Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

REPROGRAM MALL TAMAN PALEM UNTUK MENGHIDUPKAN KEMBALI KAWASAN CENGKARENG TIMUR Henry, Daniel; Surya, Rudy
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30890

Abstract

Every place has meaning, because place is not only about physicality and activities but also about meaning. Meaning is an identity that a place has, when the memory of humans who collectively interpret a place. The loss of meaning can be caused by several things, one of which is continuous development. Taman Palem Mall also lost its identity due to development. The first mall in Cengkareng became the first modern shopping center in Cengkareng, this mall became the only gathering point in this area, residents from several villages in Cengkareng and outside Cengkareng came for their respective needs, but after the construction of the jorr toll road at that time separated Cengkareng into two, namely west and east Cengkareng, limiting access to the palm garden mall. The separation of Cengkareng resulted in only west Cengkareng which continued to experience growth while east Cengkareng where this mall is located did not experience growth, so this had an impact on the decline of this mall. The location of this mall is strategic because it is on the connecting road between areas so it has the potential to be redeveloped and drive the growth of this area. Reprogram is chosen as a method that will be done to this mall, this is expected in addition to restoring the meaning of this mall can also build the area, especially East Cengkareng. The reprogram is also based on the contextual user and the needs of the East Cengkareng area and is expected to become a new attraction for this area. Keywords: Cengkareng; contextual; development; mall taman palem; reprogram Abstrak Setiap tempat memiliki makna, karena tempat bukan hanya bicara soal fisik dan aktivitas tapi tempat juga berbicara soal makna. Makna merupakan sebuah identitas yang dimiliki suatu tempat, ketika memori manusia yang secara kolektif memaknai suatu tempat. Hilangnya makna bisa disebabkan beberapa hal, salah satunya adalah pembangunan yang terus berlanjut. Mall Taman Palem juga kehilangan identitasnya akibat pembangunan yang terjadi. Mall pertama di Cengkareng ini menjadi pusat perbelanjaan modern pertama di Cengkareng, mall ini menjadi titik kumpul satu-satunya di kawasan ini, warga dari beberapa kelurahan di Cengkareng dan diluar Cengkareng datang untuk keperluannya masing-masing, namun setelah pembangunan jalan tol jorr waktu itu memisahkan Cengkareng menjadi dua yaitu Cengkareng barat dan timur sehingga membatasi akses menuju Mall Taman Palem. Terpisahnya Cengkareng mengakibatkan hanya Cengkareng barat yang terus mengalami pertumbuhan sedangkan Cengkareng Timur tempat mall ini berada tidak mengalami pertumbuhan, sehingga ini berdampak pada menurunnya mall ini. Secara lokasi mall ini strategis karena berada di jalan penghubung antar kawasan sehingga berpontensi untuk dibangun kembali dan menggerakan pertumbuhan kawasan ini. Reprogram dipilih sebagai metode yang akan dilakukan terhadap mall ini, hal ini diharapkan selain untuk mengembalikan makna mall ini juga dapat membangun kawasan terutama Cengkareng Timur. Reprogram yang dilakukan juga didasari kontekstual user dan kebutuhan kawasan Cengkareng Timur yang dan diharapkan dapat menjadi daya tarik baru kawasan ini.
KEBERLANJUTAN IDENTITAS LOKAL: REVITALISASI PASAR BERINGIN DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL Chin, Hen; Surya, Rudy
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30892

Abstract

A space becomes a place when the area has its own identity and as time goes by, there will be a place that experiences degradation which is ultimately called a placeless place. Traditional markets are one place that often experiences this phenomenon. One of the traditional markets that experiences the placeless place phenomenon is the Beringin Market, located in Singkawang, West Kalimantan. This market was founded in 1973 and is a silent witness to the social, economic, and cultural development of Singkawang, which is rich in Chinese culture. However, as time progressed, the Beringin Market failed to adapt to modern life and experienced various problems which then slowly began to be abandoned by new generations. Now the Beringin Market has experienced a drastic decline which has made it lose its uniqueness and place of attraction to this market. Therefore, an architectural strategy is needed that can restore the meaning and identity of the Beringin Market and maintain it in the long term. This design aims to strengthen the identity, culture, economy, and historical significance of the Beringin Market by using a contextual approach method that refers to the analysis of the area from a social, cultural, natural, and physical building perspective. Through the contextual approach method, it is hoped that it can re-weave the identity and meaning eroded by the times and make the Beringin Market a cultural tourism market. Keywords:  beringin market; contextual; placeless place; Singkawang Abstrak Sebuah tempat menjadi sebuah place saat kawasan tersebut memiliki identitasnya tersendiri dan seiiring dengan berkembangnya zaman, akan ada suatu tempat yang mengalami degradasi yang akhirnya disebut sebagai placeless place. Pasar tradisional merupakan salah satu tempat yang sering mengalami fenomena ini. Salah satu pasar tradisional yang mengalami fenomena placeless place yaitu Pasar Beringin yang terletak di kota Singkawang, Kalimantan Barat. Pasar ini didirikan pada tahun 1973 dan menjadi salah satu saksi bisu dalam perkembangan sosial, ekonomi dan budaya kota Singkawang yang kaya akan budaya Tionghua. Namun seiring berkembangnya zaman, Pasar Beringin gagal dalam beradaptasi dengan kehidupan modern dan mengalami berbagai masalah yang kemudian secara perlahan pasar ini mulai ditinggalkan oleh generasi-generasi baru. Kini Pasar Beringin telah mengalami penurunan drastis yang membuatnya kehilangan keunikan dan place attactment terhadap pasar ini. Oleh karena itu, diperlukan sebuah strategi arsitektural yang dapat mengembalikan makna dan identitas dari Pasar Beringin dan mempertahankannya dalam jangka panjang. Tujuan dari desain ini yaitu untuk memperkuat kembali identitas, budaya, ekonomi dan makna sejarah dari Pasar Beringin dengan menggunakan metode pendekatan kontekstual yang mengacu pada analisis kawasan dari segi sosial, budaya, alam, dan fisik bangunan. Melalui metode pendekatan kontekstual, diharapkan dapat merajut kembali identitas dan makna yang terkikis oleh perkembangan zaman serta menjadikan Pasar Beringin sebagai pasar wisata-budaya.
PENGEMBALIAN IDENTITAS SENEN SEBAGAI SENTRA BUKU DENGAN METODE PLACEMAKING Halim, Hartono; Surya, Rudy
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 1 (2025): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i1.33918

Abstract

Senen is an area that is quite synonymous with booksellers since the 1970s. A famous bookstore, Gunung Agung, was also established in 1953 in Senen, Kwitang. Booksellers are also lined up along the roads in the Senen area, especially Kwitang. In 2008, the booksellers relocated, they moved to different places and some also rented a shophouse together in Kwitang. However, over the years, book sales and the number of visitors have decreased, especially during the pandemic. Senen's identity as an area synonymous with book sales also decreased due to advancing times so that the presence of printed books has been replaced by e-books. Even then, booksellers also complain about people’s low interest in reading.giving rise to a condition of "placelessness". Therefore, this project aims to attract the attention of those who like and don't like reading. There are several programs provided to increase interest in reading, such as exhibitions, theater, and others. Because the books generally sold by booksellers in the Senen area are used books, there is also room for restoring books. The method that will be used for this project is the placemaking method, which is a design approach where the aim of the design is to strengthen relationships between users and with a place. What we want to emphasize is the local identity of Senen, especially Kwitang, as an area famous for sales. books so that Senen's identity as an area synonymous with books returns. Keywords:  book; identity; placelessness; placemaking Abstrak Senen adalah kawasan yang cukup identik dengan pedagang buku sejak tahun 1970-an. Toko buku yang cukup terkenal yaitu Toko Buku Gunung Agung juga berdiri di Senen, Kwitang pada tahun 1953. Para pedagang buku pun berjejeran di sepanjang jalan kawasan Senen, terutama Kwitang. Pada tahun 2008, para pedagang buku mengalami relokasi, mereka berpindah menuju tempat yang berbeda dan ada juga yang menyewa ruko bersama-sama di Kwitang. Namun seiring tahun, penjualan buku dan jumlah pengunjung semakin menurun, terutama pada saat pandemi. Identitas Senen sebagai kawasan yang identik dengan penjualan buku juga semakin menurun karena kehadiran buku cetak tergeserkan oleh kehadiran e-book. Selain itu, para pedagang juga mengeluhkan rendahnya minat baca di kalangan masyarakat sehingga menimbulkan kondisi “placelessness”. Oleh karena itu, proyek ini bertujuan untuk menarik perhatian masyarakat yang gemar maupun yang kurang gemar membaca. Terdapat beberapa program yang disediakan untuk meningkatkan minat membaca seperti exhibisi, teater, dan lain-lain. Karena buku yang umumnya dijual pedagang di Kawasan Senen merupakan buku bekas, maka terdapat juga ruang untuk merestorasi buku. Untuk metode yang akan digunakan untuk proyek ini adalah metode placemaking, yang merupakan pendekatan desain dimana tujuan dari sebuah desain tersebut adalah mempererat hubungan antar pengguna dan dengan suatu tempat, hal yang ingin ditekankan adalah identitas lokal Senen, terutama Kwitang, sebagai kawasan yang terkenal akan penjualan buku agar identitas Senen sebagai kawasan yang identik dengan buku kembali.
MENGHIDUPKAN KEMBALI AKTIVITAS PERDAGANGAN DI SENEN JAKARTA PUSAT: DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL Shalsabilla, Auliya Ananti; Surya, Rudy
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 1 (2025): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i1.33919

Abstract

A place is called a place because the place has a strong meaning or identity. A place can be said to be placeless place, which is caused by environmental transformation that damages the character of a place so that it loses its distinctive identity. Senen is an area that has been famous for its trade since 1733. Many traders sell there, ranging from large shops to small traders. A phenomenon that is quite concerning is that many shops around Senen have closed, especially in the Senen market area which has begun to degrade with global changes and many traders who are not neatly arranged who trade around the Senen market. Therefore, steps are needed in the form of architectural strategies that can revive closed shops in the Senen area. By designing a place that facilitates traders, such as providing a place for trader training so that later traders can be trained. The arrangement of the trading location in Senen aims to make this location a more organized place, so that the identity known as a trading area is not lost with the development of the times. In addition, it is also equipped with several other functions that are expected to be interconnected. The method used is contextual architectural methods, the building will integrate with the surrounding environment both in terms of physical, social and historical conditions, so that the character of the designed building does not damage the character of the surrounding area. Keywords: contextual; placeless place; senen; trade; traders Abstrak Suatu tempat dikatakan place karena tempat tersebut memiliki makna atau identitas yang kuat. Sebuah place bisa di katakan placeless place yaitu disebabkan oleh transformasi lingkungan yang merusak karakter sebuah tempat sehingga kehilangan identitas khasnya. Senen merupakan kawasan yang terkenal dengan perdagangannya sejak tahun 1733. Banyaknya pedagang yang berjualan di sana mulai dari toko-toko besar sampai pedagang kecil. Fenomena yang cukup menjadi perhatian yaitu banyak toko-toko di sekitaran Senen yang tutup, terutama pada bagian pasar Senen yang mulai terdegradasi dengan perubahan global dan banyaknya pedagang yang tidak tertata dengan rapih yang berdagang di sekitar pasar Senen. Oleh karena itu diperlukan langkah berupa strategi arsitektural yang dapat menghidupkan kembali toko yang tutup pada kawasan Senen. Dengan mendesain sebuah tempat yang memfasilitasi pedagang, seperti menyediakan tempat pelatihan pedagang agar nantinya pedagang dapat terlatih. Penataan lokasi perdagangan di Senen ini memiliki tujuan untuk membuat lokasi ini menjadi tempat yang lebih tertata, agar identitas  yang dikenal sebagai kawasan perdagangan tidak hilang dengan perkembangan zaman. Selain itu juga di lengkapi dengan beberapa fungsi lainnya yang diharapkan dapat saling berkoneksi. Metode yang dilakukan dengan menggunakan metode kontekstual arsitektur, bangunan akan berintegrasi dengan lingkungan di sekitar baik dari segi fisik, keadaan sosial, sejarah, sehingga karakter bangunan yang dirancang tidak merusak karakter kawasan sekitar.
PENERAPAN KONSEP ARSITEKTUR BIOPHILIC PADA FASILITAS PENGOLAHAN LIMBAH ORGANIK DI KAWASAN PASAR KEBAYORAN LAMA Tandjung, Michael Emmanuel; Surya, Rudy
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i2.35542

Abstract

Environmental problems caused by the accumulation of organic waste, particularly in traditional market areas, have become a crucial issue that requires sustainable solutions. A significant increase in organic waste production has occurred in the Kebayoran Lama Market area due to the high level of activity in the area, which generates large amounts of organic waste every day. Most organic waste is disposed of directly without undergoing effective processing, thereby increasing the environmental burden. This study examines the application of biophilic architecture concepts in organic waste processing facilities in the Kebayoran Lama Market area as an effort to create processing spaces that are not only functional but also have a positive impact on the environment and the quality of life of the surrounding community. The objective of this study is to provide organic waste treatment facilities that produce environmentally friendly products by applying the biophilic concept, thereby helping to reduce environmental pollution caused by improperly managed waste. The methods used in this research include a qualitative-descriptive approach through literature review, field observation, and site analysis. The results of the study indicate that the integration of biophilic elements such as natural lighting, cross ventilation, vegetation, and visual connections with nature can enhance user comfort and strengthen ecological awareness. Thus, the design of organic waste processing facilities that apply biophilic architectural principles has the potential to become an environmentally friendly and sustainable architectural solution in densely populated urban areas such as Pasar Kebayoran Lama. Keywords: Biophilic architecture; Kebayoran Lama; organic waste treatment; sustainable design; traditional market Abstrak Permasalahan lingkungan akibat penumpukan limbah organik, khususnya di kawasan pasar tradisional, menjadi isu krusial yang memerlukan solusi berkelanjutan. Peningkatan produksi limbah organik yang sangat signifikan terjadi di kawasan Pasar Kebayoran Lama dikarenakan kawasan padat aktivitas yang menghasilkan limbah organik dalam jumlah besar setiap harinya. Limbah organik sebagian besar disalurkan ke pembuangan akhir tanpa melewati proses yang efektif sehingga menambah beban lingkungan. Penelitian ini mengkaji penerapan konsep arsitektur biophilic pada fasilitas pengolahan limbah organik di kawasan Pasar Kebayoran Lama sebagai upaya menciptakan ruang pengolahan yang tidak hanya fungsional, tetapi juga memberikan dampak positif terhadap lingkungan dan kualitas hidup masyarakat sekitar. Studi ini bertujuan untuk adalah dengan menyediakan fasilitas pengolahan limbah organik yang akan menghasilkan produk ramah lingkungan dengan menerapkan konsep biophilic, untuk membantu mengurangi pencemaran pada lingkungan yang disebabkan oleh limbah yang tidak dikelola dengan baik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif-deskriptif melalui studi literatur, observasi lapangan, dan analisis tapak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi elemen-elemen biophilic seperti pencahayaan alami, ventilasi silang, vegetasi, serta hubungan visual dengan alam dapat meningkatkan kenyamanan pengguna dan memperkuat kesadaran ekologis. Dengan demikian, desain fasilitas pengolahan limbah organik yang menerapkan prinsip-prinsip arsitektur biophilic berpotensi menjadi solusi arsitektural yang ramah lingkungan dan berkelanjutan di kawasan urban padat seperti Pasar Kebayoran Lama.
PENERAPAN ARSITEKTUR REGENERATIF BERBASIS SISTEM POLDER DAN MATERIAL BIODEGRADABLE DI KAWASAN KUMUH PESISIR PENJARINGAN, JAKARTA UTARA Horison, Muhammad Kenzie; Surya, Rudy
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i2.35543

Abstract

Coastal slums such as Penjaringan Urban Village, North Jakarta, face environmental pressures from tidal flooding, sewage pollution and uncontrolled urbanisation. The lack of public awareness of the importance of water management and the use of environmentally friendly materials exacerbates the degradation of coastal ecosystems. This research aims to develop a regenerative architectural design based on polder system and biodegradable materials that can address the environmental and social issues in the area. The design is expected to improve environmental resilience through effective flood control and the use of biodegradable natural building materials. The methods used were literature review and case study and supplemented by field interviews with affected residents in RT 014, 015, and 017. The results show that the integration of polder systems with retention ponds and closed drainage can significantly reduce flooding, while the use of materials such as bamboo and clay provide adaptive and low-carbon building solutions. These findings contribute to the development of resilient and sustainable coastal architecture. The research also emphasises the importance of community participation and nature-based design approaches to create regenerative environments in coastal slums that previously overlooked. This approach shows the potential of transforming slum neighbourhoods into inclusive residential areas. Keywords: Architecture; biodegradable; polder; regenerative; slum Abstrak Permukiman kumuh pesisir seperti Kelurahan Penjaringan, Jakarta Utara, menghadapi masalah lingkungan dari banjir rob, pencemaran limbah, dan urbanisasi yang tidak terkendali. Kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pengelolaan air dan penggunaan material ramah lingkungan memperburuk degradasi ekosistem pesisir. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan desain arsitektur regeneratif berbasis sistem polder dan material biodegradable yang dapat mengatasi masalah lingkungan dan sosial di area tersebut. Desain ini diharapkan dapat meningkatkan ketahanan lingkungan melalui pengendalian banjir yang efektif dan penggunaan material bangunan alami biodegradable. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan cara melakukan studi literatur dan studi kasus, dan dilengkapi dengan wawancara lapangan dengan warga yang terkena dampak di RT 014, 015, dan 017. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi sistem polder dengan kolam retensi dan drainase tertutup dapat secara signifikan mengurangi banjir, sementara penggunaan material seperti bambu dan tanah liat memberikan solusi bangunan yang adaptif dan rendah karbon. Temuan-temuan ini berkontribusi pada pengembangan arsitektur pesisir yang tangguh dan berkelanjutan. Penelitian ini juga menekankan pentingnya partisipasi masyarakat dan pendekatan desain berbasis alam untuk menciptakan lingkungan regeneratif di daerah kumuh pesisir yang sebelumnya terabaikan. Pendekatan ini menunjukkan potensi mengubah lingkungan kumuh menjadi area hunian yang inklusif.
PENATAAN RUANG BERBASIS DESAIN KONTEKSTUAL UNTUK MENGEMBALIKAN FUNGSI PEMUKIMAN PULAU PRAMUKA Phang, Kevin; Surya, Rudy
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i2.35544

Abstract

On Pramuka Island, Kepulauan Seribu, development pressure from the tourism sector and a lack of usable land have created a serious problem of land degradation. When residential spaces are converted into commercial spaces such as hotels and restaurants, the social life of the neighborhood is disrupted and the quality of the environment degrades. Using a contextual design approach that is sensitive to the local environment, social dynamics, and cultural norms, this research seeks to restore Pramuka Island as a sustainable residential environment. The importance of architectural design as a directed effort to reimagine space holistically, taking into account the harmony between humans and nature, is also emphasized in this research. The research utilized a qualitative methodology that included field observations, interviews, literature analysis, and examination of related architectural precedents. The Floating Kayak Club, Wayss Youth Hub, and Oceanix City are examples of precedent studies that offer ideas for flexible and modular solutions to aquatic environmental problems. The findings suggest that by combining ideas of modularity, sustainability and hybrid symbiosis, contextual design-based spatialplanning techniques can overcome land limitations and conflicts of spatial functions. Adaptive zoning based on community activities, the use of coral concrete as a material that benefits the marine ecosystem, and a design approach that considers local culture and climate are some of the suggested answers. These strategies can help the residential area of Pulau Pramuka return to its original function while still taking into account the economic and tourism characteristics of the island. In addition, this study can also serve as a basis for designs that can be applied in other coastal areas facing similar problems. In addition, the application of this approach is expected to create a built environment that is innovative, robust, and able to improve the welfare of the community in a sustainable manner. Keywords:  Commercial; contextual; degradation; settlement Abstrak Di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, tekanan pembangunan dari sektor pariwisata dan kurangnya lahan yang dapat digunakan menimbulkan masalah serius berupa degradasi lahan. Ketika ruang-ruang hunian dikonversi menjadi ruang-ruang komersial seperti hotel dan restoran, kehidupan sosial di lingkungan tersebut terganggu dan kualitas lingkungan menurun. Dengan menggunakan pendekatan desain kontekstual yang peka terhadap lingkungan lokal, dinamika sosial, dan norma-norma budaya, penelitian ini berupaya mengembalikan Pulau Pramuka sebagai lingkungan hunian yang berkelanjutan. Pentingnya desain arsitektur sebagai upaya terarah untuk menata ulang ruang secara holistik, dengan mempertimbangkan keselarasan antara manusia dan alam, juga ditekankan dalam penelitian ini. Penelitian ini menggunakan metodologi kualitatif yang mencakup observasi lapangan, wawancara, analisis literatur, dan pemeriksaan preseden arsitektur terkait. Floating Kayak Club, Wayss Youth Hub, dan Oceanix City merupakan contoh studi preseden yang menawarkan ide untuk solusi yang fleksibel dan modular untuk masalah lingkungan akuatik. Temuan-temuan tersebut menunjukkan bahwa dengan menggabungkan ide-ide modularitas, keberlanjutan, dan simbiosis hibrida, teknik perencanaan tata ruang berbasis desain kontekstual dapat mengatasi keterbatasan lahan dan konflik fungsi ruang.  Zonasi adaptif berdasarkan aktivitas masyarakat, penggunaan beton koral sebagai material yang bermanfaat bagi ekosistem laut, dan pendekatan desain yang mempertimbangkan budaya dan iklim lokal adalah beberapa jawaban yang disarankan. Strategi ini dapat membantu area permukiman Pulau Pramuka kembali ke fungsi awalnya dengan tetap memperhatikan karakteristik ekonomi dan pariwisata pulau tersebut. Selain itu, studi ini juga dapat menjadi dasar bagi desain yang dapat diaplikasikan di wilayah pesisir lain yang menghadapi masalah serupa. Selain itu, penerapan pendekatan ini diharapkan dapat menciptakan lingkungan binaan yang inovatif, kuat, dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.