirst in hemodialysis patients. Recommendation: For hemodialysis patients can use gum as an alternative therapy to reduce thirsty. Keywords: chewing gum, thirsty, hemodialysis
HUBUNGAN PSYCHOLOGICAL WELL-BEING DENGAN LONELINESS Andreas Rantepadang; Ariel Ben Gery
NUTRIX Vol 4 No 1 (2020): Volume 4, Issue 1, 2020
Publisher : Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Klabat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37771/nj.Vol4.Iss1.428

Abstract

Loneliness dapat terjadi pada siapa saja, terlebih pada usia dewasa mudah, termasuk mahasiswa yang memiliki masalah dalam kemampuan bersosialisasi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan. Psychological well-being yang baik dapat terhindar dari perasaan loneliness. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisa hubugan psychological well-being dengan loneliness pada mahasiswa rantau. Desain penelitian yang digunakan yaitu diskriptif korelatif dengan pendekatan cross-sectional. 188 responden terpilih melalui purposive sampling dengan rentang waktu Februari sampai Maret 2019. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata psychological well-being mahasiswa berada pada 3.55 dengan kategori tinggi dan lonliness 2.22 kategori rendah, sedangkan pada uji statistik pearson correlation menunjukkan ada hubungan antara dua variabel yaitu variabel psychological well-being dengan loneliness p value .000<0.05 dengan nilai korelasi -0.474 termasuk pada kategori sedang dengan arah negarif. Rekomendasi kepada mahasiswa maupun orang tua agar terhindar dari muculnya perasaan loneliness perlu meningkatkan psychological well- being seperti relasi positif dengan orang lain dan bagi penelitian selanjutnya untuk menganlisa pengaruh psychological well-being terhadap loneliness. Keywords: loneliness, psychological, studen, well being Loneliness dapat terjadi pada siapa saja, terlebih pada usia dewasa muda, termasuk mahasiswa yang memiliki masalah dalam kemampuan bersosialisasi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan. Psychological well-being yang baik dapat terhindar dari perasaan loneliness. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisa hubungan psychological well-being dengan loneliness pada mahasiswa rantau. Desain penelitian yang digunakan yaitu deskriptif korelatif dengan pendekatan cross-sectional. 188 responden terpilih melalui purposive sampling dalam rentang waktu Februari sampai Maret 2019. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata psychological well-being mahasiswa berada pada 3.55 dengan kategori tinggi dan loneliness 2.22 kategori rendah, sedangkan pada uji statistik pearson correlation menunjukkan ada hubungan antara psychological well-being dengan loneliness p value .000<0.05 nilai korelasi -0.474 termasuk pada keeratan hubungan sedang dengan arah negatif. Rekomendasi kepada mahasiswa maupun orang tua agar terhindar dari perasaan loneliness perlu meningkatkan psychological well- being seperti relasi positif dengan orang lain dan bagi penelitian selanjutnya untuk menganalisa pengaruh psychological well-being terhadap loneliness. Kata Kunci: loneliness, mahasiswa, psychological, well being
Kebiasaan Bermain Game Online dengan Keluhan Kelelahan Mata Pada Remaja Sherryna Dien; Andreas Rantepadang
NUTRIX Vol 7 No 1 (2023): Volume 7, Issue 1, 2023
Publisher : Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Klabat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37771/nj.v7i1.916

Abstract

Online games are applications that can be used as entertainment and recreation however if done repeatedly for an excessive duration they can cause eye fatigue. Eyestrain or asthenopia is fatigue that occurs in the organ of vision. The purpose of this research is to know the relationship between the habit of playing online games with complaints of eye fatigue in Adolescents. The research design used is the descriptive correlation with a cross-sectional approach. The sample of this research amounted to 200 people and was taken using non-probability sampling, namely purposive sampling. The results of the study found that out of 200 teenagers, there were 189 people (94.5%) are in the high category, 11 people (5.5%) are in the medium category and there is no low category in the habit of playing online games. Meanwhile, 199 people (99.5%) experienced eye fatigue and 1 person (5.5%) did not experience eye fatigue. There is a significant relationship between the habit of playing online games and complaints of eye fatigue p-value = 0.000. With a value of r = 0.246, which means a correlation between the two is weak and has a positive direction. Recommendations for teenagers who play online games are expected to reduce time in playing online games and fill time free with positive things and fun hobbies. Abstrak Game online merupakan aplikasi yang dapat dijadikan hiburan dan rekreasi namun, apabila dilakukan secara berulang dalam durasi yang berlebihan dapat menyebabkan terjadinya kelelahan mata. Kelelahan mata atau astenopia merupakan kelelahan yang terjadi pada organ penglihatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara kebiasaan bermain game online dengan keluhan kelelahan mata pada Remaja. Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif korelasi dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian ini berjumlah 200 orang yang diambil menggunakan non probability sampling yaitu purposive sampling. Hasil penelitian didapati dari 200 remaja ada sebanyak 189 remaja (94,5%) berada pada kategori tinggi, dan 11 remaja (5,5%) berada pada kategori sedang, dalam kebiasaan bermain game online. Sedangkan kelelahan mata ada 199 remaja (99,5%) mengalami keluhan kelelahan mata dan hanya 1 remaja (0,5%) tidak mengalami kelelahan mata. Ada hubungan yang signifikan antara kebiasaan bermain game online dengan keluhan kelelahan mata p-value = 0,000. Dengan nilai r = 0,246 yang artinya korelasi hubungan keduanya lemah serta memiliki arah positif. Rekomendasi bagi remaja yang bermain game online diharapkan untuk mengurangi waktu dalam bermain game online dan mengisi waktu luang dengan hal-hal yang positif dan melakukan hobi yang menyenangkan. Kata Kunci: Game Online, Kebiasaan, Keluhan, Kelelahan Mata.
Hubungan Stres Akademik dengan Keluhan Migrain pada Mahasiswa Jennifer Telly Rumuat; Andreas Rantepadang
NUTRIX Vol 7 No 2 (2023): Volume 7, Issue 2, 2023
Publisher : Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Klabat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37771/nj.v7i2.943

Abstract

Migraine is a neurological disease with moderate to severe pain intensity. Migraine complaints can be triggered by several trigger factors, one of which is stress. Academic stress is pressure from a subjective perspective on academic conditions. The purpose of this study was to determine the relationship between academic stress and migraine complaints of students. The design used in this research is a descriptive correlation with a cross-sectional approach. The sample in this study amounted to 45 students with a sampling technique that is purposive sampling. The result showed that 25 students (55,6%) felt severe stress and 20 (44,4%) students felt moderate stress, 35 students (77,8%) did not feel migraine complaints and 10 students (22,2%) felt migraine complaints, and there was a significant relationship between academic stress and migraine complaints with p-value =0,047. The value of r = -0,297 which means the correlation between the two variables is weak and has a negative direction. Recommendations for nursing students can maintain activities that can reduce migraine complaints such as not consuming foods containing glutamate or tyramine, For future researchers, it is advisable to research different variables and add more samples. Keyword: Academic Stress, Migraine Complaints Abstrak Migrain adalah penyakit neurologis dengan intensitas nyeri sedang hingga berat. Keluhan migrain dipicu oleh beberapa faktor pencetus, salah satunya stres. Stres akademik merupakan tekanan dari perspektif secara subjektif terhadap kondisi akademik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara stres akademik dengan keluhan migrain pada mahasiswa. Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif korelasi dengan pendekatan cross sectional. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 45 mahasiswa dengan teknik sampling purposive sampling. Hasil penelitian didapati ada 25 mahasiswa (55,6%) merasakan stres berat dan 20 (44,4%) mahasiswa merasakan stres sedang, 35 (77,8%) mahasiswa tidak merasakan keluhan migrain dan 10 mahasiswa (22,2%) merasakan keluhan migrain, serta terdapat hubungan yang signifikan antara stres akademik dengan keluhan migrain dengan nilai p-value =0,047. Nilai r =-0,297 yang berarti korelasi hubungan kedua variabel lemah dan memiliki arah negatif. Rekomendasi bagi mahasiswa keperawatan dapat mempertahankan kegiatan-kegiatan yang dapat mengurangi keluhan migrain seperti tidak mengkonsumsi makanan yang mengandung glutamate atau tyramine. Bagi peneliti selanjutya, diharapkan dapat meneliti tentang variabel yang berbeda dan menambahkan jumlah sampel lebih banyak. Kata kunci : Keluhan Migrain, Stres Akademik
Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Kualitas Hidup Pasien Pasca Stroke Rawung, Gabriel Natali; Rantepadang, Andreas
NUTRIX Vol 8 No 1 (2024): Volume 8, Issue 1, 2024
Publisher : Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Klabat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37771/nj.v8i1.1076

Abstract

Patients who have experienced a stroke suffer from both physical and psychological impairments, leading to a decline in quality of life due to the inability to perform basic life functions and daily activities. Support and assistance from the family are crucial factors that can restore the quality of life for post-stroke patients, as actions are appreciated, loved, and noticed. The aim of this research is to determine the relationship between family support and the quality of life of post-stroke patients. The research method employed is descriptive correlation with a cross-sectional approach involving 42 post-stroke patients, using purposive sampling. The study found that 40 respondents (92.2%) were in the high family support category, while 2 respondents (4.8%) were in the moderate family support category. The quality of life was found to be in the good category, with all 42 respondents (100%). The Spearman rank correlation test results showed a p-value of 0.727, which is greater than 0.05. It can be concluded that there is no significant relationship between family support and the quality of life of post-stroke patients. Recommendations for future research include expanding this study with a larger sample size and utilizing more robust sampling techniques such as probability sampling. Pasien yang mengalami stroke memiliki gangguan pada fisik dan psikis yang berakibat pada penurunan kualitas hidup karena ketidakmampuan melakukan fungsi dasar hidup dan aktivitas sehari-hari. Dukungan dan bantuan dari keluarga menjadi salah satu faktor yang dapat mengembalikan kualitas hidup pasien pasca stroke karena tindakan dihargai, dicintai dan diperhatikan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan dukungan keluarga dengan kualitas hidup pasien pasca stroke. Metode penelitian deskriptif korelasi dengan pendekatan cross sectional pada 42 pasien pasca stroke dan menggunakan metode purposive sampling. Hasil penelitian didapati 40 responden (92,2%) berada pada kategori dukungan keluarga tinggi dan 2 responden (4,8%) berada pada kategori dukungan keluarga sedang. Kualitas hidup didapati berada pada kategori yang baik yaitu 42 responden (100%). Hasil uji korelasi spearman rank menunjukan p-value = 0,727 > 0,05. Dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dengan kualitas hidup pasien pasca stroke. Rekomendasi apabila ada penelitian yang akan dilakukan selanjutnya dapat mengembangkan penelitian ini dengan jumlah sampel yang lebih besar dan menggunakan teknik pengambilan sampel yang lebih baik seperti propability sampling.