Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Informed consent di Instalasi Gawat Darurat RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Wagiu, Christilia G.; Kristanto, Erwin G.; Lumunon, Theo
Jurnal Biomedik : JBM Vol 9, No 1 (2017): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.9.1.2017.15321

Abstract

Abstract: According to the Minister of Health regulation No. 290 Year 2008 article 1 which is relevant to medical intervention issues, informed consent has to be signed by the patient prior to any medical intervention after the patient has been informed completely about the purpose and the risk of certain intervention. In general, medical doctors already admits that informed consent is an important part of the ethical code of their profession. Albeit, in certain circumstances such as in emergency cases with life or physical handicap threatening, the medical doctors are demanded to do medical intervention ‘ignoring’ the informed consent. This study was aimed to obtain the implementation of informed consent in Emergency Care Unit at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado, the central referral hospital in East Indonesia. In this study, we used qualitative method through interview, direct field observation, and document observation as secondary data. The results showed that informed consent was implemented at the Emergencey Care Unit, however, in emergency cases, informed consent was given orally, followed by signing it as soon as the intervention had been completely performed. Conclusion: Informed consent was implemented in every medical intervention at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital including the Emergency Care Unit.Keywords: informed consent, emergency care unitAbstrak: Menurut ketentuan Permenkes No. 290 tahun 2008 pasal 1 yang mengatur tentang tindakan medik disebutkan bahwa ijin melakukan tindakan medik diberi oleh pasien setelah terlebih dahulu pasien mendapat penjelasan tentang tujuan dan manfaat maupun risiko dari tindakan medik tersebut. Umumnya dokter telah mengetahui dan mengakui bahwa persetujuan tindakan medik atau informed consent ialah bagian kode etik profesi sebelum diatur dalam ketentuan undang-undang tentang rumah sakit, praktik kedokteran, maupun peraturan menteri kesehatan. Dalam keadaan tertentu dokter juga dituntut untuk dapat segera melaksanakan tindakan medis dan mengesampingkan informed consent antara lain dalam keadaan gawat darurat dimana terdapat ancaman kematian atau kecacatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyelenggaran persetujuan tindakan medik di Instalasi Gawat Darurat RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou yang merupakan rumah sakit pusat rujukan di Indonesia Timur. Pada penelitian ini digunakan metode kualitatif melalui wawancara, pengamatan langsung di lapangan, dan observasi dokumen sebagai data sekunder. Hasil penelitian mendapatkan bahwa informed consent di Instalasi Gawat Darurat masih tetap dipakai, walaupun pada keadaan gawat darurat persetujuan diberikan secara lisan baru setelah selesai tindakan baru dimintakan tanda tangan pada lembar informed consent. Simpulan: Informed consent tetap diperlukan untuk setiap tindakan kedokteran yang dilakukan di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou termasuk pada Instalasi Gawat Darurat.Kata kunci: informed consent, emergency unit care
Tingkat Refleksi Pembelajaran Mahasiswa Angkatan 2018 Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Menggunakan Skala Reflection-In-Learning Polii, Vanessa G.; Mariki, Windy M. V.; Wagiu, Christilia G.
e-Biomedik Vol 8, No 1 (2020): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v8i1.28396

Abstract

Abstract: Medical students need to know and apply reflection in preparing to become a professional in the health field, especially becoming a doctor. A doctor must be prepared to a long life study, therefore, reflection in learning can be a useful parameter in the professionalism of doctors. This study was aimed to test the reflection in learning of medical students at Sam Ratulangi University batch of 2018. This was a quantitative descriptive study. Respondents were 150 medical students batch of 2018. The Indonesian adaptation reflection-in-learning scale questionnaire was used to test the level of learning reflection of respondents. The results showed that of the reflection in learning, "restricted" was the most chosen indicator (36.4%), followed by "partial" indicator (30.2%), "ample" indicator (26.4%), "minimal" indicator (3.9%), and "maximal" indicator (3.1%). In conclusion, the ability of reflection in the learning of students of Faculty of Medicine of Sam Ratulangi University batch of 2018 was still classified as low level namely in the category of "restricted". Therefore, an introduction to the concept of reflection in learning is needed to improve the learning process of the student.Keywords: reflection-in-learningscale,medicalstudents,reflection Abstrak: Mahasiswa kedokteran perlu mengetahui dan menerapkan refleksi dalam memper-siapkan diri menjadi seorang profesional di bidang kesehatan khususnya menjadi seorang dokter. Seorang dokter harus siap untuk belajar sepanjang hayat, oleh karena itu refleksi dalam belajar dapat menjadi parameter yang berguna dalam profesionalisme dokter. Penelitian ini bertujuan untuk menguji refleksi dalam pembelajaran mahasiswa angkatan 2018 Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi. Jenis penelitian ialah deskriptif kuantitatif. Responden ialah 150 mahasiswa pendidikan dokter angkatan 2018, menggunakan kuesioner skala reflection-in-learning adaptasi Bahasa Indonesia yang disusun untuk menguji tingkat refleksi pembelajaran. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa kemampuan refleksi dalam pembelajaran terbanyak dipilih pada indikator “terbatas” (36,4%), diikuti indikator “sebagian” (30,2%), indikator “cukup” (26,4%), indikator “minimal” (3,9%), dan indikator “maksimal” (3,1%). Simpulan penelitian ini ialah kemampuan refleksi dalam pembelajaran mahasiswa angkatan 2018 Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi masih tergolong pada tingkat rendah yaitu kategori “terbatas”. Diperlukan pengenalan terhadap konsep refleksi untuk meningkatkan pembelajaran mahasiswa. Kata kunci: skala refleksi dalam pembelajaran, mahasiswa kedokteran, refleksi
Gambaran Hasil CT-Scan Toraks pada Pasien Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) Malaru, Claudia R. E.; Rondo, Alfa G. E. Y.; Wagiu, Christilia G.
e-CliniC Vol 9, No 1 (2021): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v9i1.32416

Abstract

Abstract: Coronavirus disease 2019 (COVID-19) is an infectious disease caused by severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2). Indonesia reported its first case in March 2, 2020. Cases are increasing and spreading rapidly throughout Indonesia. One of the main imaging modalities for examination of COVID-19 is chest computed tomography scan (CT-scan) which plays an important role in detection, evaluation of severity, and follow-up of disease course. This study was aimed to obtain the description of CT scan results in patients with COVID-19. This was a literature review study using three databases, namely Pubmed, ClinicalKey, and ScienceDirect. The keywords used were COVID-19 AND Chest CT. Based on inclusion and exclusion criteria, there were 10 literatures selected. It was found that chest CT results could accurately evaluate the features and extent of lung lesions. The typical CT-scan results were ground-glass opacities (GGO), GGO with mixed consolidation, adjacent pleural thickening, interlobular septal thickening, and air bronchogram. Based on age, sex, and comorbidities, there was not any significant differences in chest CT findings. In conclusion, GGO, air bronchogram, and consolidation were found in chest CT-scan of COVID-19 patients. Meanwhile, based on age, sex, and comorbidities there were no significant differences in chest CT-scan.Keywords: COVID-19, chest CT-scan Abstrak: Coronavirus disease 2019 (COVID-19) merupakan suatu penyakit menular yang disebabkan oleh severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2). Indonesia melaporkan kasus pertama pada tanggal 2 Maret 2020. Kasus meningkat dan menyebar dengan cepat di seluruh wilayah Indonesia. Salah satu modalitas pencitraan utama yang menjadi pilihan untuk pemeriksaan COVID-19 ialah Computed Tomography Scan (CT-scan) toraks yang berperan penting dalam deteksi, evaluasi keparahan, dan tindak lanjut perjalanan penyakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran hasil CT-scan pada pasien COVID-19. Jenis penelitian ialah literature review dengan pencarian data menggunakan tiga database yaitu Pubmed, ClinicalKey, ScienceDirect. Kata kunci yang digunakan yaitu COVID-19 AND Chest CT. Hasil seleksi berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi mendapatkan 10 literatur. Didapatkan hasil CT-scan toraks dapat secara akurat mengevaluasi fitur dan luas lesi paru dan CT-scan yang khas ialah ground-glass opacities (GGO), GGO dengan konsolidasi campuran, penebalan pleura yang berdekatan, penebalan septum interlobular, dan bronkogram udara. Pada temuan CT-scan toraks berdasarkan usia, dan jenis kelamin tidak didapatkan perbedaan bermakna. Simpulan penelitian ini ialah terdapat GGO, air bronchogram, dan konsolidasi pada CT-scan toraks pasien COVID-19 sedangkan berdasarkan usia, jenis kelamin, dan komorbid tidak ditemukan perbedaan bermakna.Kata kunci: COVID-19, CT-scan toraks