Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Natural Dye Plants for Traditional Weaving in Sintang and Sambas Regencies, West Kalimantan: TUMBUHAN PEWARNA ALAMI UNTUK TENUN TRADISIONAL DI KABUPATEN SINTANG DAN KABUPATEN SAMBAS KALIMANTAN BARAT Muflihati; Wahdina; Siti Masitoh Kartikawati; Reine Suci Wulandari
Media Konservasi Vol 24 No 3 (2019): Media Konservasi Vol. 24 No. 3 Desember 2019
Publisher : Department of Forest Resources Conservation and Ecotourism - IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (427.746 KB) | DOI: 10.29244/medkon.24.3.225-236

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengkaji jenis-jenis tumbuhan pewarna alami yang digunakan oleh penenun tradisional Sintang dan Sambas Kalimantan Barat. Kajian meliputi jenis-jenis tumbuhan yang digunakan sebagai pewarna alami dan keberadaannya di alam sekitar tempat tinggal masyarakat. Para penenun di Kabupaten Sintang dan Sambas sejak dulu telah menggunakan jenis-jenis tumbuhan pewarna alami yang diambil dari hutan di sekitar tempat tinggalnya. Namun degradasi dan konversi lahan hutan menyebabkan keberadaan tumbuhan pewarna alami mulai berkurang. Akibatnya masyarakat mulai sulit mendapatkan tumbuhan pewarna di alam. Selain itu para penenun menggunakan pewarna sintetik karena lebih murah dan praktis. Saat ini kecenderungan kembali ke alam membuat kebutuhan tumbuhan pewarna alami mulai dipertimbangkan kembali. Penggunaan tumbuhan pewarna alami dalam tenun tradisional menambah nilai jual dan keunikannya terutama di pasar internasional. Studi etnobotani dengan wawancara semi-terstruktur dilakukan untuk mengkaji tumbuhan pewarna alami yang digunakan dalam tenun tradisional Sintang dan Sambas untuk menyediakan pewarna alami ramah lingkungan secara berkelanjutan. Responden spesifik dipilih menggunakan teknik Snowball Sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penenun Sambas menggunakan 30 jenis tumbuhan sebagai pewarna alami, dan penenun Sintang menggunakan 11 jenis. Secara keseluruhan terdapat 36 jenis tumbuhan yang digunakan untuk tenun tradisional Sintang dan Sambas, lima jenis di antaranya digunakan baik di Sintang maupun Sambas. Indeks Nilai Penting tumbuhan pewarna berkisar antara tinggi sampai rendah. Beberapa jenis tidak ditemukan lagi di sekitar tempat tinggal masyarakat. Engkerebang (Psychotria megacoma), emarek (Symplocos ophirensis), lengkar (Litsea angulata), belian (Eusideroxylon zwageri), dan kayu kuning (Fibraurea chloroleuca) adalah jenis tumbuhan pewarna alami yang penting dan sudah sulit ditemukan sehingga perlu dilakukan konservasi lebih lanjut. Kata kunci: pewarna alami, etnobotani, inventarisasi tumbuhan, tenun tradisional
Kearifan Lokal Masyarakat dalam Pengelolaan Madu Tikung di Desa Ensabang Kecamatan Sepauk Kabupaten Sintang: Local Knowledge in The Management of Tikung Honey in Ensabang Village, Sepauk Sub-District, Sintang District Pransiska, Desi Natalia; Kartikawati, Siti Masitoh; Muflihati
PERENNIAL Vol 21 No 1 (2025): Vol. 21 No. 1, April 2025
Publisher : Forestry Faculty of Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24259/perennial.v21i1.35461

Abstract

Knowledge is essential for people to adapt to nature and becomes a cultural heritage in managing existing natural resources with knowledge, customary, and cultural norms in the community's concept of thinking. Forest honey from Ensabang Village, Sepauk District, Sintang Regency, is honey produced by Apis dorsata bees, which is managed by the community using the Tikung technique, the management of which is based on the community's local knowledge and customary rules. This research aims to examine forms of local knowledge in the management of Tikung honey. This research used interview techniques with all Tikung honey farmers, and the data was analyzed using qualitative descriptive analysis. The study results show that the management of Tikung honey is carried out individually. The Tikung is placed on the river bank and the ground, and the types of wood used to make Tikung are Tembesuk (Fagraea fragrans) and Kawi (Shorea balangeran). Harvesting forest honey is carried out at night, and packaging and marketing are carried out directly by honey farmers. The traditional rule is that people are prohibited from burning near nest trees, destroying and cutting down nest trees and food trees, and putting Tikung in other people's trees and gardens. There are written sanctions and fines for those who steal and claim other people's Tikung.