Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Empiricism Journal

Praktik Pelaporan Keuangan dan Adopsi SAK-EMKM pada Usaha Mikro: Studi Kasus D&L Robusta Coffee Mahmud, Dody; Makalalag, Magdalena
Empiricism Journal Vol. 6 No. 4: December 2025
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/1yp89g96

Abstract

Penelitian ini mengkaji penerapan Standar Akuntansi Keuangan Entitas Mikro, Kecil, dan Menengah (SAK-EMKM) pada D&L Robusta Coffee, sebuah usaha mikro pengolahan kopi berbasis agrikultur di Indonesia. Penelitian sebelumnya umumnya berfokus pada tingkat kesadaran dan hambatan umum adopsi SAK-EMKM, namun belum secara mendalam merekonstruksi laporan keuangan berbasis SAK-EMKM secara ex post pada konteks usaha mikro agribisnis. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis praktik pelaporan keuangan yang berjalan, mengidentifikasi kendala implementasi SAK-EMKM, serta merekonstruksi laporan keuangan sesuai standar yang berlaku. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif melalui wawancara mendalam dengan tiga informan kunci, observasi langsung, dan analisis dokumen transaksi. Data dianalisis menggunakan open coding, axial coding, dan selective coding. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik pelaporan keuangan masih bersifat informal dan terbatas pada pencatatan arus kas masuk dan keluar. Rekonstruksi kuantitatif laporan keuangan menunjukkan total penerimaan kas sebesar Rp177.500.000, pengeluaran kas Rp188.000.000, dan saldo akhir kas Rp18.500.000, dengan laba usaha sebesar Rp23.500.000 pada tahun 2024. Meskipun data keuangan dasar tersedia, usaha belum melakukan klasifikasi transaksi, pencatatan aset dan kewajiban, serta penyusunan laporan keuangan terstruktur. Kendala utama meliputi rendahnya literasi akuntansi, fluktuasi pendapatan, keterbatasan sumber daya manusia, dan minimnya dukungan eksternal. Penelitian ini berimplikasi pada pentingnya pendekatan pendampingan berbasis rekonstruksi laporan keuangan, penyediaan alat pencatatan sederhana, dan penguatan ekosistem dukungan kelembagaan untuk meningkatkan adopsi SAK-EMKM pada usaha mikro agribisnis. Kata kunci: SAK-EMKM; Keuangan UMKM; Usaha Mikro; Adopsi Akuntansi. Financial Reporting Practices and the Adoption of SAK-EMKM in Micro Enterprises: A Case Study of D&L Robusta Coffee Abstract This study examines the implementation of the Financial Accounting Standards for Micro, Small, and Medium Entities (SAK-EMKM) at D&L Robusta Coffee, a micro-scale agribusiness engaged in coffee processing in Indonesia. Previous studies have generally focused on the level of awareness and general barriers to the adoption of SAK-EMKM, but have not extensively reconstructed SAK-EMKM–based financial statements ex post within the context of micro agribusiness enterprises. The objectives of this study are to analyze existing financial reporting practices, identify constraints in the implementation of SAK-EMKM, and reconstruct financial statements in accordance with the applicable standards.The study employs a descriptive qualitative approach through in-depth interviews with three key informants, direct observation, and analysis of transaction documents. Data were analyzed using open coding, axial coding, and selective coding techniques. The findings indicate that current financial reporting practices remain informal and are limited to recording cash inflows and outflows. Quantitative reconstruction of the financial statements shows total cash receipts of IDR 177,500,000, cash disbursements of IDR 188,000,000, and an ending cash balance of IDR 18,500,000, with a business profit of IDR 23,500,000 for the year 2024. Although basic financial data are available, the enterprise has not performed transaction classification, asset and liability recognition, or the preparation of structured financial statements. The main constraints include low accounting literacy, income fluctuations, limited human resources, and minimal external support. This study implies the importance of a mentoring approach based on financial statement reconstruction, the provision of simple bookkeeping tools, and the strengthening of an institutional support ecosystem to enhance the adoption of SAK-EMKM among micro agribusiness enterprises..
Evaluasi Break Even Point (BEP) Terhadap Proses Perencanaan Laba Pada UMKM Pengrajin Furnitur Lokal di Kotamobagu Hullah, Abdurrahman Rigel; Makalalag, Magdalena
Empiricism Journal Vol. 6 No. 4: December 2025
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/c3hfs278

Abstract

UMKM pengrajin furnitur lokal memainkan peran penting dalam ekonomi berbasis komunitas, namun kerap menghadapi tantangan dalam merancang strategi perencanaan laba yang terstruktur. Dalam konteks ini, konsep Break Even Point (BEP) menjadi relevan namun belum terinternalisasi secara luas. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi bagaimana pelaku UMKM memaknai dan menghadapi praktik perencanaan laba, serta hambatan dan strategi adaptasi mereka terhadap pendekatan manajerial modern. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif desain studi kasus, penelitian ini menggali narasi mendalam dari enam partisipan di Kota Kotamobagu yang telah menjalankan usaha lebih dari dua tahun. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur, observasi partisipatif, dan analisis dokumen sederhana, kemudian dianalisis secara induktif menggunakan teknik analisis tematik berbasis koding terbuka. Penelitian ini mengidentifikasi empat tema utama: keputusan finansial yang berbasis intuisi, ketegangan antara warisan tradisional dan kebutuhan adaptasi sistemik, pemaknaan laba sebagai keberlanjutan sosial, serta kebutuhan akan pengetahuan keuangan yang dapat diakses dan relevan secara kontekstual. Temuan ini menggarisbawahi bahwa perencanaan laba dalam sektor informal adalah proses sosial yang sarat nilai, bukan sekadar teknik kalkulasi. Secara konseptual, studi ini memperluas pemahaman tentang integrasi pengetahuan lokal dalam teori manajerial. Secara praktis, hasil ini merekomendasikan desain intervensi kebijakan dan pelatihan yang lebih partisipatif, adaptif, dan kontekstual. Penelitian ini juga membuka peluang eksplorasi lebih lanjut dalam mengembangkan model pendidikan keuangan berbasis budaya untuk UMKM di wilayah lain. Kata kunci: UMKM; Break Even Point; Perencanaan Laba; Keuangan Berbasis Konteks, Studi Kualitatif. Break-Even Point Based Profit Planning: A Qualitative Study of Local Furniture-Crafting MSMEs in Kotamobagu Abstract Local furniture-crafting MSMEs play an important role in community-based economies, yet they often face challenges in designing structured profit-planning strategies. In this context, the concept of the Break-Even Point (BEP) is relevant but has not been widely internalized. This study aims to explore how MSME actors interpret and navigate profit-planning practices, as well as the barriers and adaptive strategies they employ in response to modern managerial approaches. Using a qualitative case study design, this research elicited in-depth narratives from six participants in Kotamobagu City who had been operating their businesses for more than two years. Data were collected through semi-structured interviews, participant observation, and simple document analysis, and were then analyzed inductively using thematic analysis with open coding. The study identified four main themes: intuition-based financial decision-making, tensions between traditional legacies and the need for systemic adaptation, the meaning of profit as social sustainability, and the need for accessible and contextually relevant financial knowledge. These findings underscore that profit planning in the informal sector is a value-laden social process rather than merely a calculative technique. Conceptually, this study broadens understanding of how local knowledge can be integrated into managerial theory. Practically, the results recommend policy and training interventions that are more participatory, adaptive, and contextual. This study also opens opportunities for further exploration in developing culturally grounded financial education models for MSMEs in other regions.