Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

KECENDERUNGAN INTOLERANSI DAN PERAN PENDIDIKAN AGAMA DI SMA NEGERI YOGYAKARTA Handajani, Aniek; Hasan, Noorhaidi; Christiani, Tabita Kartika
WAHANA Vol 71 No 2 (2019)
Publisher : LPPM Universitas PGRI Adi Buana Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (417.527 KB) | DOI: 10.36456/wahana.v71i2.2141

Abstract

ecenderungan intoleransi dan praktik Islamisme di sekolah. Akan tetapi studi tentang prosesradikalisasi dikalangan remaja sangat terbatas. Kami menyikapi masalah ini dengan menganalisakecenderungan intoleransi, meneliti pelaksanaan pendidikan agama di sekolah dan mengungkapkanpergeseran kecenderungan intoleransi di kalangan siswa. Dengan memakai metode gabungan, studiini mengungkap tujuh faktor yang mempengaruhi perubahan kecenderungan intoleransi agama dikalangan siswa yaitu: 1) para pemangku kepentingan merumuskan visi sekolah yang mendukungtoleransi beragama; 2) kebijakan sekolah yang mendukung pluralisme dan toleransi terhadap agamalain di sekolah; 3) pemerintah dan pimpinan sekolah mengadakan pelatihan bagi para guru untukmemberikan pengetahuan dalam rangka mengatasi paham radikal; 4) guru mengintegrasikan kearifanlokal dalam bahan ajar mereka; 5) kegiatan siswa terutama Kerohanian Islam mengakomodasikeberagaman dan mendukung toleransi terhadap berbagai agama, etnis, dan budaya; 6) pengawasanterhadap buku dan materi dari internet yang mengandung doktrin radikal yang dilakukan oleh orangtua dan guru; 7) melibatkan organisasi mainstream Islam dalam melawan ideologi radikal danmemitigasi intoleransi di sekolah. Hasil penelitian ini menunjukkan potensi kontribusi pendidikanagama untuk mencegah intoleransi di sekolah.
KECENDERUNGAN INTOLERANSI DAN PERAN PENDIDIKAN AGAMA DI SMA NEGERI YOGYAKARTA Aniek Handajani; Noorhaidi Hasan; Tabita Kartika Christiani
WAHANA Vol 71 No 2 (2019)
Publisher : LPPM Universitas PGRI Adi Buana Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36456/wahana.v71i2.2141

Abstract

ecenderungan intoleransi dan praktik Islamisme di sekolah. Akan tetapi studi tentang prosesradikalisasi dikalangan remaja sangat terbatas. Kami menyikapi masalah ini dengan menganalisakecenderungan intoleransi, meneliti pelaksanaan pendidikan agama di sekolah dan mengungkapkanpergeseran kecenderungan intoleransi di kalangan siswa. Dengan memakai metode gabungan, studiini mengungkap tujuh faktor yang mempengaruhi perubahan kecenderungan intoleransi agama dikalangan siswa yaitu: 1) para pemangku kepentingan merumuskan visi sekolah yang mendukungtoleransi beragama; 2) kebijakan sekolah yang mendukung pluralisme dan toleransi terhadap agamalain di sekolah; 3) pemerintah dan pimpinan sekolah mengadakan pelatihan bagi para guru untukmemberikan pengetahuan dalam rangka mengatasi paham radikal; 4) guru mengintegrasikan kearifanlokal dalam bahan ajar mereka; 5) kegiatan siswa terutama Kerohanian Islam mengakomodasikeberagaman dan mendukung toleransi terhadap berbagai agama, etnis, dan budaya; 6) pengawasanterhadap buku dan materi dari internet yang mengandung doktrin radikal yang dilakukan oleh orangtua dan guru; 7) melibatkan organisasi mainstream Islam dalam melawan ideologi radikal danmemitigasi intoleransi di sekolah. Hasil penelitian ini menunjukkan potensi kontribusi pendidikanagama untuk mencegah intoleransi di sekolah.
ISLAMIC RELIGIOUS EDUCATION, STUDENT ACTIVITY AND INTOLERANCE IN STATE SENIOR HIGH SCHOOLS IN YOGYAKARTA Aniek Handajani; Noorhaidi Hasan; Tabita Christiani
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 4, No 2 (2019)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (719.219 KB) | DOI: 10.30984/ajip.v4i2.1015

Abstract

Abstract Several studies show the presence of intolerance and Islamist attitudes strengthened among teachers and students. However, studies on ‘radicalization’ process among teenagers at school are still limited. We address the issue by analyzing intolerance tendency, examining the religious education at school and revealing the shift of intolerance tendency among students. By conducting mixed methods research in three public schools, this study uncovers seven factors that cause the shift of intolerance tendency: First, stakeholders formulate school vision which endorses religious tolerance in public schools. Second, the school policies that support pluralism and tolerance towards other differences in the school environment. Third, government and school leaders conduct training to provide teachers with knowledge to counter radical teachings. Fourth, teachers integrate local wisdoms in their teaching materials. Fifth, the student activities, particularly Islamic religious activities, which accommodate pluralism and endorse tolerance towards different religions, ethnics and cultures. Sixth, the supervision of books and materials from the internet that contain radical doctrines by parents and teachers. Seventh, involving Islamic mainstream organizations in countering radical ideology and mitigating intolerance in public schools. Regarding Islamist movements at schools, we suggest that religious education, if properly formulated can be used to counter Islamist radicalism at school effectively.Key words: Intolerance, Islamist movements, Radical ideology, Religious, Education AbstrakBeberapa studi menunjukkan adanya intoleransi dan sikap Islamis yang menguat di kalangan guru dan siswa. Akan tetapi penelitian mengenai proses 'radikalisasi' di kalangan remaja di sekolah masih terbatas. Kami menyikapi masalah ini dengan menganalisa kecenderungan intoleransi dan meneliti pelaksanaan pendidikan agama di sekolah. Dengan memakai metode gabungan di tiga sekolah umum, studi ini mengungkap adanya penurunan kecenderungan intoleransi pada tahun 2017 - 2018. Penelitian ini mengungkap enam faktor yang mempengaruhi penurunan intoleransi agama di kalangan siswa. Pertama, para pemangku kepentingan merumuskan visi sekolah yang mendukung toleransi beragama. Kedua, kebijakan sekolah yang mendukung pluralisme dan toleransi terhadap agama lain di sekolah.  Ketiga, pemerintah dan pimpinan sekolah mengadakan pelatihan bagi para guru untuk memberikan pengetahuan dalam rangka mengatasi paham radikal. Keempat, guru mengintegrasikan kearifan lokal dalam bahan ajar mereka. Kelima, kegiatan siswa terutama kegiatan Kerohanian Islam, yang mengakomodasi keberagaman dan mendukung toleransi terhadap berbagai agama, etnis, dan budaya. Keenam, pengawasan buku dan bahan dari internet yang mengandung doktrin radikal oleh orang tua dan guru. Ketujuh, melibatkan organisasi mainstream Islam dalam melawan ideologi radikal dan memitigasi intoleransi di sekolah umum. Sedangkan mengenai gerakan Islamis di sekolah, kami berpendapat bahwa pendidikan agama jika diformulasikan dengan benar dapat dipakai untuk melawan radikalisme di sekolah secara efektif.Kata kunci: Intoleransi, Gerakan Islamis, Ideologi radikal, Pendidikan Agama
ISLAMIC RELIGIOUS EDUCATION, STUDENT ACTIVITY AND INTOLERANCE IN STATE SENIOR HIGH SCHOOLS IN YOGYAKARTA Aniek Handajani; Noorhaidi Hasan; Tabita Christiani
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 4, No 2 (2019)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/ajip.v4i2.1015

Abstract

Abstract Several studies show the presence of intolerance and Islamist attitudes strengthened among teachers and students. However, studies on ‘radicalization’ process among teenagers at school are still limited. We address the issue by analyzing intolerance tendency, examining the religious education at school and revealing the shift of intolerance tendency among students. By conducting mixed methods research in three public schools, this study uncovers seven factors that cause the shift of intolerance tendency: First, stakeholders formulate school vision which endorses religious tolerance in public schools. Second, the school policies that support pluralism and tolerance towards other differences in the school environment. Third, government and school leaders conduct training to provide teachers with knowledge to counter radical teachings. Fourth, teachers integrate local wisdoms in their teaching materials. Fifth, the student activities, particularly Islamic religious activities, which accommodate pluralism and endorse tolerance towards different religions, ethnics and cultures. Sixth, the supervision of books and materials from the internet that contain radical doctrines by parents and teachers. Seventh, involving Islamic mainstream organizations in countering radical ideology and mitigating intolerance in public schools. Regarding Islamist movements at schools, we suggest that religious education, if properly formulated can be used to counter Islamist radicalism at school effectively.Key words: Intolerance, Islamist movements, Radical ideology, Religious, Education AbstrakBeberapa studi menunjukkan adanya intoleransi dan sikap Islamis yang menguat di kalangan guru dan siswa. Akan tetapi penelitian mengenai proses 'radikalisasi' di kalangan remaja di sekolah masih terbatas. Kami menyikapi masalah ini dengan menganalisa kecenderungan intoleransi dan meneliti pelaksanaan pendidikan agama di sekolah. Dengan memakai metode gabungan di tiga sekolah umum, studi ini mengungkap adanya penurunan kecenderungan intoleransi pada tahun 2017 - 2018. Penelitian ini mengungkap enam faktor yang mempengaruhi penurunan intoleransi agama di kalangan siswa. Pertama, para pemangku kepentingan merumuskan visi sekolah yang mendukung toleransi beragama. Kedua, kebijakan sekolah yang mendukung pluralisme dan toleransi terhadap agama lain di sekolah.  Ketiga, pemerintah dan pimpinan sekolah mengadakan pelatihan bagi para guru untuk memberikan pengetahuan dalam rangka mengatasi paham radikal. Keempat, guru mengintegrasikan kearifan lokal dalam bahan ajar mereka. Kelima, kegiatan siswa terutama kegiatan Kerohanian Islam, yang mengakomodasi keberagaman dan mendukung toleransi terhadap berbagai agama, etnis, dan budaya. Keenam, pengawasan buku dan bahan dari internet yang mengandung doktrin radikal oleh orang tua dan guru. Ketujuh, melibatkan organisasi mainstream Islam dalam melawan ideologi radikal dan memitigasi intoleransi di sekolah umum. Sedangkan mengenai gerakan Islamis di sekolah, kami berpendapat bahwa pendidikan agama jika diformulasikan dengan benar dapat dipakai untuk melawan radikalisme di sekolah secara efektif.Kata kunci: Intoleransi, Gerakan Islamis, Ideologi radikal, Pendidikan Agama
Rethinking Concepts of De-Radicalization: an Effort to Mitigate Radicalism Through Education Handajani, Aniek
International Journal of Business, Law, and Education Vol. 5 No. 2 (2024): International Journal of Business, Law, and Education
Publisher : IJBLE Scientific Publications Community Inc.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56442/ijble.v5i2.949

Abstract

A rise in radicalism and violence in Indonesia leads to important questions of how individuals be ‘radicalized’ that makes it difficult to combat radicalism. Hence, attempt to mitigate radicalism requires understanding the radicalization process and the concept of de-radicalization. This study aims at stimulating discussion on theories of radicalization and rethinking concepts of de-radicalization. This research addresses the question on how theories of radicalization process relate to efforts of de-radicalization through education applied recently in Indonesia. This study is a qualitative approach with a descriptive type of library research which uses theories of radicalization and concepts of de-radicalization as research data. This research critically analyses theories of de-radicalization on an attempt to mitigate radicalism through education. There are many models explaining the radicalization process toward an individual. Among the existing models of radicalization process, two influential models are Wiktorowicz’s model and Sinai’s model. Furthermore, based on researches of de-radicalization, concepts of Pressman and Golose give a comprehensive concept of de-radicalization and support efforts to mitigate radicalism through education. This study also proposes some strategies to mitigate radicalism in schools
Pengembangan e-modul pembelajaran Sejarah berbasis multikultural tingkat SMA Handajani, Aniek; Sulistyo, Wahyu Djoko; Slamet Sujud Purnawan Jati; Iqbal Maulana Razaq
Jurnal Praksis dan Dedikasi Sosial Vol. 9 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um022v9i12026p34-42

Abstract

Developing multicultural-based e-modules for History learning of senior high school level History education has an important role in instilling national awareness and tolerance among the nation's youth. However, there are still many problems related to history learning at high school level, such as students feel bored, history teachers lack of historical insight, monotonous learning, history books merely discuss historical facts and emphasizing less on multiculturalism. In addition, there is a new policy on in-depth learning that many history teachers have not understood, particularly history teachers in Malang. Hence, it is crucial to provide insight to history teachers by holding a workshop on developing multicultural-based e-modules for history learning fitted with the In-Depth Learning curriculum. This community service aims to develop multicultural-based e-modules for history learning that are used by high school teachers and students. Also, it is conducted to provide teaching materials that foster tolerance, respect for diversity and strengthen nationalism in Indonesia’s multicultural context. This research is carried out using a qualitative method with participatory action research. The target of the workshop activity is the history teachers in Malang. The results of the community service show that after the workshop, teachers can develop multicultural-based history e-modules. Moreover, the developed e-modules increase student learning motivation, broaden historical insights with a multicultural perspective, and facilitate teachers in presenting materials interactively. Dissemination of the workshop results are carried out through journal articles, social media, and posters. Furthermore, the multicultural-based history e-modules will be implemented in several high schools to enhance students' understanding of national identity and sense of Indonesian nationalism. Pendidikan sejarah mempunyai peranan penting dalam menanamkan kesadaran kebangsaan dan toleransi diantara generasi bangsa. Namun masih banyak permasalahan terkait pembelajaran sejarah di tingkat SMA, seperti siswa merasa bosan, guru sejarah kurang wawasan kesejarahan, pembelajaran monoton, buku sejarah hanya membahas fakta sejarah dan kurang menekankan multikulturalisme. Apalagi ada kebijakan baru tentang pembelajaran mendalam yang belum dipahami sebagian besar guru sejarah, khususnya guru MGMP sejarah di Malang. Oleh karenanya penting untuk memberikan wawasan kepada guru sejarah dengan mengadakan workshop pengembangan e-modul pembelajaran sejarah berbasis multikultural yang sesuai dengan kurikulum pembelajaran mendalam. Kegiatan ini bertujuan untuk mengembangkan e-modul pembelajaran sejarah berbasis multikultural yang digunakan oleh guru dan siswa tingkat SMA. Selain itu kegiatan ini untuk memenuhi kebutuhan bahan ajar yang mampu menumbuhkan sikap toleransi, menghargai keberagaman, serta memperkuat rasa nasionalisme dalam konteks multikultural Indonesia. Kegiatan ini dilakukan memakai metode kualitatif dengan participatory action research. Sasaran kegiatan workshop adalah guru MGMP Sejarah di Malang raya. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa setelah workshop guru mampu menyusun e-modul sejarah berbasis multikultural. Selain itu e-modul yang dikembangkan mampu meningkatkan motivasi belajar siswa, memperluas wawasan sejarah dengan perspekstif multikultural, serta memudahkan guru dalam menyajikan materi secara interaktif. Diseminasi hasil workshop dilakukan melalui artikel jurnal, media sosial dan poster. Selanjutnya e-modul sejarah berbasis multikultural akan diimplementasikan di beberapa sekolah tingkat SMA/sederajat sehingga dapat meningkatkan pemahaman identitas nasional dan rasa nasionalisme Indonesia di kalangan peserta didik.