Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

PREVALENSI DAN FAKTOR RISIKO HIPERHIDROSIS PADA MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUMATERA UTARA Lubis, Riri Arisanty Syafrin
JURNAL IBNU SINA BIOMEDIKA Vol 3, No 1 (2019): (Mei 2019)
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUMATERA UTARA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (467.949 KB) | DOI: 10.30596/isb.v3i1.2840

Abstract

Latar belakang: Hiperhidrosis merupakan suatu kondisi keringat berlebihan. Hiperhidrosis diklasifikasikan menjadi primer dan sekunder berdasarkan penyebabnya. Prevalensi hiperhidrosis di seluruh dunia mencapai 0.6 ? 1%. Hiperhidrosis fokal primer menyerang lebih dari 6 juta populasi muda di seluruh dunia. Pada studi di Amerika Serikat menunjukkan bahwa prevalensi untuk hiperhidrosis sekitar 2.8%. Prevalensi hiperhidrosis di Israel pada usia dewasa muda sebanyak 1%.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui prevalensi dan faktor risiko hiperhidrosis pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara. Metode : Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif dengan jumlah sampel 100 orang. Hasil : Prevalensi hiperhidrosis pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara berjumlah 29 orang (29%). Jenis hiperhidrosis yang paling banyak didapatkan yaitu hiperhidrosis gustatory yang berjumlah 10 orang (34,5%) dan yang paling sedikit yaitu generalisata sebanyak 1 orang (3,4%). Responden yang mengalami hiperhidrosis primer lebih banyak dibanding dengan hiperhidrosis sekunder (96,55%). Faktor risiko yang paling banyak menyebabkan hiperhidrosis yaitu makanan pedas yang berjumlah 24 orang (82,75%) dan yang paling sedikit yaitu cokelat berjumlah 2 orang (6,89%). Kesimpulan : Hasil penelitian ini menunjukan prevalensi hiperhidrosis pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara sekitar 29%. Faktor risiko yang paling banyak meyebabkan hiperhidrosis yaitu makanan pedas sekitar 82,75%
Penggunaan Pelembab pada Dermatitis Atopik Anak Riri Arisanty Safrin Lubis
JURNAL IMPLEMENTA HUSADA Vol 1, No 3 (2020)
Publisher : UMSU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30596/jih.v1i3.6420

Abstract

Pendahuluan: Dermatitis atopik (DA) merupakan salah satu istilah yang banyak dipakai untuk menggambarkan bentuk kelainan kulit yang sering terjadi. Dermatitis atopik terjadi pada 15% populasi anak-anak dan berkaitan erat dengan tingginya kadar IgE. Data insidensi dan prevalensi DA pada anak belum dilaporkan secara resmi. Tetapi di Indonesia pada tahun 2000 ditemukan 23,67% kasus baru DA anak dari 611 kasus baru penyakit kulit lainnya. Manifestasi lesi DA dapat bertambah parah pada kondisi cuaca dingin dan kering. Pada DA terjadi gangguan fungsi sawar kulit akibat gangguan fungsi keringat, terjadinya Trans Epidermal Water Lost (TEWL) dan perubahan lemak kulit. Penatalaksanaan DA berupa pemberian pengobatan yang bersifat sistemik mupun pengobatan yang bersifat topikal. Salah satu terapi pada pasien DA bertujuan untuk mengatasi kekeringan kulit. Pemberian pelembab diharapkan dapat mengatasi kekeringan kulit yang terjadi sehingga dapat mengurangi keluhan dan komplikasi kulit yang biasa terjadi.Kesimpulan: Dermatitis atopik (DA) merupakan suatu penyakit yang ditandai dengan kulit gatal dan kulit kering (xerosis) yang biasanya menyerang usia bayi dan anak. Perubahan struktur korneosit dan lemak interseluler menyebabkan penigkatan TEWL sehingga kulit penderita dermatitis atopik menjadi kering. Pemberian pelembab pada DA bertujuan untuk mengembalikan kadar air menjadi normal kembali. Penggunaan pelembab pada DA dapat meningkatkan sawar kulit, mengurangi TEWL dan dapat mengurangi rasa gatal.
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN PEKERJA SEKSUAL KOMERSIAL TERHADAP DETEKSI DINI KANKER SERVIKS DI KAFE BELAWAN FAHRUL ROZI; RIRI ARISANTY SYAFRIN LUBIS
JURNAL ILMIAH SIMANTEK Vol 6 No 3 (2022): JURNAL ILMIAH SIMANTEK
Publisher : LP2MTBM MAKARIOZ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cervical cancer is a disease characterized by uncontrolled cell growth and abnormal cell spread. The primary cause of cervical cancer is chronic infection with Human Papilloma Virus (HPV) types 16 and 18.Cervical cancer has several risk factors, Age >35 years, low Socioeconomic status, low education level, young age for firtd sexual intercourse, having more than one partner. Meanwhile, in Indonesia, cervical cancer is 23.4 per 100,000 population with an average death rate of 13.9 per 100,000 population. Objective: To determine the relationship between the level of knowledge of commercial sex workers on early detection of cervical cancer at the LG Belawan cafe. This study is a descriptive analytic study with a cross sectional design and data collection using a total sampling technique. The result of this research 32 respondents (100%) did the Pap Smear test and 0 (0,0%) respondents did not take the Pap Smear test. From the data analysis obtained P = 0,001 (P <0.05), this indicates that there is a significant relationship between the level of knowledge of commercial sex workers on early detection of cervical cancer
PERBANDINGAN EFEKTIVITAS EKSTRAK KULIT MANGGIS (GARCINIA MANGOSTANA L.) SEBAGAI AGEN PELINDUNG KULIT DARI SINAR UVA DAN UVB PADA MENCIT PUTIH (MUS MUSCULUS) LIA NASTI; RIRI ARISANTY SYAFRIN LUBIS
JURNAL ILMIAH KOHESI Vol 7 No 2 (2023): JURNAL ILMIAH KOHESI
Publisher : LP2MTBM MAKARIOZ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia is a country which has a tropical climate which is filled with an abundance of sunlight every year. UVB rays have the ability to cause sunburn greater than UVA rays. UVA rays themselves have the ability to penetrate deeper layers of the skin and can also damage DNA from the skin indirectly which can cause photo aging of the skin. To examine the effect of mangosteen rind extract (Garcinia mangostana L.) as a protective agent from UVA and UVB rays in white mice (Mus musculus). This type of research is a true experimental study with a post-controlled group design, namely the type of research that observes the control group and the treatment group after the action. The value in each group was p<0.05, which means that there were significant differences in each treatment group for all observations. Each dose of mangosteen rind (Garcinia mangostana L.) semanggi extract with high levels of redness or erythema on the skin of experimental animals will disappear. Keywords: UVA, UVB, Mangosteen Peel Extract, Skin Protector
Hubungan Kebersihan Diri dan Jenis Kelamin dengan Kejadian Pedikulosis Kapitis pada Murid SD Siti Lasmi Yani Al Azhar; Siti Mirhalina Hasibuan; Riri Arisanty Syafrin Lubis; Heppy Jelita Sari Batubara
JURNAL PANDU HUSADA Vol 1, No 4 (2020)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30596/jph.v1i4.5256

Abstract

Pedikulosis kapitis adalah infeksi kulit dan rambut kepala yang di sebabkan oleh Pediculus humanus var. capitis. Pediculus ini merupakan parasit obligat yang harus menghisap darah manusia untuk dapat bertahan hidup. Jenis kelamin dan kebersihan diri merupakan faktor resiko terjadinya pedikulosis kapitis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara jenis kelamin dan kebersihan diri dengan kejadian pedikulosis kapitis pada siswa SDN 018455 Desa Tanah Tinggi. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif analitik denga desain cross sectional. Subjek penelitian ini adalah siswa SDN 018455 Desa Tanah Tinggi yang terdaftar di administrasi sekolah. Teknik penelitian ini menggunakan consecutive sampling dan analisa data uji chi-square. Pengambilan data melalui pengisian kuisioner dan pemeriksaan langsung pada sampel. Hasil penelitian ini memperoleh bahwa sebanyak 22 orang anak perempuan (56.4%) menderita pedikulosis kapitis, sedangkan pada anak laki-laki sebanyak 5 orang (14.7%) dan anak dengan kebersihan diri yang baik sebanyak 3 orang (7.9%) menderita pedikulosis kapitis,sedangkan pada anak dengan kebersihan kurang baik sebanyak 24 orang (68.6%) menderita pedikulosis kapitis. Hasil Uji Chi-square di dapati p=value 0.000. Adanya hubungan antara kebersihan diri dan jenis kelamin dengan kejadian pedikulosis kapitis pada siswa SDN 018455 Desa Tanah Tinggi.
HUBUNGAN PEMAKAIAN MASKER N95 DAN MASKER BEDAH TERHADAP KEJADIAN ACNE VULGARIS PADA TENAGA MEDIS DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH PENYABUNGAN ERLIANI ERLIANI; RIRI ARISANTY SYAFRIN LUBIS
JURNAL ILMIAH SIMANTEK Vol 7 No 3 (2023): JURNAL ILMIAH SIMANTEK
Publisher : LP2MTBM MAKARIOZ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

At the end of 2019, precisely in December, a new type of coronavirus was discovered, namely SARS COV 2 and was named Coronavirus Disease 2019 (COVID 19). Several experiments have shown that wearing surgical masks and N95 can protect the wearer from contracting the virus and transmitting the virus to others. The use of masks in the long term can cause problems on the skin including the emergence of , dermatitis, redness and pigmentation on the face. Maskne or Mask- is a term used when skin conditions are -prone and irritated in areas that are often covered by masks, namely in the nose to the chin area. To determine the relationship between the use of N95 masks and surgical masks on the incidence of acne vulgaris in medical personnel at Panyabungan Hospital. Analytical descriptive with a cross sectional study design where data collection was only done once and there was no follow-up to the sample. The data in this study were obtained from primary data through filling out questionnaires and analysis using the Mann Whitney test. From 54 respondents the duration of using surgical masks that cause with an average use of 6 hours/day and the duration of using surgical masks that do not cause with an average use of 6 hours/day. While the duration of using N95 masks that cause with an average use of 8 hours/day and the duration of using N95 masks that do not cause with an average use of 7.5 hours/day. The relationship between the use of surgical masks and the incidence of acne vulgaris obtained a p-value of 0.051 with = (p>o,o5), while the relationship between the use of N95 masks and the incidence of acne vulgaris obtained a p-value of 0.713 with = (p>o, o5). This shows that there is no significant relationship between the use of N95 masks and surgical masks on the incidence of acne vulgaris in medical personnel at Panyabungan Hospital.
Evaluasi tingkat akurasi penggunaan metode deep learning dengan algoritma convolutional neural network pada citra dermatoskopi untuk efisiensi diagnosis kutaneus melanoma: Sebuah telaah literatur sistematis Riri Arisanty Syafrin Lubis
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 3 (2024): Volume 18 Nomor 3
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i3.167

Abstract

Background: Cutaneous melanoma (KM) is a malignant cancer on the surface of the skin that requires immediate diagnosis. Deep learning methods using artificial intelligence with various algorithms have been applied to analyze dermatoscopy image results with the aim of making diagnosis more efficient. Purpose: To use deep learning methods with convolutional neural network (CNN) algorithms to accurately identify skin melanoma from dermatoscopy images. Method: Systematic literature review study using the Mendeley.com literature search application. The keywords used are deep learning in cutaneous melanoma. The inclusion criteria in this study are articles published in reputable international journals indexed by Scopus and have been cited, published within the last 5 years, discussing the use of deep learning methods with convolutional neural networks (CNN) algorithms in interpreting dermatoscopy image results with suspected cutaneous melanoma, and include clear accuracy values. Results: There are 15 articles that meet the inclusion criteria, the results show that the accuracy of using deep learning with the CNN algorithm reaches 92%, this accuracy exceeds the accuracy used by dermatologists and other machine learning methods. Conclusion: The application of deep learning methods with the CNN algorithm can produce accurate diagnoses in a short time. This gives hope that it can be integrated into smartphones, so that the diagnosis of skin melanoma becomes more efficient.   Keywords: Convolutional Neural Network (CNN); Cutaneous Melanoma; Deep Learning; Dermatoscopic Image.   Pendahuluan: Kutaneus melanoma (KM) merupakan kanker pada permukaan kulit yang dapat bersifat ganas, sehingga membutuhkan diagnosis segera. Metode deep learning pada kecerdasan buatan dengan berbagai algoritma telah diterapkan dalam menganalisis hasil citra dermatoskopi yang bertujuan agar penegakan diagnosis dapat lebih efisien. Tujuan: Untuk mengevaluasi akurasi penggunaan metode deep learning dengan algoritma convolutional neural network (CNN) dalam mengidentifikasi kutaneus melanoma hasil citra dermatoskopi. Metode: Studi telaah literatur sistematis menggunakan aplikasi penelusuran literatur Mendeley.com. Kata kunci yang digunakan adalah deep learning in cutaneus melanoma. Kriteria inklusi dalam penelitian ini merupakan artikel yang terpublikasi di jurnal internasional bereputasi terindeks Scopus dan telah disitasi, dipublikasi dalam waktu 5 tahun terakhir, membahas tentang penggunaan metode deep learning dengan algoritma convolutional neural networks (CNN) dalam menginterpretasi hasil citra dermatoskopi dengan dugaan kutaneus melanoma, dan mencantumkan nilai akurasi yang jelas. Hasil: Didapatkan 15 artikel yang masuk dalam kriteria inklusi, hasil menunjukkan bahwa akurasi penggunaan deep learning dengan algoritma CNN mencapai 92%, akurasi ini melampaui akurasi yang dilakukan oleh ahli dermatologi maupun metode machine learning lainnya. Simpulan: Penerapan metode deep learning dengan algoritma CNN dapat menghasilkan diagnosis yang akurat dalam waktu yang singkat. Hal ini memberikan harapan untuk dapat diintegrasikan dalam smartphone, sehingga diagnosis kutaneus melanoma menjadi lebih efisien.   Kata Kunci: Citra Dermatoskopi; Convolutional Neural Network (CNN); Deep Learning; Kutaneus Melanoma.