Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

THE EVALUATION OF TREATMENT PROFILE, COSTS AND CLINICAL OUTCOME USE OF HUMAN INSULIN AND ANALOGUE OF DM TYPE 2 BPJS PATIENT AT RSUD PASAR REBO IN PERIODE 0F 2016—2017 Sari, Dwi Puspita; Anggriani, Yusi; L, Dian Ratih
Preventif: Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 10, No 1 (2019): Juni
Publisher : Tadulako University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (896.476 KB)

Abstract

ABSTRAK Diabetes Melitus (DM) merupakan sekelompok penyakit metabolik dengan karakteristik terjadinya peningkatan kadar gula darah (hiperglikemi), yang terjadi akibat kelainan sekresi insulin, aktivitas insulin dan keduanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui outcome klinis dan profil pengobatan pasien DM di RSUD Pasar Rebo serta mengetahu perbandingan biaya pengobatan DMT2 antara pasien yang menggunakan insulin manusia dan insulin analog. Analisis ini menggunakan variabel independen yaitu insulin manusia tunggal, insulin manusia + oral DM, insulin manusia + analog + oral DM, insulin analog tunggal, dan insulin analog + oral DM. Variabel dependennya adalah outcome klinis yaitu GDP, GDPP dan HBA1C. Sampel penelitian ini adalah pasien dengan diagnosa DMT2 rawat jalan dengan terapi insulin, baik insulin analog dan insulin manusia pada periode Januari 2016?Desember 2017 dengan jaminan BPJS dan minimum tiga kali kunjungan selama dua tahun di RSUD Pasar Rebo. Perhitungan minimum sampel berdasarkan rumus Krejcie-Morgan. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan formulir yang menunjukan hasil terapi dengan nilai GDP, GDPP dan HBA1C, formulir yang menunjukan profil pengobatan DM, Non DM dan Insulin, dan formulin profil biaya. Metode statistik yang digunakan pada penelitian ini adalah uji statistik non-parametrik Kruskal Wallis. Hasil penelitian menunjukan profil pengobatan berdasarkan jenisnya penggunaan insulin analog pada tahun 2016 sampai 2017 sebesar (44,6%) bila dibandingkan dengan insulin manusia yang hanya (9,8%). Penggunaan insulin short acting pada tahun 2016 sebesar 39,5% sedangkan tahun 2017 lebih banyak sebesar 55,8%. Insulin dengan merk Lantus paling banyak digunakan pada tahun 2016 sebesar 42,36% dan Humulin R terbesar pada tahun 2017 sebanyak 36,68%. Secara outcome klinis penggunaan kelima jenis insulin memberikan perbedaan yang signifikan terhadap nilai HBA1C namun hanya pada jenis insulin manusia+ADO saja yang dapat memberikan perbedaan pada nilai GDPP. Rata-rata biaya insulin paling murah adalah jenis insulin manusia+ADO yaitu sebesar Rp 588.541,-Kata kunci : DMT2, Insulin Analog, Insulin Manusia,  BPJS, Pasien Rawat Jalan,  Outcome Klinis ABSTRACTDiabetes Mellitus (DM) is a group of metabolic diseases characterized by an increase in blood sugar levels (hyperglicemia), which occurs due to abnormal insulin secretion and insulin activity or both. This study aims to determine the clinical outcome and treatment profile of Diabetes Mellitus patients in Pasar Rebo Hospital and to know the cost comparison of  DMT2 treatment between patients using human insulin and analog insulin. This analysis uses independent variables such as single human insulin, human insulin + oral DM, human insulin + analog + oral DM, single analog insulin, and insulin analog + oral DM. The dependent variables are clinical outcomes such as GDP, GDPP and HBA1C. The sample of this study were outpatient patients diagnosed with DMT2 with insulin therapy, both insulin analog and human insulin in the period of January 2016 to December 2017 with BPJS guarantee and a minimum of three visits over two years in Pasar Rebo Hospital. The minimum sample calculation is based on the Krejcie-Morgan formula. Data collection is done by using a form that shows the results of therapy with GDP, GDPP and HBA1C, a form that shows the treatment profile of DM, Non DM and Insulin, and the cost profile form. The statistical method used in this study was the Kruskal Wallis non-parametric statistical test. The results showed that the treatment profile based on its type of analog insulin use in 2016 and 2017 amounted to (44,6%) when compared to human insulin which was only (9,8%). The use of short-acting insulin in 2016 was (39,5%) while in 2017 it was more than (55,8%). Lantus insulin the most used brand in 2016 was (42,36%) and Humulin R was most used in 2017 with (36,68%). In clinical outcome of the use of the five types of insulin gives a significant difference to the value of HBA1C but only in the type of human insulin + ADO can make a difference in the value of GDPP. The lowest average cost of insulin is a type of human insulin + ADO that is Rp. 588,541.- Keywords : Diabetes Melitus, Analog Insulin, Human Insulin, BPJS, Outpatients, Clinical Outcomes
Evaluasi Kerasionalan dan Switch Therapy Antibiotik pada Pasien Anak Pneumonia dan Pasien Tifoid di Ruang Rawat Inap Anak di RS Bhakti Asih Tangerang Banten Periode Januari-Maret 2018 Handika, Dede; L, Dian Ratih; R, Hesty Utami
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 3, No 8 (2023): Volume 3 Nomor 8 (2023)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (309.024 KB) | DOI: 10.33024/mahesa.v3i8.10765

Abstract

ABSTRACT Infectious diseases are still a medical problem that is very important because of the high mortality rate. Children are very susceptible to infection including pneumonia and typhoid. Both of these diseases recorded increased from year to year. The main therapy for both diseases is antibiotics. This study aims to evaluate the rationality of antibiotic use using the Gyssens method and analysis of the implementation of antibiotic therapy switches (intravenous antibiotic replacement to oral) in patients with pneumonia and typhoid. This study is descriptive analytic with cross sectional study design.The number of antibiotics that are most widely used for both diseases are the third generation cephalosporin antibiotics. The results of the evaluation of the rationality of antibiotics in Bhakti Asih Hospital are not yet fully rational. Gyssens evaluation of pneumonia infectious diseases obtained data included in category IIA as many as 28 patients (68.30%), for category 0 obtained data of 13 patients (31.71%) and category IVA and IVC obtained 41 patients. whereas typhoid infection, category IIA obtained data of 41 patients (46.1%), category 0 obtained data of 44 patients (49.44%), for category IIB data obtained 4 patients (4.5%) and categories IVA and IVC were obtained 89 patients. The results of the switch therapy evaluation for pneumonia infectious diseases, 32 patients (78.05%) according to temperature criteria, 1 patient (2.44%) did not match the temperature criteria and 8 patients (19.51%) did not switch therapy. Switch therapy in typhoid infection found 70 patients (78.65%) according to temperature criteria, there were 3 patients (3.37%) not in accordance with leukocyte criteria and 16 patients (18%) did not switch therapy.mType switch therapy on this study for pneumonia infectious disease, switch over 14 patients (34.1%), step down 19 patients (46.3%) and for typhoid infectious diseases all were switch over 73 patients (82%). The use of antibiotics at Bhakti Asih Hospital is not yet fully rational and the implementation of switch therapy at Bhakti Asih Hospital has mostly followed the clinical criteria of switch therapy. Keywords: Pneumonia, Typhoid, Antibiotics, Rationality, Gyssens, Switch Therapy.   ABSTRAK Penyakit infeksi masih merupakan suatu masalah medis yang sangat penting karena masih tingginya angka kematian. Anak-anak sangat rentan terkena infeksi diantaranya pneumonia dan tifoid. Kedua penyakit ini terdata mengalami peningkatan dari tahun ketahun. Terapi utama dari kedua penyakit tersebut adalah antibiotik. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kerasionalan penggunaan antibiotik menggunakan metode gyssens dan analisis pelaksanaan switch therapy antibiotik (pergantian antibiotik intravena ke oral) pada pasien pneumonia dan tifoid. Studi ini bersifat deskriptif analitik dengan desain studi cross sectional. Jumlah antibiotik yang paling banyak digunakan untuk kedua penyakit tersebut adalah antibiotik golongan sefalosporin generasi III. Hasil evaluasi kerasionalan antibiotik di RS Bhakti Asih belum sepenuhnya rasional. Evaluasi Gyssens pada penyakit infeksi pneumonia, didapatkan data yang termasuk kategori IIA sebanyak 28 pasien (68,30%), untuk kategori 0 didapatkan data 13 pasien (31,71%) dan kategori IVA dan IVC didapatkan hasil 41 pasien. Sedangkan penyakit infeksi tifoid, kategori IIA didapatkan data 41 pasien  (46,10%), kategori 0 didapatkan data 44 pasien (49,44%), untuk kategori IIB didapatkan data 4 pasien (4,5%) dan kategori IVA dan IVC didapatkan 89 pasien. Hasil evaluasi Switch Therapy untuk penyakit infeksi pneumonia, 32 pasien (78,05%) sesuai kriteria suhu, 1 pasien (2,44%) tidak sesuai dengan kriteria suhu dan 8 pasien (19,51%) tidak melakukan switch therapy. Switch Therapy pada penyakit infeksi tifoid didapatkan 70 pasien (78,65%) sesuai dengan kriteria suhu, ada 3 pasien (3,37%) tidak sesuai dengan kriteria leukosit dan 16 pasien (18%) tidak melakukan Switch Therapy. Tipe Switch Therapy pada penelitian ini untuk penyakit infeksi pneumonia, switch over 14 pasien (34,10%), step down 19 pasien (46,30%) dan untuk penyakit infeksi tifoid semuanya bertipe switch over dengan 73 pasien (82%).Penggunaan antibiotik di Rumah Sakit Bhakti Asih belum sepenuhnya rasional dan pelaksanaan switch therapy di Rumah Sakit Bhakti Asih sebagian besar sudah mengikuti kriteria klinis switch therapy. Kata Kunci: Pneumonia, Tifoid, Antibiotik, Rasionalitas, Gyssens, Switch Therapy