This Author published in this journals
All Journal e-CliniC
Watuna, Monica C.
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Hubungan antara tingkat pendidikan orang tua dengan keparahan infeksi virus dengue pada anak Di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Watuna, Monica C.; Mantik, Max F.J.; Rampengan, Novie H.
e-CliniC Vol 4, No 2 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i2.14483

Abstract

Abstract: The infection of dengue virus is transmitted through the vector bite of mosquito Stegomiya aegipty and Stegomiya albopictus, The most dominant in Indonesia is serotype DEN-3. There are several factors that cause the transmission of dengue virus infection, they are: agent factor, intermediary vector, host factor and environmental factor. Prevention is needed to avoid the occurrence of disease and severity of dengue virus infection. Prevention is related with host factor, that is knowledge, attitude, behavior and action taken and one of the factors that influence this is education level. The aim of this research is to find out the correlation between the education level of parents with the severity of dengue virus infection on children in Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado. The method of this research is an analytic retrospective research with cross-sectional approach, the data was obtained by collecting data of medical records as secondary data. The data was analyzed by Gamma correlation test, obtained the value of p = 0.011 stating that there is a correlation between father's education level and severity of dengue virus infection. And also obtained the value of p = 0.002 stating that there is a correlation between mother's education level and severity of dengue virus infection.Keywords: education level, dengue virus infection, children. Abstrak: Infeksi virus dengue ditularkan melalui gigitan vektor nyamuk Stegomiya aegipty dan Stegomiya albopictus, di Indonesia dengan serotype DEN-3 yang paling dominan. Terdapat beberapa faktor yang memegang peranan pada penularan infeksi virus dengue yaitu faktor agent, vektor perantara, faktor host dan faktor lingkungan. Pencegahan diperlukan untuk mencegah terjadinya penyakit dan keparahan infeksi virus dengue. Pencegahan berkaitan dengan faktor host yaitu pengetahuan, sikap, perilaku serta tindakan yang dilakukan dan salah satu faktor yang memengaruhi hal tersebut yaitu tingkat pendidikan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara tingkat pendidikan orang tua dengan keparahan infeksi virus dengue pada anak di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Metode penelitian ini merupakan penelitian analitik retrospektif dengan pendekatan potong lintang, data diperoleh dengan cara mengumpulkan data rekam medik sebagai data sekunder. Data dianalisis dengan uji korelasi Gamma, diperoleh nilai p = 0,011 yang menyatakan ada hubungan yang bermakna antara tingkat pendidikan ayah dan keparahan infeksi virus dengue. Dan diperoleh juga nilai p = 0,002 yang menyatakan ada hubungan yang bermakna antara tingkat pendidikan ibu dan keparahan infeksi virus dengue. Kata kunci: tingkat pendidikan, infeksi virus dengue, anak
Implementasi Critical Care Outreach Team (CCOT) di Rumah Sakit Sentra Medika Minahasa Utara Watuna, Monica C.; Lantang, Eka Y.
e-CliniC Vol. 14 No. 1 (2026): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v14i1.64939

Abstract

Abstract: Clinical deterioration among hospitalized patients often occurs suddenly and can be prevented through early identification and timely intervention. The Critical Care Outreach Team (CCOT), as part of the Rapid Response System (RRS), is designed to detect and manage clinical deterioration before patients require admission to the Intensive Care Unit (ICU). This study aimed to describe the implementation of CCOT at Sentra Medika Hospital, North Minahasa, during the period from August 2024 to August 2025. A descriptive observational design was employed, with the researcher acting as a non-participant observer. Data collected included patient demographics, Early Warning Score (EWS) at admission and discharge, and the effectiveness of CCOT interventions based on patient stability, ICU readmission, code blue events, and mortality. Among 136 monitored patients, the highest proportion (30.8%) were aged 56–65 years and presented with moderate to high EWS upon admission. Following CCOT intervention, the average EWS decreased from 5.9 to 4.5. A total of 94.1% of patients remained stable in the ward, 3.7% were readmitted to the ICU, 1.5% experienced code blue events, and 0.7% died. In conclusion, the implementation of CCOT at this hospital has proven effective in the early detection of clinical deterioration and timely intervention, contributing to improved patient safety and service efficiency. Keywords: Early Warning Score (EWS); Rapid Response System (RRS); Critical Care Outreach Team (CCOT); clinical deterioration; early intervention   Abstrak: Kemunduran kondisi pasien rawat inap sering kali terjadi secara tiba-tiba dan dapat dicegah melalui identifikasi dini serta intervensi cepat. Critical Care Outreach Team (CCOT) merupakan bagian dari sistem Rapid Response System (RRS) yang bertujuan mendeteksi dan menangani kemunduran kondisi sebelum pasien membutuhkan perawatan di Intensive Care Unit (ICU). Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran implementasi CCOT di Rumah Sakit Sentra Medika Minahasa Utara selama periode Agustus 2024 hingga Agustus 2025. Metode penelitian menggunakan desain deskriptif observasional. Peneliti berperan sebagai pengamat yang mencatat data demografis pasien, skor Early Warning Score (EWS) saat masuk dan keluar, serta efektivitas intervensi CCOT berdasarkan stabilitas pasien, kebutuhan masuk ICU ulang, kejadian code blue, dan kematian. Hasil penelitian mendapatkan dari 136 pasien yang dipantau, persentase tertinggi 30,8% di usia 56-65 tahun dan memiliki skor EWS sedang hingga tinggi saat masuk. Setelah intervensi CCOT, terjadi penurunan skor EWS rerata dari 5,9 menjadi 4,5. Sebanyak 94,1% pasien tetap stabil di bangsal, 3,7% kembali ke ICU, 1,5% mengalami code blue, dan 0,7% meninggal. Simpulan penelitian ini ialah implementasi CCOT di rumah sakit ini telah berjalan dengan baik dalam mendeteksi dini kemunduran kondisi pasien dan memberikan intervensi yang tepat waktu, sehingga meningkatkan keselamatan dan efisiensi pelayanan. Kata kunci: Early Warning Score; Rapid Response System; Critical Care Outreach Team (CCOT); kemunduran kondisi; intervensi dini