Articles
PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN HSK 3 DENGAN MENGGUNAKAN PERANGKAT BERGERAK BERBASIS ANDROID
yang nadia miranti
Jurnal Asosiasi Program Studi Mandarin Indonesia (Jurnal APSMI) Vol 1, No 1 (2017): Jurnal Cakrawala Mandarin
Publisher : Asosiasi Program Studi Mandarin Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1076.561 KB)
|
DOI: 10.36279/apsmi.v1i1.13
Pembelajar Bahasa Asing Generasi Z sekarang ini model pembelajarannya sudah lebih modern, menggunakan multimedia. Pengambangan multimedia semakin digalakkan bagi pembelajaran bahasa asing, begitu juga dengan pembelajaran bahasa mandarin.Penelitian dan pengembangan multimedia android pembelajaran HSK 3 menggunakan model Lee & Owen (2004 . Subjek penelitian adalah siswa kelompok peminatan sastra mandarin fakultas ilmu budaya Universitas Brawijaya. Langkah-langkah prosedur pengembangan yang dilakukan meliputi; (1) Assessment/Analisis; (2) Desain; (3) Pengembangan; (4) Implementasi; (5) Evaluasi. Pengembangan ini mengunakan Adobe Flash. Instrumen yang dihasilkan dievaluasi oleh mahasiswa sastra mandarin Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya. Jenis data yang dihasilkan berbentuk data kualitatif dan kuantitatif. Instrumen pengumpulan data yang digunakan dalam pengembangan media pembelajaran ini adalah berupa angket tertutup, wawancara dan tes.Hasil pengembangan produk yaitu multimedia pembelajaran berbasis Mobile yang berisi materi Kosa Kata Hanyu Shuiping Kaoshi level 3 (HSK 3). Media yang dikembangkan dirancang sebagai media pembelajaran offline dan untuk mendapatkan software multimedia pembelajaran ini dapat diunduh di Play Store atau berupa file APK yang di share kepada mahasiswa. Hasil Validasi ahli materi dan ahli desain media menunjukkan kriteria sangat layak. Hasil tanggapan siswa perorangan, kelompok kecil dan kelompok besar menunjukkan kriteria sangat efektif. Kata Kunci: Pengembangan, Mutimedia, Mobile Learning, HSK 3
ONOMATOPE BAHASA MANDARIN DALAM KOMIK
Yang Nadia Miranti;
David Vincensius
Jurnal Asosiasi Program Studi Mandarin Indonesia (Jurnal APSMI) Vol 5, No 1 (2021): Jurnal Cakrawala Mandarin
Publisher : Asosiasi Program Studi Mandarin Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (233.351 KB)
|
DOI: 10.36279/apsmi.v5i1.102
Sebagai karya sastra bergambar, komik memiliki hubungan yang erat antara seni gambar dan seni berbahasa. Kedua unsur tersebut merupakan satu kesatuan yang saling membangun untuk membentuk komik menjadi sebuah karya yang dapat dinikmati masyarakat. Seni gambar yang indah dan didukung dengan gaya bahasa yang baik, akan mampu menciptakan sebuah cerita komik yang menarik. Gaya berbahasa dalam komik tentunya tidak hanya bentuk baku atau berupa peribahasa, melainkan juga harus mampu menyesuaikan keadaan latar dalam cerita tersebut. Penyesuaian ini salah satunya diwujudkan melalui penerapan onomatope. Melalui onomatope, pemaknaan sebuah kalimat akan mampu menghidupkan emosi pembaca. Onomatope ada dalam setiap bahasa, termasuk bahasa Mandarin. Penelitian ini akan membahas onomatope dalam tiga komik berbahasa Mandarin, yaitu大雄的大魔镜Dàxióng De Dà Mó Jìng, 长歌行 Zhǎng Gē Xíng, dan 白木兰圆舞曲Bái Mùlán Yuánwǔqǔ. Berdasarkan penelitian ini, ditemukan bahwa onomatope bahasa Mandarin dalam komik, berhasil meningkatkan emosi pembaca dalam mewujudkan kata tiruan dari bunyi suara manusia, binatang, alam, benda, kegiatan sehari-hari dan alat musik. Adanya respon pembaca dari sebuah karya sastra merupakan tanda bahwa karya tersebut telah berhasil dinikmati dan mampu memberikan kesan.
ANALISIS TEKNIK PENERJEMAHAN: KESESUAIAN HASIL TERJEMAHAN PADA SUBTITLE BAHASA INDONESIA FILM PENDEK《致平行时空的你》
Antoinette Wilhemina Ather;
Yang Nadia Miranti
Jurnal Asosiasi Program Studi Mandarin Indonesia (Jurnal APSMI) Vol 6, No 2 (2022): Jurnal Cakrawala Mandarin
Publisher : Asosiasi Program Studi Mandarin Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36279/apsmi.v6i2.195
Penerjemah merupakan orang yang melakukan proses mengartikan atau menerjemahkan suatu bahasa ke bahasa lain yang disesuaikan dengan bahasa milik penyampai pesan dan bahasa milik penerima pesan. Hasil dari proses penerjemahan disebut dengan terjemahan. Dalam penerjemahan ada teknik yang dapat digunakan oleh penerjemah untuk mendapatkan terjemahan dengan makna yang sepadan sehingga hal yang disampaikan pada bahasa sumber dapat tersampaikan dengan baik ke bahasa sasaran. Jika tidak tepat menggunakan teknik maka hasil terjemahan akan mengalami ketidaksesuaian pengalihan makna. Penelitian ini membahas mengenai kesesuaian hasil terjemahan berdasarkan teknik penerjemahan yang dipakai pada film berbahasa Mandarin yang memiliki subtitle bahasa Indonesia. Data penelitian diperoleh dari film pendek 《致平行时空的你》 zhì píngxíng shíkōng de nǐ dan pengkajian subtitle film akan menggunakan teori teknik penerjemahan milik Molina dan Albir (2002) dan teori Larson (1984) mengenai jenis kriteria untuk mengevaluasi penerjemahan. Pada hasil penelitian ditemukan 181 data dengan 14 jenis teknik terjemahan dan diantara 181 data tersebut terdapat 124 data yang memiliki kesesuaian hasil terjemahan sedangkan 57 data memiliki pengalihan makna yang tidak terlalu sesuai. Kata Kunci: penerjemahan, teknik penerjemahan, subtitle film
Pembelajaran Bahasa Kedua (Mandarin-HSK 3) Berbasis Mobile Learning
Miranti, Yang Nadia;
Setyosari, Punaji;
Ulfa, Saida
Jurnal Inovasi dan Teknologi Pembelajaran Vol 3, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Negeri Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (318.836 KB)
|
DOI: 10.17977/um031v3i12016p101
Abstrak: Bahasa Mandarin sudah menjadi bahasa internasional kedua setelah Bahasa Inggris. Perkembangan bahasa Mandarin yang sangat pesat menjadikan pemerintah Tiongkok membuat standar tes bagi penutur bahasa Mandarin yang bukan penutur asli, tes ini dinamakan tes HSK (Hanyu Shuiping Kaoshi). HSK adalah tes kemampuan bahasa Mandarin yang berstandar internasional, yang terdiri dari level 1 sampai level 6, dan diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Tiongkok. Perkembangan teknologi memainkan peran penting bagi siswa yang memiliki kekhususan. Tujuan dari pengembangan ini adalah untuk mengakomodir kebutuhan siswa pembelajar bahasa kedua serta mengukur efektivitas penggunaan media dalam proses pembelajaran untuk mengetahui kelayakan produk pengembangan multimedia pembelajaran. Jenis penelitian adalah pengembangan mutimedia pembelajaran dengan model Lee & Owen. Subjek penelitian adalah siswa kelompok peminatan sastra mandarin fakultas ilmu budaya Universitas Brawijaya. Hasil pengembangan produk yaitu multimedia pembelajaran berbasis Mobile yang berisi materi Kosa Kata Hanyu Shuiping Kaoshi level 3 (HSK 3). Media yang dikembangkan dirancang sebagai media pembelajaran offline dan untuk mendapatkan software multimedia pembelajaran ini dapat diunduh di Play Store. Hasil Validasi ahli materi dan ahli desain media menunjukkan kriteria sangat layak. Hasil tanggapan siswa perorangan, kelompok kecil dan kelompok besar menunjukkan kriteria sangat efektif.Abstract: Mandarin has become the second international language after English. The rapid development of Mandarin language has made the Chinese government standardized tests for Chinese speakers who are not native speakers, this test is called the HSK test (Hanyu Shuiping Kaoshi). HSK is an international standard Chinese language proficiency test, which consists of level 1 to level 6, and is organized by the Chinese Education Service. Technological developments play an important role for students who have specificity. The purpose of this development is to accommodate the needs of students of second language learners and measure the effectiveness of media use in the learning process to determine the feasibility of learning multimedia development products. This type of research is the development of multimedia learning with the Lee & Owen model. The research subjects were students of the literary interest group of the UB Faculty of Cultural Sciences. The results of product development are Mobile-based multimedia learning to contain the Kosa word Hanyu Shuiping Kaoshi Level 3 (HSK 3) material. The developed media was designed as an offline learning media and to obtain multimedia learning software, it can be downloaded on the Play Store. The results of the validation of material experts and media design experts show that the criteria are very feasible. The results of responses of individual students, small groups and large groups showed very effective criteria.
TUJUAN TINDAK TUTUR DIREKTIF, KOMISIF DAN EKSPRESIF DALAM PIDATO XI JINPING UNTUK PBB PADA 1 OKTOBER 2020
Nadia Miranti, Yang;
Vincensius, David;
Ayu Wulan, Diah
Linguistik : Jurnal Bahasa dan Sastra Vol 8, No 1 (2023): LINGUISTIK: Jurnal Bahasa & Sastra
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31604/linguistik.v8i1.186-198
Pidato merupakan sarana untuk menyampaikan gagasan di muka umum. Banyak institusi yang telah menggunakan sarana ini, seperti sekolah, perusahaan dan juga negara. Presiden Xi Jinping sebagai presiden Tiongkok, juga menggunakan pidato sebagai alat untuk menyampaikan gagasan kepada publik, baik secara nasional di Tiongkok maupun internasional. Salah satu pidato internasional Presiden Xi Jinping adalah pidato yang ditujukan pidato kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 1 Oktober 2020. Penelitian ini membahas makna dan tujuan pidato tersebut melalui paradigma teori tindak tutur, untuk dapat diketahui tujuan tindak tutur direktif, komisif dan ekspresif yang tersimpan dalam setiap tuturan kalimat yang diujarkan, sehingga meminimalisir kesalahpahaman dalam sebuah pembicaraan. Berdasarkan penelitian ini, ditemukan bahwa dalam pidato Xi Jinping untuk PBB pada 1 Oktober 2020 terdapat 22 tindak tutur direktif yang terbagi menjadi tujuan tuturan untuk menasehati 3 tuturan, permintaan 9 tuturan, dan memerintah 10 tuturan; terdapat 3 tindak tutur komisif yang terbagi menjadi tujuan tuturan untuk berjanji 2 tuturan dan menawarkan sesuatu 1 tuturan; serta terdapat 9 tindak tutur ekspresif yang terbagi menjadi tujuan tuturan untuk salam 3 tuturan, harapan 1 tuturan, memuji 2 tuturan, berbelasungkawa 1 tuturan, mengeluh 1 tuturan dan berterima kasih 1 tuturan.
TUJUAN TINDAK TUTUR DIREKTIF, KOMISIF DAN EKSPRESIF DALAM PIDATO XI JINPING UNTUK PBB PADA 1 OKTOBER 2020
Nadia Miranti, Yang;
Vincensius, David;
Ayu Wulan, Diah
Linguistik : Jurnal Bahasa dan Sastra Vol 8, No 1 (2023): LINGUISTIK: Jurnal Bahasa & Sastra
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31604/linguistik.v8i1.186-198
Pidato merupakan sarana untuk menyampaikan gagasan di muka umum. Banyak institusi yang telah menggunakan sarana ini, seperti sekolah, perusahaan dan juga negara. Presiden Xi Jinping sebagai presiden Tiongkok, juga menggunakan pidato sebagai alat untuk menyampaikan gagasan kepada publik, baik secara nasional di Tiongkok maupun internasional. Salah satu pidato internasional Presiden Xi Jinping adalah pidato yang ditujukan pidato kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 1 Oktober 2020. Penelitian ini membahas makna dan tujuan pidato tersebut melalui paradigma teori tindak tutur, untuk dapat diketahui tujuan tindak tutur direktif, komisif dan ekspresif yang tersimpan dalam setiap tuturan kalimat yang diujarkan, sehingga meminimalisir kesalahpahaman dalam sebuah pembicaraan. Berdasarkan penelitian ini, ditemukan bahwa dalam pidato Xi Jinping untuk PBB pada 1 Oktober 2020 terdapat 22 tindak tutur direktif yang terbagi menjadi tujuan tuturan untuk menasehati 3 tuturan, permintaan 9 tuturan, dan memerintah 10 tuturan; terdapat 3 tindak tutur komisif yang terbagi menjadi tujuan tuturan untuk berjanji 2 tuturan dan menawarkan sesuatu 1 tuturan; serta terdapat 9 tindak tutur ekspresif yang terbagi menjadi tujuan tuturan untuk salam 3 tuturan, harapan 1 tuturan, memuji 2 tuturan, berbelasungkawa 1 tuturan, mengeluh 1 tuturan dan berterima kasih 1 tuturan.
Penggunaan Partikel Modal (语气助词) dalam Media Sosial China: Studi Kasus pada Aplikasi Xiaohongshu(小红书)
Maria Chezia -;
Yang Nadia Miranti
SPHOTA: Jurnal Linguistik dan Sastra Vol. 18 No. 1 (2026): SPHOTA: Jurnal Linguistik dan Sastra
Publisher : Fakultas Bahasa Asing (FBA) Universitas Mahasaraswati Denpasar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36733/sphota.v18i1.12929
Modal particles in Mandarin Chinese serve a crucial role in conveying meaning and interpersonal nuances in communication. Nonetheless, scholarly investigations into the pragmatic functions of the particles 啊 (a), 吧 (ba), and 呢 (ne) within social media discourse remain scarce. This study aims to elucidate the functions of these modal particles in informal interactions among Mandarin speakers, with particular emphasis on politeness strategies. Data were sourced from speech act excerpts on the social media platform Xiaohongshu (小红书), collected through purposive sampling based on relevant keyword searches. Employing a qualitative methodology grounded in pragmatic theory, the analysis focused on utterance context, speaker intent, and interlocutor responses. Findings reveal that these modal particles play a pivotal role in modulating conversational tone, mitigating illocutionary force, and fostering interpersonal closeness. The study underscores an observable adaptation of modal particle usage in digital communication environments and advocates for further research into politeness mechanisms within online interactions.
Pengembangan Kualitas dan Citra Batik Singosari Menuju Produk Kreatif yang Berdaya Saing
Indrowaty, Sri Aju -;
Rahmawati, Femi Eka;
Miranti, Yang Nadia
Jurnal Gramaswara: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 5 No. 3 (2025): Jurnal Gramaswara: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : Faculty of Cultural Studies, Universitas Brawijaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21776/ub.gramaswara.2025.005.03.12
Perkembangan batik pada decade saat ini sedang bertumbuh dengan subur diberbagai tempat diwilayah Indonesia. Masing-masing daerah berusaha memunculkan kekhasan wilayahnya dalam rupa warna motif batik masing-masing. Begitupun para pengrajin batik Singosari di Kabupaten Malang yang berusaha memunculkan kekhasan motif batiknya untuk dapat bersaing di pasaran dan bersaing dengan berbagai produk batik dari wilayah lain. Banyaknya persaingan akan produk batik ini tentunya memacu para pegiat seni berkreasi lebih untuk membuat ragam kreasi lain tanpa meninggalkan teknik dan esensi dari seni batik itu sendiri. Dari fenomena perkembangan batik saat ini serta permasalahannya kegiatan ini mengupayakan untuk membantu para pengrajin batik Singosari dalam menumbuhkan pekerjaan dibidang seni yang lebih untuk Masyarakat Singosari agar dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi khususnya para pengrajin batik dan sebagai usaha meningkatkan infrastruktur perkembangan batik menuju industri seni tradisi yang lebih berdaya saing melalui inovasi-inovasi ragam motif batik khas Singosari. Kegiatan ini diupayakan untuk meningkatkan sumberdaya manusia pembatik Singosari dalam perencanaan desain motif dan aplikasinya dalam rupa produk yang lebih bervariatif dengan tetap mempertimbangkan unsur budaya dan filosofis batik sebagai paramaternya. Perancangan bentuk dan desain motif batik yang dapat dikembangkan menjadi alternatif souvenir berbasis batik, serta merancang desain kemasan yang dapat meningkatkan citra batik agar mempunyai nilai tinggi dan lebih berkarakter.
The Role of Alipay Platform in China's Soft Diplomacy: A Study of Chengdu Culinary Cultural Representations by Foreign Tourists
Annisa Ramadhani;
Yang Nadia Miranti
Eralingua: Jurnal Pendidikan Bahasa Asing dan Sastra VOL 10, NO 1 (2026): ERALINGUA
Publisher : Makassar State University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26858/eralingua.v10i1.82883
This article analyzes the strategic role of the Alipay platform in supporting China's soft diplomacy through a case study of how foreign tourists represent Chengdu's culinary culture. The formulation of the problem in these studies on the representation of culinary culture has been widely conducted in various media, but few have highlighted the role of foreign tourists as carriers of local cultural meaning, particularly on the Alipay platform. This study examines in depth how video content uploaded by foreign tourists on the Alipay platform serves as a representational space for Chengdu's culinary identity while simultaneously positioning these tourists as cultural intermediaries in cyberspace. This study uses a qualitative, descriptive-interpretive approach. This type of research is qualitative content analysis. Data from this study includes videos, captions, and comment interactions taken directly from the accounts of three creators on the Alipay platform. The study's findings demonstrate that foreign tourists' use of the Alipay platform goes beyond facilitating transactions and has transformed into a significant tool for grassroots diplomacy. This study finds that the Alipay platform functions as a strategic medium in China's soft diplomacy by mediating the representation of Chengdu's culinary culture through video content from foreign tourists
Chinese Cultural Acculturation and Religious Inculturation at Santa Maria de Fatima Catholic Church and Dharma Toasebio Temple
Angela Fransisca Sabrina Panggabean;
Yang Nadia Miranti
International Journal Of Economics Social And Technology Vol. 5 No. 1 (2026): Maret 2026
Publisher : Lembaga Riset Ilmiah
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.59086/ijest.v5i1.1477
This study investigates the acculturation of Chinese culture within the architectural visual identity and religious inculturation at Santa Maria de Fatima Catholic Church and Dharma Toasebio Temple in Jakarta. It compares how both institutions sustain their ethnic identity and spiritual functions within a pluralistic urban society. The originality of this work stems from its comparative framework, contrasting internal acculturation with contextual inculturation. It specifically highlights how architectural elements act as social instruments to negotiate identity within a multicultural environment. A descriptive comparative qualitative method was employed, utilizing literature reviews, digital site observations of the two primary buildings (n=2), and visual semiotic analysis. Results indicate that Dharma Toasebio Temple reflects internal acculturation through its Tri Dharma architecture, which is characterized by red and gold color schemes and swallowtail roofs. Conversely, Santa Maria de Fatima Church appropriates the design of a Chinese aristocratic residence to contextualize the Catholic faith. These distinctions demonstrate that such visual components extend beyond mere decoration; they serve as a community strategy to maintain social cohesion and spirituality in dynamic public spaces. Consequently, the findings expand the current understanding of cultural integration within urban religious architecture. Ultimately, both sites achieve a harmonious synthesis of religious conviction and ethnic identity through Chinese cultural symbols. This integration theoretically advances visual semiotics while practically reinforcing social cohesion and interfaith tolerance in an urban setting.