Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Sari Pediatri

Profil Serum Serotonin dan Brain-Derived Neurotrophic Factor sebagai Indikator Kompleksitas Gejala Anak Autisme Usia 6-10 Tahun Solek, Purboyo; Gamayani, Uni; Rusmil, Kusnandi; Afriandi, Irvan; Prasetya, Taufan; Rizqiamuti, Anggia Farrah; Nurfitri, Eka; -, Burhan; Sahril, Indra; Gunawan, Kevin
Sari Pediatri Vol 27, No 2 (2025)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp27.2.2025.96-101

Abstract

Latar belakang. Gangguan spektrum autisme (GSA) adalah gangguan neurodevelopmental kompleks yang melibatkan faktor neurobiologis seperti serotonin dan brain-derived neurotrophic factor (BDNF).Tujuan. Penelitian bertujuan untuk mengevaluasi kadar serotonin dan BDNF serum pada anak dengan autisme serta menilai potensinya sebagai biomarker diagnostik.Metode. Penelitian potong lintang melibatkan 51 anak autisme usia 6-10 tahun di Melinda dan Indigrow Child Development Center. Kadar serum serotonin dan BDNF dianalisis dengan metode ELISA dan dinilai berdasarkan tingkat kompleksitas gejala menggunakan Childhood Autism Rating Scale (CARS). Uji T-test independent digunakan untuk menganalisis perbedaan kedua biomarker berdasarkan tingkat kompleksitas gejala. Kadar serotonin dan BDNF dianalisis lebih lanjut menggunakan ROC.Hasil. Rerata kadar serotonin adalah 339,86 ng/ml, dengan perbedaan signifikan antara autisme ringan-sedang (398,82 ng/ml) dan berat (325,48 ng/ml) (p<0,05). Rerata kadar BDNF adalah 41,77 ng/ml, cenderung lebih tinggi pada autisme berat (42,92 ng/ml) dibandingkan autisme ringan-sedang (37,05 ng/ml), namun tidak signifikan (p>0,05). Analisis ROC menunjukkan nilai diagnostik suboptimal untuk kedua biomarker. Kesimpulan. Meskipun terdapat perbedaan kadar serotonin dan BDNF serum berdasarkan tingkat kompleksitas gejala anak autisme, namun penggunaannya sebagai biomarker diagnostik masih terbatas dan memerlukan penelitian lebih lanjut.
Faktor-Faktor Penentu Vaccine Hesitancy pada Orang Tua Anak Usia 6-12 Tahun terhadap Vaksin COVID-19 di Kabupaten Bandung Nirwani, Bunga; Dhamayanti, Meita; Solek, Purboyo; Lukmanul Hakim, Dzulfikar Djalil; Alam, Anggraini; Tarigan, Rodman
Sari Pediatri Vol 25, No 5 (2024)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp25.5.2024.283-91

Abstract

Latar belakang. Hingga 18 Mei 2020, 584 anak terkonfirmasi positif COVID-19 di Indonesia, mendorong upaya pencegahan melalui vaksinasi anak. Kendati Ikatan Dokter Anak Indonesia mendukung vaksinasi COVID-19 pada anak usia 6–11 tahun, terdapat keraguan (hesitancy) dan penolakan vaksin yang perlu dipahami faktornya.Tujuan. Penelitian bertujuan mengeksplorasi adanya keraguan terkait vaksinasi COVID-19 pada anak dan menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi orang tua.Metode. Penelitian analitik kuantitatif dengan desain potong lintang, menggunakan data sekunder yang diperoleh dari penelitian sebelumnya yang merupakan bagian dari riset Academic Leadership Grant meliputi data demografis subjek penelitian, tingkat pengetahuan subjek penelitian mengenai COVID-19, serta status keraguan subjek penelitian terhadap vaksin COVID-19. Hasil. Didapat 613 subjek penelitian yaitu orang tua yang memiliki setidaknya satu orang anak berusia 6-12 tahun yang memenuhi kriteria inklusi dan tidak memenuhi kriteria eksklusi. Dari 613 subjek, sebagian besar memiliki skor pengetahuan COVID-19 yang baik pada 419 orang (68,4%) dan sebagian besar menunjukkan tanpa keraguan pada 546 (89,1%). Pendidikan terakhir (p=0,002 <0,05) dan riwayat infeksi COVID-19 pada keluarga (p=0,007 <0,05) merupakan faktor yang secara signifikan berpengaruh terhadap skor pengetahuan COVID-19.Kesimpulan. Tingkat pendidikan dan riwayat infeksi COVID-19 pada keluarga merupakan faktor yang signifikan secara statistik terhadap tingkat pengetahuan orangtua anak usia 6-12 tahun mengenai COVID-19. Tidak terdapat faktor yang signifikan secara statistik terhadap vaccine hesitancy pada orangtua anak usia 6-12 tahun.