Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Pengaruh Pijat (Massage) terhadap Perubahan Intensitas Nyeri Rematik pada Lansia di Desa Kertapati Puskesmas Dusun Curup Bengkulu Utara Marlena, Feny; Juniarti, Rita
JURNAL KEPERAWATAN MUHAMMADIYAH BENGKULU Vol 7, No 2 (2019): JURNAL KEPERAWATAN MUHAMMADIYAH BENGKULU
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan, Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36085/jkmu.v7i2.382

Abstract

The purpose of this study was to determine the effect of massage on the intensity of rheumatic pain in the elderly in the village of Kertapati, Puskesmas, Dusun Curup, North Bengkulu. This research is a quantitative study using a quasi experimental research design with pre and post test design research designs. The sample in this study amounted to 10 people taken by purposive sampling technique. The analysis used is univariate analysis and bivariate analysis, the statistical test used is the t-dependent test. The results of the study, the average value of rheumatic pain before a massage intervention (massage) in the elderly in the village of Kertapati, Curup Hamlet North Bengkulu is 5.2 and after the intervention is 3.4. T-dependent test results found that there were significant differences in the value of pain before and after massage intervention (massage) with a value of 0,000. In conclusion, there is an effect of massage on the intensity of rheumatic pain in the elderly in the village of Kertapati, Puskesmas, Dusun Curup, North Bengkulu. It is expected to provide optimal nursing care, especially massage interventions to the elderly and can socialize massage skills to the elderly, so that they can independently massage when there is a pain attack.Keywords: Elderly, Rheumatic Pain, Massage
PENGARUH RANGE OF MOTION (ROM) AKTIF DAN PASIF TERHADAP RENTANG GERAK PADA LANSIA YANG MENGALAMI ARTITIS REMATOID DI KOTA BENGKULU Andrianti, Septi; Marlena, Feny; Septiawan, Azhari
JURNAL MEDIA KESEHATAN Vol 13 No 2 (2020): Jurnal Media Kesehatan Poltekkes Kemenkes Bengkulu Volume 13 No 2 Desember 2020
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33088/jmk.v13i2.576

Abstract

Permasalahan: Lansia mengalami kemunduran pada system musculoskeletal, penyakit artritis rematoid merupakan penyakit yang menyerang persendian pada lansia, akibat dari penyakit tersebut lansia mengalami nyeri sehingga lansia takut melakukan pergerakan yang akan mengakibatkan terjai kekauan dan menurunan pada rentang gerak. Salah satu intervensi yang dapat dilakukan untuk mengurangi kekakuan dan meningkatkan rentang gerak dilakukan Rang of Motion (ROM) baik secara aktif maupun pasif. Bengkulu memiliki angka kejadian artritis rematoid yang cukup signifkan dimana setiap tahunya mengalami peningkatan. Kejadian artritis rematoid di Kota Bengkulu pada tahun 2016 sebanyak 1.239 kasus dan pada tahun 2017 sebanyak 1.487 kasus meningkat pada tahun 2018 sebanyak 1.872 kasus. Tujuan Penelitian: untuk mengetahui pengaruh latihan range of motion (ROM) yang dilakukan secara aktif dan pasif terhadap rentang gerak pada lansia yang mengalami artritis rematoid di Kota Bengkulu. Metode Penelitian: Penelitian ini dengan Quasy experimental dengan menggunakan rancangan three group with countrol design yaitu kelompok yang diberikan ROM aktif, kelompok yang diberikan ROM pasif dan kelompok kontrol. Sampel penelitian yaitu lansia yang mengalami keterbatasan rentang gerak pada lutut sebanyak 60 lansia dengan teknik consecutive sampling. Hasil: Hasil penelitian yaitu terdapat pengaruh range of motion yang dilakukan cara aktif, pasif terhadap rentang gerak pada lansia yang mengalami artritis rematoid di Kota Bengkulu dengan p vaue < 0,005. Kesimpulan:range of motion yang dilakukan secara teratur seminggu 3 kali selama 4 minggu dapat meningkatkan derajad rentang gerak pada penderita artritis rematoid.
Hubungan kadar zinc serum dengan fungsi kognitif dalam aspek molekuler pada lanjut usia Ardiansyah, Fourni; Marlena, Feny
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 11 (2025): Volume 18 Nomor 11
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i11.605

Abstract

Background:  The prevalence of cognitive impairment worldwide, namely mild cognitive impairment over 60 years is around 42%. Cognitive impairment is usually associated with decreased neuronal apoptosis, synaptic dysfunction, decreased myelinated neurons, and thinner brain volume and cerebral cortex. With increasing age, the number of brain neuronal stem cells decreases which stimulates more calcium ions to enter neurons to protect neurons and activate cognitive function. Food intake affects brain function, including zinc which is abundant in the brain, especially the hippocampus and amygdala, so early detection of serum zinc levels is needed. Purpose: To determine the relationship between serum zinc levels and cognitive function molecularly in the elderly. Method: Quantitative research with a cross-sectional design, conducted in August - September 2024 at the Tresna Wredha rest home in Bengkulu City. The sampling technique used purposive sampling with a sample size of 60 participants. The independent variable in this study is zinc levels, while the dependent variable is cognitive function in the elderly. The data analysis used was univariate and bivariate, statistical tests using the Mann-Whitney U test. Results: The average age of the participants was 67.36 years, the majority were female 39 participants (65.0%), had junior high school education 21 participants (35%), and worked as private employees 31 participants (51.7%). The results of the Mann-Whitney U test showed that serum zinc, hemoglobin, and random blood sugar levels had a significant relationship with cognitive function (p = 0.000) based on MoCA-Ina and BDNF values. Conclusion: There is a significant relationship between serum zinc, hemoglobin, and random blood sugar levels with cognitive function in the elderly.   Keywords: Cognitive Function; Elderly; Serum Zinc.   Pendahuluan: Prevalensi gangguan kognitif di seluruh dunia, yaitu gangguan kognitif ringan di atas 60 tahun adalah sekitar 42%. Gangguan kognitif biasanya berhubungan dengan penurunan apoptosis neuron, disfungsi sinaptik, penurunan neuron bermielin, dan volume otak serta korteks serebral yang lebih tipis. Bertambahnya usia, jumlah sel induk neuron otak menurun yang merangsang lebih banyak ion kalsium memasuki neuron untuk melindungi neuron dan mengaktifkan fungsi kognitif.  Asupan makanan memengaruhi fungsi otak, termasuk zinc yang banyak terdapat di otak terutama hipokampus dan amigdala, sehingga diperlukan deteksi dini kadar zinc serum. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan kadar zinc serum dengan fungsi kognitif dalam aspek molekuler pada lanjut usia. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional, dilaksanakan dari bulan Agustus-September 2024 di panti sosial Tresna Wredha Kota Bengkulu. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan jumlah sampel yang digunakan sebanyak 60 partisipan. Variabel independen dalam penelitian ini adalah kadar zinc, sedangkan variabel dependen adalah fungsi kognitif pada lanjut usia. Analisis data yang digunakan adalah univariat dan bivariat, uji statistik menggunakan uji Mann-Whitney U. Hasil: Usia rata-rata partisipan adalah 67.36 tahun, mayoritas berjenis kelamin perempuan sebanyak 39 (65.0%), menamatkan pendidikan pada tingkat SMP sebanyak 21 partisipan (35%), dan bekerja sebagai karyawan swasta sebanyak 31 (51.7%). Uji Mann-Whitney U menunjukkan bahwa kadar zinc serum, hemoglobin, dan gula darah sewaktu memiliki hubungan signifikan dengan fungsi kognitif (p = 0.000) berdasarkan nilai MoCA-Ina dan BDNF. Simpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara kadar zinc serum, hemoglobin, dan gula darah sewaktu dengan fungsi kognitif pada lanjut usia.   Kata Kunci: Fungsi Kognitif; Lanjut Usia; Zinc Serum.
The Relationship Of Close Kinetic Chain Exercise To Functional Ability In Osteoarthritis Patients At The Citra Medika Health Center Lubuklinggau City Utami, Treida; Rusiandy, Rusiandy; Marlena, Feny
Journal Hygeia Public Health Vol 2 No 1 (2023): December
Publisher : LPPJPHKI Universitas Dehasen Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37676/jhph.v2i1.7927

Abstract

Functional ability refers to a person's capacity to perform tasks related to daily activities, which involves multiple joint and muscle groups to enhance stability. The research addresses the issue of increasing numbers of osteoarthritis patients experiencing functional impairments. The objective of this study is to examine the relationship between close kinetic chain exercise and the functional disability of elderly individuals with osteoarthritis in the Citra Medika Health Center area, Lubuklinggau City.This research employs a quantitative method with a pre-test and post-test design. The treatment group will receive theraband exercise therapy. The study's population consists of 253 individuals, with a sample size of 10 people. The data types include both primary and secondary data. Data analysis is conducted using paired t-test statistics (a parametric test).The findings reveal that the average functional ability score before the close kinetic chain exercise intervention for osteoarthritis patients in the Citra Medika Health Center area, Lubuklinggau City, was 54.50. After the intervention, the average functional ability score improved to 44.70. This indicates a significant relationship between close kinetic chain exercise and functional ability in osteoarthritis patients, with a p-value of 0.000.This research is expected to provide the Citra Medika Health Center in Lubuklinggau City, as well as the relevant professionals, with valuable data and theoretical insights to enhance the quality of nursing care services for osteoarthritis patients by implementing standardized procedures for exercise therapy.carrying out closed kinetic chain exercises in the routine activities of the Community Health Center.
HUBUNGAN PEMERIKSAAN IMUNOLOGI DAN HEMATOGI UNTUK DIAGNOSA SEPSIS PADA NEONATUS DI RS. M.YUNUS BENGKULU Cynthia Dewi, Devi; Novega, Novega; Marlena, Feny
Jurnal Fatmawati Laboratory & Medical Science Vol 4 No 2 (2024): Pentingnya pemeriksaan diri
Publisher : POLTEKKES KEMENKES BENGKULU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33088/flms.v4i2.907

Abstract

Pendahuluan : Sepsis merupakan penyebab utama angka mortalitas yang tinggi pada neonatus di negara berkembang. Untuk menegakkan diagnosis perlu dilakukan pengamatan faktor risiko, gejala klinis dan penilaian laboratorium. Aspek laboratorium salah satu kunci yang berperan penting dalam menegakkan diagnosis sepsis pada neonatus. Kombinasi parameter hematologi dan imunologi menjadi tolok ukur respon inflamasi pada infeksi baik bakteri, virus dan jamur. Hubungan antara parameter diharapkan memberikan gambaran terhadap klinisi sebagai indikator penunjang diagnosis. Tujuan : Untuk mengetahui hubungan pemeriksaan imunologi dan hamatologi untuk diagnosa sepsis pada neonatus di RS. M.Yunus Bengkulu. Metode Penelitian : Peneltian ini menggunakan penelitian deskriptif kategorik dengan desain potong lintang menggunakan data sekunder  dan data historitikal dari RS. M.Yunus Bengkulu. Sebanyak 35 neonatus yang terdiagnosis sepsis diteliti dengan data parameter hematologi (jumlah leukosit, jumlah platelet, I/T rasio, NLR dan PLR) dan parameter imunologi (CRP dan PCT) selama periode Juni sampai dengan Agustus 2024. Subjek penelitian terdiri dari 20 (57%) nenoatus laki-laki dan 15(43%) neonatus perempuan. Hasil : Pengolahan data dengan menggunakan Microsof Exel 2016 dengan menggunakan SPSS Versi  23, dengan memperhatikan kriteria penelitian, hasil perhitungan deskriptif variabel penelitian menunjukkan tren sebaran data yang tidak normal berdasarkan nilai minimum, nilai maksimum, rata-rata dan simpangan baku. Hasil uji korelasi antara parameter hematologi memberikan hasil yang berbeda. Terdapat hubungan yang tidak signifikan pada parameter jumlah leukosit dengan I/T rasio, jumlah platelet dengan NLR, dan I/T rasio dengan NLR. Masing- masing dengan nilai P < 0,05 yaitu 0,007 dan 0,010 serta nilai korelasi -0,258** dan -0,243**. Hal yang sama ditunjukkan pada parameter PLR terhadap parameter CRP dan PCT yaitu hubungan negatif yang signifikan namun dengan kekuatan hubungan yang kuat, ditunjukkan dengan nilai P < 0,05 yaitu 0,000. dan 0,000 serta nilai korelasi -0,682** dan -0,584**. Hal berbeda ditunjukkan pada parameter I/T rasio dan NLR terhadap paramameter CRP dan PCT. Kesimpulan : Dari hasil penelitian dilakukan dapat disimpulkan hasil uji korelasi menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara parameter imunologi dengan parameter hematologi sebagai indikator penunjang diagnosis pada neonatus dengan sepsis di RS.M. Yunus Bengkulu.
HUBUNGAN INDEKS MASSA TUBUH (IMT) DAN AKTIVITAS FISIK DENGAN KADAR GULA DARAH SEWAKTU PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE II DI PUSKESMAS TELAGA DEWA KOTA BENGKULU Sari, Riska Maya; Marlena, Feny; Nurhasanah, Nurhasanah
INJECTION : Nursing Journal Vol. 4 No. 1 (2024)
Publisher : LPPM STIKES BHAKTI HUSADA BENGKULU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK  Diabetes melitus tipe 2 di tandai oleh resistensi tubuh terhadap insulin yang dibuat sel beta pankreas. Masalah penelitian adalah mengapa kadar gula darah mereka terus meningkat. Tujuan diketahuinya hubungan antara IMT dan aktivitas fisik dengan kadar gula darah sewaktu pada pasien diabetes melitus tipe II yang dirawat di Puskesmas Telaga Dewa Kota Bengkulu.Metode penelitian dengan kuantitatif dan teknik total sampling dengan besar sampel 65 orang. Populasi seluruh pasien diabetes melitus tipe II di Puskesmas Telaga Dewa Kota Bengkulu. Sedangkan analisis data univariat maupun bivariat dengan menggunakan aplikasi SPSS dengan uji chi square.Hasil penelitian adalah hampir sebagian responden (60%) indeks massa tubuh tidak normal dan didapatkan juga sebagian responden (49,2%) aktivitas fisik ringan dan didapatkan juga sebagian besar responden (61,5%) kadar gula darah sewaktu meningkat. Terdapat hubungan antara indeks massa tubuh dengan kadar gula darah sewaktu dengan nilai p = 0,004. Terdapat hubungan antara aktivitas fisik dengan kadar gula darah sewaktu dengan nilai p = 0,005.Kesimpulan dan saran penelitian diharapkan dapat memberikan pelayanan kesehatan secara kompresif supaya dapat mengendalikan kadar gula dan melakukan pengukuran IMT, dan melakukan aktivitas fisik supaya berat badan pasien diabetes melitus tipe II dapat dievaluasi dan kadar glukosa dalam darah dapat terkontrol.Kata kunci : Indeks Massa Tubuh, Aktivitas Fisik, DM Tipe IIABSTRACT Type 2 diabetes mellitus is characterized by the body's resistance to insulin produced by pancreatic beta cells. The research problem is why their blood sugar levels continue to increase. The aim is to determine the relationship between BMI and physical activity with random blood sugar levels in type II diabetes mellitus patients treated at the Telaga Dewa Health Center, Bengkulu City.The research method is quantitative and total sampling technique with a sample size of 65 people. The population is all type II diabetes mellitus patients at the Telaga Dewa Health Center, Bengkulu City. While univariate and bivariate data analysis using the SPSS application with the chi square test.The results of the study were that almost all respondents (60%) had abnormal body mass index and some respondents (49.2%) had light physical activity and most respondents (61.5%) had increased random blood sugar levels. There is a relationship between body mass index and random blood sugar levels with a p value = 0.004. There is a relationship between physical activity and random blood sugar levels with a p value = 0.005.The conclusions and suggestions of the research are expected to provide comprehensive health services in order to control blood sugar levels and measure BMI, and carry out physical activity so that the weight of type II diabetes mellitus patients can be evaluated and blood glucose levels can be controlled.Keywords: Body Mass Index, Physical Activity, DM Type II