Ariwibowo, Gregorius Andika
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PENANGANAN BENCANA LETUSAN GUNUNG GALUNGGUNG PADA TAHUN 1982-1983 Ariwibowo, Gregorius Andika
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 18 No. 2 (2017)
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5992.433 KB) | DOI: 10.52829/pw.38

Abstract

Letusan Galunggung merupakan salah satu bencana besar di Indonesia. Meskipun letusan ini tidak menelan jumlah korban jiwa yang besar, namun letusan yang berlangsung selama sekitar delapan bulan ini telah mempengaruhi kehidupa sehari-hari penduduk di tiga kabupaten di Jawa Barat. Kajian ini mencoba menjabarkan mengenai upaya pemerintah, terutama pemerintahan orde baru dalam penanganan bencana letusan Galunggung. Penanganan bencana merupakan upaya penanganan langsung terhadap para korban sesaat setelah bencana terjadi. Kajian ini menggunakan metodologi sejarah dengan menggali pada sumber-sumber yang merekam dan mendokumentasikan peristiwa ini. Kesimpulan dari kajian ini adalah bahwapemerintah orde baru menggunakan perangkat sipil dan militer dalam upaya penanganan bencana. Pengaruh dari konsolidasi penanganan yang dilakukan secara sistematik in berjalan dengan sangat baik antara aparat pemerintah, peneliti, militer, dan tim SAR dalam menangani para pengungsi dan dampak bencana yang lain.Galunggung eruption was one of the enormous disaster in Indonesia. Although not killed so many people, Galunggung eruption hit continuously around eight months and crackdown in a most density population area in three regency areas in West Java province. This chapter point is want observe the roles of government to manage disaster relief, especially during Galunggung eruption disaster by the New Order regime. Disaster relief refers to interventions aimed at meeting the immediate needs of the victims of a disastrous event. This studies used a historiography methodology to reconstruct disaster relief event of Galunggung eruption. Conclusion of this study underlines that New Order used their civil and military power to manage the situation in Galunggung. The impact was so good because they used a systematic order to consolidate many organization from local government, researcher, and Save and Rescue (SAR) to handle the situation.
KARESIDENAN PRIANGAN DI MATA PARA PELANCONG PADA PERTENGAHAN ABAD KE-19 HINGGA AWAL ABAD KE-20 Ariwibowo, Gregorius Andika
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 16 No. 3 (2015)
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (123.965 KB) | DOI: 10.52829/pw.70

Abstract

Artikel ini mengupas tentang travelogue atau jurnal perjalanan para pelancong yang berasal dari Eropa dan Amerika Serikat yang mengunjungi Karesidenan Priangan. Di samping juga mengenai bagaimana para pelancong ini memandang Jawa, terutama Priangan, beserta alam dan masyarakatnya. Meskipun perkembangan pariwisata di Hindia Belanda baru dimulai pada sekitar awal Abad Ke-20, namun kunjungan para turis yang sengaja ingin berlibur dan menjelajahi Hindia Belanda telah dimulai pada pertengahan Abad ke-19. Kajian ini menggunakan metode penulisan sejarah seperti penentuan tema, penelusuran sumber, kritik sumber, dan pada tahap terakhir yakni penulisan karya sejarah. Melalui travelogue tampak suatu bentuk keseharian dari para turis, elit kolonial, penduduk pribumi dan Eropa, serta hal-hal yang terkadang “hilang” dalam mengangkat sisi humanisme dan keseharian dalam kajian Historiografi Indonesia.This study want to analized about travelogue or travellers journal which written by travellers that came from abroad to Preanger Regency in the middle of 19th century until early 20th century. Furthemore this study will describe how the impressions of the traveller about Priangan Regency in the middle of 19th century until early 20th century. Even though development of Netherland Indies tourism just started in the early of 20th century, but traveller invitation to this region just started since early of middle of 19th century. This study will use methodology of historical studies such as tittle choosing, discovering, and criticizing of source and historiography written. With travelogue studies that written by traveller that came to Netherland Indies, we will know about another perspective of daily life hstory from thetourist selves, colonial elite, and of course common people that lived in Preanger Regency. Furthemore this studies will be force humanism and daily life studies that sometimes “missed” from Indonesian Historiography researched.