Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PELATIHAN KESANTUNAN BERBAHASA DI MASA PANDEMI COVID-19 MELALUI MEDIA SOSIAL BAGI REMAJA KARANG TARUNA DI RW 10 PERMATA MANSION DEPOK Pujiati, Tri; Mubarok, Yasir; Dasuki, Mohamad Ramdon; Irwansyah, Irwansyah
Abdi Laksana : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 2 No 3 (2021): Abdi Laksana : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : LPPM Universitas Pamulang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32493/al-jpkm.v2i3.13499

Abstract

Kesantunan berbahasa menjadi hal yang sangat penting dalam upaya mewujudkan generasi milenial yang memiliki kepedulian dalam menggunakan bahasa yang santun. Remaja merupakan tonggak awal dalam menentukan masa depan bangsa ini terutama dalam hal menggunakan bahasa. Hal ini sangat penting karena adanya penggunaan bahasa yang tidak santun akan mampu merusak generasi kita kedepannya terutama generasi milenial saat ini. Salah satu wadah remaja yang bisa merangkul warga remaja di sebuah lingkungan RW adalah remaja karang taruna, salah satunya adalah remaja karang taruna di lingkungan RW 10 Permata Mansion. Remaja karang taruna memiliki peranan yang penting dalam upaya meningkatkan kepedulian remaja dalam menggunakan bahasa di masyarakat. Mitra dalam program ini adalah remaja karang taruna di RW 10 Permata Mansion, Kota Depok.  Masalah utama yang dihadapi oleh mitra adalah kurangnya kepedulian terhadap penggunaan bahasa yang santun di masyarakat. Dampak dari adanya perkembangan teknologi dan video games membuat remaja milenial semakin kurang sopan dan cenderung menggunakan bahasa yang kasar dalam kegiatan berkomunikasi sehari-hari. Hal ini sangat jelas terlihat apalagi di masa Pandemi Covid-19 seperti saat ini dimana remaja sering berkumpul bersama untuk bermain game atau bermain bersama. Terlihat bahwa mereka banyak menggunakan bahasa yang kurang sopan dan kasar. Hal ini tentunya akan memberikan dampak yang buruk apalagi tidak hanya remaja saja yang bercakap-cakap, ada juga anak kecil yang tentunya akan mempengaruhi mereka dalam berbicara. Oleh karena itu, perlu adanya solusi bagi mitra untuk mengikuti kegiatan pelatihan sebagai upaya untuk meningkatkan kesadaran terkait pentingnya kesantunan berbahasa di dalam kegiatan berkomunikasi sehari-hari. Kegiatan ini penting dilakukan di masa Pandemi Covid-19 ini sebagai upaya agar remaja terbiasa untuk menggunakan bahasa yang santun pada saat berbicara di lingkungan masyarakat.
FILSAFAT BAHASA: STUDI BANDING POSISI ANTARA BAHASA INDONESIA DI INDONESIA, BAHASA ARAB DI AL-JAZAIR, DAN BAHASA INGGRIS DI AMERIKA SERIKAT Dasuki, Mohamad Ramdon
Jurnal Sasindo UNPAM Vol. 4 No. 1 (2017): Jurnal Sasindo UNPAM
Publisher : Universitas Pamulang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32493/sasindo.v4i1.%p

Abstract

AbstrakBahasa Indonesia adalah salah satu isi ikrar dan janji sumpah pemuda pada tahun 1928 yang nyaris hampir genap berumur satu abad atau seratus tahun lampau (minus 10 tahun jika dihitung saat ini 2018), adalah fenomena yang fenomenal sebenarnya bagi rakyat dan bangsa ini. Di tengah perjalanan bangsa dan negeri ini yang telah merdeka sejak tahun 1945 lampau, pernah diperjuangkan suatu slogan yang heroik; Satu Bangsa yaitu Bangsa Indonesia, Satu Bahasa yaitu Bahasa Indonesia, dan Tumpah Darah Satu yaitu Tumpah Darah Indonesia. Bagi generasi muda saat ini bila tidak menelusuri perjalanan sejarah bangsa ini tentunya tidak akan mengetahui bahwa bahasa yang kita gunakan adalah bahasa Indonesia, tidaklah seperti saat ini bentuk dan susunannya yang sudah jauh baik dari masa-masa sebelumnya. Bahkan jika menengok sejarah lebih ke belakang, ada suatu ungkapan yang cukup menarik untuk disimak, negeri Indonesia ini memiliki dua hutang besar. Pertama kepada ummat Islam yang telah rela dan mengikhlaskan lima alinea ‘Piagam Jakarta’ untuk dihilangkan, demi utuhnya negeri yang masih muda belia ini, dan yang kedua hutang kepada suku Jawa, karena telah merelakan bahasa nasional yang akan digunakan oleh negeri yang akan lahir (pada saat itu) bukanlah bahasa Jawa yang memiliki penduduk mayoritas atau terbesar di wilayah Indonesia ini, tetapi bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Dengan demikian, sebenarnya menjadi unik seseorang berambut ikal dan berkulit hitam khas Papua dengan lancarnya berbahasa Indonesia, selancar orang Jawa yang masih menggunakan blangkon dan dialek jawanya yang masih kental, serta lancarnya orang Batak dengan aksennya yang masih kentara dengan logat Bataknya, dan suku-suku lain, tapi mampu berkomunikasi dengan bahasa persatuan mereka yang dapat saling mengerti satu dengan lainnya, yaitu Bahasa Indonesia. Tidak hanya itu, fenomena dunia saat ini seperti media sosial yang telah menghubungkan antara manusia Indonesia satu dengan jutaan manusia Indonesia lainnya yang berada di ratusan bahkan mungkin ribuan pulau itu, mampu berkomunikasi dengan satu bahasa yang telah menyatukan antar mereka, yaitu bahasa Indonesia.Namun penulis menilai hampir sebagian besar dari kita semua ini tidak mampu memaknai nilai filosofi bahasa Indonesia itu sendiri, baik diantara berbagai bahasa daerah yang beragam di nusantara ini, maupun diantara bahasa dunia lainnya, seperti bahasa Arab atau Inggris misalnya. Ternyata bahasa Indonesia memiliki nilai historis maupun nilai filosofis tersendiri, yang sebenarnya dapat dijadikan sebagai suatu kajian yang berkelanjutan agar para generasi muda mendatang dapat mengetahui posisi bahasa nasionalnya berada dimana jika dibandingkan dengan bahasa daerah-daerah yang beragam, dan bahasa nasional lainnya.Kata Kunci: Bahasa Indonesia, Nilai Filosofi, dan Bahasa Nasional
BENTURAN PERADABAN: BAHASA DAN BUDAYA DI KANCAH NASIONAL DAN GLOBAL MENCAPAI TITIK KULMINASI (ANALISA WACANA KRITIS) Dasuki, Mohamad Ramdon
Jurnal Sasindo UNPAM Vol. 10 No. 2 (2022): Jurnal Sasindo UNPAM
Publisher : Universitas Pamulang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32493/sasindo.v10i2.59-66

Abstract

Isu benturan peradaban hangat diperbincangkan sejak Samuel Huntington bahas dalam bukunya The Clash of Civilization and the Remaking of World Order  (disampaikan pada pidato tahun 1996) , dan Francis Fukuyama dalam bukunya The End of History and the Last Man tahun 1992, hingga dibahasakan di forum-forum internasional pasca negeri super power Amerika Serikat dinyatakan memimpin dunia setelah jatuhnya rival utama blok timur Uni Sovyet runtuh. Berikutnya muncul kekuatan baru dunia yang akan menyaingi hegemoni barat yaitu kekuatan seperti Confucious-Budha (Cina, Jepang, Korea), Islam, dan lainnya.  Dengan kata lain sejak saat itu (runtuhnya Uni Sovyet) akan terjadi benturan peradaban  dunia antara kekuatan-kekuatan besar dunia. Kekuatan besar dunia seperti KristenYahudi Barat, Confucious-Budha (Cina, Jepang dan Korea), Islam (Timur-Tengah dan Asia), Hidhu-India, dan kekuatan-kekuatan lainnya akan saling bersaing dan berbenturan antara satu dengan lainnya. Perang wacana seperti fenomena perebutan kekuasaan atau saling mengklaim suatu wilayah atau suatu fakta tertentu seperti yang sekarang sedang berlangsung di wilayah: laut Cina selatan utara atau fakta kasus lama Palestina-Israel di tingkat dunia dengan diawali perang tagar sebelum penurunan kekuatan antara kekuatan yang bertikai. Adapun tujuan dari penelitian ini untuk ketahui implikasi yang sulit dihindari dari dinamika perkembangan peradaban dunia dari zaman ke zaman yang menurut penulis adalah implikasi bahasa sebagai alat komunikasi baik lewat media massa maupun media sosial yang menjadi satu-satunya alat untuk mendefinisikan suatu realitas. Sebagaimana bahasa juga satu-satunya alat praktis dalam mengungkapkan nilai-nilai budaya sebagai arena pergulatan makna atau perang wacana. Dengan kata lain kemungkinan tergelincirnya penggunaan dari implikasi bahasa ini sangat terbuka sepanjang masa. Sementara kecenderungan dunia abad ke-21 diantaranya peran kelompok akan semakin menguat dibanding peran negara yang sebenarnya lebih luas dan dominan, semakin menggejala sehingga menambah frekuensi benturan peradaban di berbagai pelosok dunia semakin nyata. Baik itu kelompok suatu agama, kelompok organisasi massa, kelompok sosial berlabel ini dan itu akan semakin beragam lebih nyata mengemuka dalam kehidupan sosial saat ini. Oleh karena itu metode yang tepat hindari seringnya gesekan sosial yang seharusnya tidak perlu terjadi justeru kini seringkali terjadi oleh karena sebab sepele yang diawali dengan celetukan omongan, celotehan di medsos, saling sindir lempar ucapan kata-kata hingga akhirnya menjadi alasan untuk menyerang kelompok lain hingga menjatuhkan pihak lain.Hasil dari kesimpulan fenomena seperti tersebut di atas atau penggunaan bahasa yang tidak tepat menjadi penyebab suatu tawuran, bentrokan, saling adu mengadu ke pihak berwajib hingga pengerahan massa dan usaha menjatuhkan suatu rezim misalnya. Fenomena yang sebelumnya relatif masih jarang ini terjadi sebelum semaraknya alat komunikasi seperti Handphone atau telepon genggam ini dipegang oleh sebagian besar masyarakat tak terkecuali dari sejak anakanak hingga orang tua kini telah dijajah oleh gudjet atau hp. Baik dalam bentuk WA, facebook. Twitter, instagram, messenger atau telegram semakin massif dan tak terhindarkan lagi baik dalam skala lokal, nasional, bahkan internasional tak terkecuali.