Agustiansyah
Unknown Affiliation

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

PEMBUATAN KOMPOS TAKAKURA DAN PESTISIDA NABATI UNTUK PENINGKATAN PRODUKTIVITAS KAKAO DI KECAMATAN GEDONG TATAAN KABUPATEN PESAWARAN Adhinugraha, Qudus Sabha; Agustiansyah; Chandra, David; Ramires, Ryano
Jurnal Pengabdian Fakultas Pertanian Universitas Lampung Vol. 5 No. 1 (2026): Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat FP Unila, Edisi Maret 2026
Publisher : Agriculture Faculty, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jpfp.v5i1.12128

Abstract

Pertanian organik merupakan sistem budidaya yang mengandalkan bahan-bahan alami tanpa penggunaan input sintetis seperti pupuk kimia dan pestisida sintetis. Praktik pertanian organik masih belum banyak diterapkan di tingkat rumah tangga atau komunitas petani skala kecil, khususnya karena keterbatasan pengetahuan dan keterampilan dalam memproduksi input organik secara mandiri. Untuk menjawab tantangan tersebut, kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan dalam bentuk Sekolah Lapang dengan dua fokus utama, yaitu pembuatan kompos Takakura dan pembuatan pestisida nabati. Kompos Takakura merupakan metode pengomposan rumah tangga yang praktis dan cepat, menggunakan bahan-bahan sederhana seperti dedak, gula, dan mikroorganisme lokal. Metode ini sangat efektif dalam mengurangi limbah organik dan menghasilkan pupuk yang bermanfaat untuk pertanian. Sementara itu, pestisida nabati adalah pestisida yang diracik dari tumbuhan lokal seperti daun sirsak, bawang putih, dan serai, yang bersifat biodegradable dan aman bagi lingkungan serta manusia. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dalam mengelola limbah organik menjadi kompos, serta menyediakan alternatif pengendalian hama secara alami melalui pestisida nabati. Luaran yang diharapkan meliputi meningkatnya pengetahuan dan keterampilan peserta dalam praktik pertanian organik, terbentuknya agen perubahan di tingkat lokal, serta tersusunnya modul pelatihan yang dapat direplikasi di wilayah lain. Dengan demikian, kegiatan ini menjadi langkah konkret dalam mendukung pertanian berkelanjutan berbasis pemberdayaan masyarakat.