Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Correlation between Head Computed Tomography Scan Examination and Cranial Index Measurement in Pediatric Hydrocephalus Zulfariska, Nony; Anandasari, Pande Putu Yuli; Margiani, Ni Nyoman; Sitanggang, Firman Parulian; Patriawan, Putu; Widiana, I Gde Raka
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 22, No 1 (2022): January
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v22i1.12464

Abstract

Hydrocephalus in children can inhibit child growth. However, if treated immediately, the patient will develop normal intelligence. In radiology, the most important problem is to detect hydrocephalus early. Currently, radiology examinations can detect hydrocephalus accurately with a CT scan to identify the presence of blockages and assess the degree. Skull radiography is used to assess the presence of advanced hydrocephalus. A comparison is carried out and assesses the relationship between hydrocephalus measurement on the ventricular and cranial index by scanogram. The study used a cross-sectional analytics design, using Picture Archiving and Communication System (PACS) data. There were 68 samples taken using consecutive sampling, obtaining ventricular index measurement results above 0.30, and patients under 12 years old. Spearman rank test showed a correlation between the ventricular index measurements and cranial index, with Spearman’s Rho (r) = 0.856 and p0.001 with linear equation Y= 2.973 + 0.005X. It revealed that the constant 2.973 indicated that if there is no B coefficient value, the participation value will be 2.973. Furthermore, regression coefficient X of 0.005 indicated that the participation value grows by 0.005 for every 1 addition of the B coefficient value with R2= 0.340.
HUBUNGAN ANTARA LEUKOARAIOSIS DAN ATROFI KORTIKAL GLOBAL PADA LANSIA Eveline, Ency; Sitanggang, Firman Parulian; Ayusta, I Made Dwijaputra; Putra, I Wayan Gede Artawan Eka; Anandasari, Pande Putu Yuli; Margiani, Ni Nyoman
E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 6 (2022): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2022.V11.i06.P14

Abstract

ABSTRAK LATAR BELAKANG: Prevalens leukoaraiosis dan atrofi kortikal global (GCA) meningkat seiring dengan meningkatnya usia. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan apakah leukoaraiosis merupakan faktor risiko terjadinya GCA dan derajat leukoaraiosis berapakah yang berhubungan dengan kejadian GCA. METODE: Penelitian ini melibatkan 100 lansia yang berobat ke IGD RSUP Sanglah Denpasar yang melakukan CT-Scan kepala dengan indikasi apapun pada periode Juli 2021 hingga Januari 2022. Pemilihan sampel dilakukan secara simple random sampling menggunakan aplikasi random number generator. HASIL: Rerata usia subjek didapatkan 71,7 ± 7,7 tahun, 59% berjenis kelamin perempuan, 52% memiliki riwayat hipertensi, 29% riwayat dislipidemia, dan 13% merokok. Mayoritas yaitu 72% subjek menderita leukoaraiosis dan 67% menderita atrofi. Uji perbandingan kejadian atrofi berdasarkan leukoaraiosis menunjukkan 80,6% lansia dengan leukoaraiosis menderita atrofi dengan prevalence ratio 2,5 dan nilai P<0,001. Lalu dilakukan analisis perbandingan proporsi yang membandingkan derajat leukoaraiosis dan skala atrofi dengan membuat tabulasi silang. Hasil uji linear by linear association didapatkan koefisien korelasi Spearman sebesar r=0,535 dengan nilai P<0,001 yang menunjukkan korelasi positif dengan kekuatan korelasi sedang antara derajat leukoaraiosis dan skala atrofi. Analisis multivariat menggunakan uji regresi Poisson menunjukkan adanya hubungan antara leukoaraiosis dan atrofi kortikal global setelah mengontrol variabel perancu by analysis dimana didapatkan hasil adjusted prevalence ratio sebesar 2,2 dengan nilai P=0,034. SIMPULAN: Leukoaraiosis secara independen memberikan peluang terjadinya atrofi sebanyak 2,2 kali pada lansia. Derajat leukoaraiosis yang mulai berhubungan dengan kejadian atrofi adalah sejak derajat ringan. Kata kunci: Leukoaraiosis, atrofi kortikal global, lansia
HUBUNGAN ANTARA HIPERTENSI DENGAN KEJADIAN COVID-19 YANG BERGEJALA DI RSUP SANGLAH TAHUN 2020 Natalie, Velisia Putri; Lay, Daniel Setiawan; Sitanggang, Firman Parulian; Laksminingsih, Nyoman Srie; Martadiani, Elysanti Dwi
E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 2 (2023): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2023.V12.i02.P10

Abstract

Adanya penyakit penyerta diketahui meningkatkan kerentanan pasien untuk tertular COVID-19 dan mempengaruhi tingkat keparahan seseorang yang telah terinfeksi Sars-CoV-2. Hipertensi merupakan salah satu penyakit kronis yang sudah ada sebelumnya yang dianggap meningkatkan risiko infeksi dan keparahan infeksi, karena prevalensinya pada pasien COVID-19 di Indonesia. Dua ratus dua puluh empat (224) pasien dengan gambaran radiografi pneumonia di RSUP Sanglah dari Maret 2020 sampai Desember 2020 memenuhi kriteria inklusi penelitian. Informasi tambahan yang dikumpulkan meliputi usia, jenis kelamin, tes RT-PCR COVID-19, dan riwayat hipertensi, dan semua data dianalisis menggunakan regresi linier. Dari 224 subjek, 189 (84,4%) pasien terkonfirmasi positif COVID-19 melalui tes RT-PCR. Proporsi pasien COVID-19 pria dan wanita serupa. Ditemukan proporsi lansia atau lansia tertinggi di antara seluruh pasien COVID-19 (86 pasien, 45,5%). Riwayat hipertensi ditemukan pada dua pertiga dari seluruh pasien COVID-19 (64 pasien, 33,8%), dan secara signifikan mempengaruhi pasien COVID-19 yang bergejala (p=0,013). Usia, jenis kelamin, dan hipertensi secara bersamaan memengaruhi COVID-19 (sig=.000). Pada saat penelitian ini dilakukan, sebagian besar pasien pneumonia secara radiografik disebabkan oleh infeksi Sars-CoV-2. Penelitian ini juga menemukan korelasi yang signifikan antara riwayat hipertensi dengan gejala COVID-19. Usia dan jenis kelamin tidak memiliki peran dalam menentukan kerentanan dan tingkat keparahan COVID-19. Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk menggambarkan penyakit kronis lainnya sebagai komorbiditas pada infeksi COVID-19 mengenai besarnya dalam menyebabkan perbedaan kerentanan dan keparahan pada pasien COVID-19.
PREVALENSI SINUSITIS MAKSILARIS DITINJAU DARI GAMBARAN RADIOLOGIS PASIEN RINITIS DI RSUP SANGLAH Jelita, Kadek Intan; Sitanggang, Firman Parulian; Martadiani, Elysanti Dwi; Ayusta, I Made Dwijaputra
E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 6 (2022): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2022.V11.i06.P06

Abstract

Kondisi rinitis dapat diperburuk dengan adanya komorbiditas dengan sinusitis yang dapat juga menjadi satu istilah rinosinusitis. Sinusitis maksilaris merupakan jenis sinusitis yang paling banyak dijumpai. Saat ini, Foto Waters dan MSCT (Multisliced Computerized Tomography) Scan merupakan modalitas radiologis yang umum digunakan untuk mendiagnosis sinusitis maksilaris. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui prevalensi sinusitis maksilaris pada pasien rinitis dengan menggunakan Foto Waters dan MSCT scan sebagai alat diagnosis. Pasien rinitis yang diperiksa di RSUP Sanglah dari bulan Januari 2018 hingga bulan Agustus 2019 digunakan sebagai sampel penelitian. Kemudian dilakukan pengumpulan data sekunder tentang jumlah pasien rinitis yang melakukan pemeriksaan radiologis, jenis kelamin, usia, dan gambaran radiologis yang didapatkan. Gambaran radiologis yang didata adalah penebalan mukosa, perselubungan dan air-fluid level. Dari 50 sampel pasien rinitis yang diteliti, didapatkan 17 pasien rinitis (34%) mengalami deviasi septum, dan 18 pasien (36%) mengalami hipertrofi konka. Sebanyak 16 pasien (32%) melakukan pemeriksaan radiologis, dan sebanyak 34 pasien (68%) tidak melakukan pemeriksaan radiologis. Sebanyak 13 pasien (26%) menderita sinusitis maksilaris dan 37 pasien (74%) tidak mengalami kelainan. Didapatkan juga adanya perbedaan hasil pada pasien yang melakukan kedua pemeriksaan (Foto Waters dan MSCT Scan). Sinusitis maksilaris diderita lebih banyak pada perempuan sebanyak 7 orang (53,85%) dan pada laki-laki sebanyak 6 orang (46,15%). Penderita terbanyak didapatkan pada kelompok usia 15-29 tahun sebanyak 5 pasien (38,46%). Gambaran terbanyak pada Foto Waters adalah perselubungan sebanyak 3 penderita (75%), dan pada MSCT Scan adalah penebalan mukosa sebanyak 8 penderita (80%). Terdapat 2 sampel (4%) menderita sinusitis etmoidalis dan 1 pasien (2%) menderita pansinusitis. Kata Kunci: Rinitis, Sinusitis Maksilaris, Foto Waters, MSCT Scan
Pencitraan Computed Tomography Pada Pasien Trauma Thoracolumbar RSUP PROF. DR. I.G.N.G. Ngoerah Tahun 2022 Samantha, Vicky; Sitanggang, Firman Parulian; Martadiani, Elyasanti Dwi; Asih, Made WIdhi
Health Information : Jurnal Penelitian Content Digitized
Publisher : Poltekkes Kemenkes Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Trauma thoracolumbar merupakan salah satu jenis trauma pada tulang yang dapat menyebabkan disabilitas, deformitas dan defisit neurologis, baik secara transien maupun permanen. Dampak keterlambatan diagnosis trauma thoracolumbar dapat menyebabkan kecacatan secara permanen dan mengurangi kualitas hidup. Oleh karena itu, klasifikasi berdasarkan pencitraan perlu dilakukan sesegera mungkin untuk mendapatkan penanganan yang tepat. Penelitian bertujuan untuk mengetahui karakteristik gambaran radiologi computed tomography pada pasien trauma thoracolumbar RSUP Prof. Dr. I.G.N.G Ngoerah tahun 2022. Metode yang digunakan penelitian ini adalah metode cross sectional dengan jenis penelitian berupa deskriptif retrospektif. Pengumpulan sampel diperoleh melalui data pasien dengan trauma thoracolumbar di RSUP Prof. Dr. I.G.N.G. Ngoerah pada tahun 2022. Analisis data penelitian ini berupa analisis deskriptif berupa frekuensi dan persentase pada data kategorik serta rata-rata dan standar deviasi pada data numerik menggunakan software Statistical Product and Service Solution (SPSS) versi 26.0. Berdasarkan usia, didapatkan responden terbanyak yang mengalami trauma thoracolumbar berada pada usia 51-59 (31,3%). Berdasarkan jenis kelamin, pasien laki-laki (68,7%) dan perempuan (31,3%). Berdasarkan gejala klinis, pasien dengan nyeri punggung (90,7%) dan gangguan neurologis (28,1%). Berdasarkan riwayat pencitraan radiologis, didapatkan listhesis (21,9%), korpus kompresi (100%), korpus retropulsi (78,1%), dislokasi facet (6,3%), interspinous distance (3,1%). Berdasarkan tipe trauma dapat dibagi menjadi tiga, yaitu tipe compression (15,6%), tipe burst (78,1%), dan tipe chance (12,5%). Rerata canal encroachment juga ditemukan sebesar 37,63 ± 27,97. Karakteristik responden yang terbagi dalam 4 kategori, yaitu usia, jenis kelamin, gejala klinis, dan pencitraan radiologis dengan CT Scan
Nilai Diagnostik Ultrasonografi Hepatobilier sebagai Prediktor Atresiabilier pada Kolestasis Bayi di RSUP Sanglah Denpasar Tahun 2017 - 2021 Agustina, Kristin; Anandasari, Pande Putu Yuli; Sitanggang, Firman Parulian; Putra, I Wayan Gede Artawan Eka; Asih, Made Widhi; Patriawan, Putu
Jurnal Kesehatan Andalas Vol. 12 No. 1 (2023): Online March 2023
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v12i1.2156

Abstract

Hepatobiliary ultrasound is the most common initial diagnostic modality in the early detection of biliary atresia. It is not the gold standard, but the hepatobiliary ultrasound examination can be used to determine the appropriate further management. Objective: To determined the diagnostic value of ultrasound examination as a predictor of biliary atresia in cholestasis of infants. Methods: This was an observational study with a diagnostic test to determine the validity of hepatobiliary ultrasound as a predictor of biliary atresia with cholangiography as the gold standard. The research subjects were 40 infants taken by total sampling from January 2017 until December 2021. Data were obtained from medical records, hepatobiliary ultrasound images were accessed from PACS, and cholangiography results from SIMARS. The hepatobiliary ultrasound images were scored by two observers using a scoring table. The variables assessed included: gallbladder morphology, absence of common bile duct, triangular cord sign, gallbladder contraction index and liver morphology. Data analysis consisted of interobserver reliability test, and relationship assessment analysis. Diagnostic tests to determine the optimal cut-off score, sensitivity, specificity, positive predictive value, negative predictive value and accuracy. Results: At cut-off≥ 5, the number of patients with radiologically impressive biliary atresia was 26 and not biliary atresia was 14. The validity analysis showed a sensitivity 87.5%, specificity 68.8%, positive predictive  80.8%, negative predictive 78.6%, and accuracy 80%. Conclusion: The diagnostic value of hepatobiliary ultrasound as a predictor of biliary atresia in cholestasis of infants is good.Keywords:  biliary atresia, hepatobiliary ultrasound, neonatal cholestasis
Peran Skor Brixia sebagai Prediktor Kejadian Coronavirus Disease-19 (COVID-19)-associated Hemostatic Abnormalities (CAHA) Berdasarkan Kadar D-dimer Fiona, Fiona; Margiani, Ni Nyoman; Sitanggang, Firman Parulian; Eka Putra, I Wayan Gede Artawan; Anandasari, Pande Putu Yuli; Ayusta, I Made Dwijaputra
Majalah Kedokteran Indonesia Vol 73 No 3 (2023): Journal of The Indonesian Medical Association - Majalah Kedokteran Indonesia, Vo
Publisher : PENGURUS BESAR IKATAN DOKTER INDONESIA (PB IDI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47830/jinma-vol.73.3-2023-954

Abstract

Introduction: Coronavirus Disease-19 (COVID-19) is a systemic disease that causes complications in respiratory system and coagulopathy, which is called COVID-19-associated hemostatic abnormalities (CAHA). The Brixia chest X-ray scoring system may benefit in detecting CAHA. This study aims to investigate the role of the Brixia score as a predictor of CAHA based on D-dimer levels. Methods: This was a cross-sectional study that used medical records from Radiology Installation, Sanglah General Hospital, Bali, during August 2020 until August 2021. Subjects were confirmed and hospitalized COVID-19 patients with mild to critical degree and aged 18-59 years old. Any other pulmonary diseases than COVID-19 in X-ray was excluded. Brixia score was determined independently and blindly determined by two radiologists. The incidence of CAHA was defined as an elevation of D-dimer in pulmonary COVID-19. We conducted interobserver Bland-Altman, followed by correlation test, receiver operating characteristic (ROC) analysis, and multiple logistic regression test to control for confounding factors. Result: This study included 70 subjects selected through random sampling. We found a positive correlation between the Brixia score and D-dimer levels (r=0.329, p less than 0.05). The ROC analysis indicated that a Brixia score cut-off ≥10 is the best predictor of CAHA, with a positive predictive value of 95.8% and a negative predictive value of 40.9%. Subjects with a Brixia score ≥10 were found to have a higher risk of developing CAHA (aOR 14.78, p less than 0.05) after controlling for age, gender, nutritional status, and comorbidities. Conclusion: There was a statistically significant association between Brixia score and CAHA in COVID-19 patients based on D-dimer levels. The Brixia score could be used as a predictor of CAHA with the cut-off value ≥10.