MEDIA KONSERVASI
Vol 24 No 3 (2019): Media Konservasi Vol. 24 No. 3 Desember 2019

Natural Dye Plants for Traditional Weaving in Sintang and Sambas Regencies, West Kalimantan: TUMBUHAN PEWARNA ALAMI UNTUK TENUN TRADISIONAL DI KABUPATEN SINTANG DAN KABUPATEN SAMBAS KALIMANTAN BARAT

Muflihati (Unknown)
Wahdina (Unknown)
Siti Masitoh Kartikawati (Unknown)
Reine Suci Wulandari (Unknown)



Article Info

Publish Date
18 Sep 2019

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengkaji jenis-jenis tumbuhan pewarna alami yang digunakan oleh penenun tradisional Sintang dan Sambas Kalimantan Barat. Kajian meliputi jenis-jenis tumbuhan yang digunakan sebagai pewarna alami dan keberadaannya di alam sekitar tempat tinggal masyarakat. Para penenun di Kabupaten Sintang dan Sambas sejak dulu telah menggunakan jenis-jenis tumbuhan pewarna alami yang diambil dari hutan di sekitar tempat tinggalnya. Namun degradasi dan konversi lahan hutan menyebabkan keberadaan tumbuhan pewarna alami mulai berkurang. Akibatnya masyarakat mulai sulit mendapatkan tumbuhan pewarna di alam. Selain itu para penenun menggunakan pewarna sintetik karena lebih murah dan praktis. Saat ini kecenderungan kembali ke alam membuat kebutuhan tumbuhan pewarna alami mulai dipertimbangkan kembali. Penggunaan tumbuhan pewarna alami dalam tenun tradisional menambah nilai jual dan keunikannya terutama di pasar internasional. Studi etnobotani dengan wawancara semi-terstruktur dilakukan untuk mengkaji tumbuhan pewarna alami yang digunakan dalam tenun tradisional Sintang dan Sambas untuk menyediakan pewarna alami ramah lingkungan secara berkelanjutan. Responden spesifik dipilih menggunakan teknik Snowball Sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penenun Sambas menggunakan 30 jenis tumbuhan sebagai pewarna alami, dan penenun Sintang menggunakan 11 jenis. Secara keseluruhan terdapat 36 jenis tumbuhan yang digunakan untuk tenun tradisional Sintang dan Sambas, lima jenis di antaranya digunakan baik di Sintang maupun Sambas. Indeks Nilai Penting tumbuhan pewarna berkisar antara tinggi sampai rendah. Beberapa jenis tidak ditemukan lagi di sekitar tempat tinggal masyarakat. Engkerebang (Psychotria megacoma), emarek (Symplocos ophirensis), lengkar (Litsea angulata), belian (Eusideroxylon zwageri), dan kayu kuning (Fibraurea chloroleuca) adalah jenis tumbuhan pewarna alami yang penting dan sudah sulit ditemukan sehingga perlu dilakukan konservasi lebih lanjut. Kata kunci: pewarna alami, etnobotani, inventarisasi tumbuhan, tenun tradisional

Copyrights © 2019






Journal Info

Abbrev

konservasi

Publisher

Subject

Earth & Planetary Sciences Education

Description

Media Konservasi is a scientific journal in the field of Natural Resources and Environmental Conservation and the first in Indonesia to discuss issues about conservation. Media Konservasi is published three times a year in April, August, and December. Media Konservasi is committed to publishing good ...