Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : JURNAL BIOMEDIK

Tatalaksana Acute Respiratory Distress Syndrome Pada Pasien Dewasa Dengan Steroid Masikome, Jessica N.; Laihad, Mordekhai L.; Lalenoh, Diana C.
JURNAL BIOMEDIK : JBM Vol 13, No 1 (2021): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.13.1.2021.31797

Abstract

Abstract: Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS) is a non-cardiogenic pulmonary edema caused by several risk factors and is an emergency case. ARDS characterized by acute intervals, alveolar edema, acute hypoxemia, decreased pulmonary compliance and multi-organ dysfunction or decreased organ function. ARDS often treated in an intensive care unit along with underlying factors. Although many medical treatments ineffective in treating ARDS, corticosteroids can reduce fluid in the alveolar capillaries and the attachment of neutrophils to endothelial capillaries. Aim of this study was to look at indicators of ARDS with steroids looking at the mortality rate, ventilator-free days, and length of stay for ARDS with steroids. Search data using three databases, namely Pubmed, Sciencedirect, Google Scholar. Ten literatures met the inclusion and exclusion criteria. Consisted of one retrospective observational study, one analytical retrospective study, three randomized control trials and five cohort studies. Total sample in 10 literatures was 1633 people for the steroid therapy group and 1303 for the control group. Result of a literature review study showed that steroids had less impact on reducing mortality in ARDS patients, steroids had an effect on increasing the number of ventilator-free days and steroids did not have an impact on increasing length of stay.Keywords: Acute Respiratory Distress Syndrome, Steroid Abstrak: Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS) merupakan edema pulmoner non-kardiogenik yang disebabkan beberapa faktor risiko dan merupakan kasus kegawatdaruratan. Karakteristik ARDS terjadi dalam selang waktu pendek atau akut, edema alveolar, hipoksemia akut, penurunan komplians paru serta multiple organ disfunction atau penurunan fungsi organ. ARDS sering dirawat dalam ruang rawat intensif beserta faktor-faktor yang mendasari. Meskipun banyak sekali pengobatan medikamentosa yang tidak efektif dalam pengobatan ARDS, namun kortikosteroid mampu mengurangi tembusnya cairan pada membran kapiler alveolar dan perlekatan neutrofil pada kapiler endotel. Tujuan dari studi ini adalah mengetahui tatalaksana ARDS dengan steroid dengan melihat angka mortalitas, ventilator free days, dan length of stay dari tatalaksana ARDS dengan steroid. Pencarian data menggunakan tiga database yaitu Pubmed, Sciencedirect, Google Scholar. Sepuluh literature yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Terdiri dari satu penelitian retrospective observational, satu penelitian retrospective analysis, tiga penelitian randomized control trial dan lima penelitian cohort study. Jumlah sampel penelitian pada 10 literature tersebut adalah 1633 orang untuk grup terapi steroid dan 1303 untuk grup kontrol. Hasil penelitian literature review menunjukkan steroid kurang memberi dampak dalam mengurangi angka mortalitas pada pasien ARDS, steroid memberi dampak dalam peningkatan angka ventilator free days dan steroid tidak memiliki dampak yang bermakna pada peningkatan length of stay.Kata Kunci: Acute Respiratory Distress Syndrome, Steroid.
Penanganan Nyeri Pascabedah Menggunakan Ketamin Dosis Rendah Hutagalung, Yosafat F.; Tambajong, Harold; Laihad, Mordekhai L.
Jurnal Biomedik : JBM Vol 13, No 2 (2021): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.13.2.2021.31801

Abstract

Abstract: Postoperative pain is a pain experienced by a patient after undergoing a surgical procedure. Postoperative pain management is an important aspect of anesthetic care. One of the recommended drugs in the management of postoperative pain is ketamine. Ketamine is a non-competitive NMDA antagonist that has been used as an analgesic for the last 3 decades. The purpose of this study was to determine how postoperative pain management using low doses of ketamine. The research method used in this study is literature review by searching data using three databases, namely Pubmed, ClinicalKey and Google Scholar. The keywords used were postoperative pain AND low dose ketamine. The results of the literature review showed that the use of low-dose ketamine resulted in lower pain scores at 1-12 hours post surgery. Low doses of ketamine also significantly reduced the mean time to administer the first postoperative analgesic and did not cause serious side effects to patients. In conclusion, low-dose ketamine has been shown to be effective in the management of acute postoperative pain by recommending a one-time IV bolus dose with a subanesthetic dose (0.35 mg / kg). The usage of low doses of ketamine causes mild side effects and safe to use for post-surgical analgesics.Key words: postoperative pain, low dose ketamine, pain score, analgesic  Abstrak: Nyeri pascabedah merupakan nyeri yang dialami seorang pasien setelah menjalani prosedur bedah. Penanganan nyeri pascabedah merupakan aspek yang penting dalam perawatan anestesi. Salah satu obat pilihan dalam penanganan nyeri pascabedah adalah ketamin. Ketamin merupakan antagonis NMDA non kompetitif yang telah digunakan sebagai analgesic selama 3 dekade terakhir. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana penanganan nyeri pascabedah menggunakan ketamin dosis rendah. Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah  literature review dengan pencarian data menggunakan tiga database yaitu Pubmed, ClinicalKey dan Google Scholar. Kata kunci yang digunakan yaitu nyeri pascabedah AND ketamin dosis rendah. Hasil dari penelitian literature review menunjukkan penggunaan ketamin dosis rendah menghasilkan skor nyeri yang lebih rendah pada 1-12 jam pasca bedah. Ketamin dosis rendah juga menurunkan waktu rata-rata pemberian analgesik pasca operasi pertama secara signifikan dan tidak menimbulkan efek samping yang serius kepada pasien. Sebagai simpulan, ketamin dosis rendah terbukti efektif pada penanganan nyeri pascabedah akut dengan rekomendasi dosis bolus IV 1 kali dengan dosis subanestetik (0,35 mg / kg). Penggunaan ketamin dosis rendah menimbulkan efek samping yang ringan dan dapat menghemat pemakaian analgesik pasca bedah.Kata kunci: nyeri pascabedah, ketamin dosis rendah, skor nyeri, analgesik