Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Feasibility Test of Setumu Beach in Tanjungpinang City Riau Islands Province as a Rukyatul Hilal Location Angkat, M. Arbisora; Maheran, Siti; Fauzan, Said Muhammad; Ramadhan, Wahyu; Syaputra, Adidtya
Al-Marshad: Jurnal Astronomi Islam dan Ilmu-Ilmu Berkaitan Vol 11, No 1 (2025): Al-Marshad
Publisher : University of Muhammadiyah Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30596/jam.v11i1.24402

Abstract

The basis for selecting Setumu Beach as the location of the rukyatul hilal because the failure to see the hilal in Bukit Cermin for 6 years. The Regional Office of Ministry of Religious Affairs of Riau Islands Province then conducted a survey to Setumu Beach and it was seen that Setumu Beach had wide visibility, an easily accessible location and there were various kinds of facilities and infrastructure. After further research, Setumu Beach is not supported by primary parameters, because the geographical conditions are blocked by trees, Soreh Island, highlands or small islands and lowlands at azimuth 240o-300o. Meanwhile, the weather conditions are also not supportive, because Tanjungpinang City has low air temperature, high humidity and rainfall, causing Tanjungpinang City to be more often in cloudy weather conditions and enter the wet month criteria. This is also supported by the results of rukyatul hilal report from Riau Islands Province Hisab Rukyat Team which always failed to see the hilal from 2021-2024 due to weather factors. Setumu Beach is supported by secondary parameters, because in terms of accessibility and facilities Setumu Beach is quite adequate. Because Setumu Beach is not supported by primary parameters and supported by secondary parameters, Setumu Beach is less suitable as a rukyatul hilal location.
MENINGKATKAN PEMAHAMAN MODERASI BERAGAMA BERBASIS AL-QUR’AN DAN HADIS GURU-GURU MADRASAH IBTIDAIYAH “MI” KOTA TANJUNGPINANG KEPULAUAN RIAU Maheran, Siti; islamiyah, islamiyah
Wahana Islamika Vol 11 No 1 (2025): Wahana Islamika: Jurnal Studi Keislaman
Publisher : STAI Syubbanul Wathon Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61136/4s3m9483

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peningkatan pemahaman guru-guru Madrasah Ibtidaiyah (MI) di Kota Tanjungpinang mengenai moderasi beragama berbasis Al-Qur’an dan Hadis setelah diberikan pendampingan dan pelatihan. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif, melibatkan wawancara mendalam, observasi kelas, dan studi dokumentasi terhadap materi ajar yang digunakan di madrasah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum pelatihan, sebagian besar guru memiliki pemahaman yang terbatas mengenai konsep moderasi beragama dan cenderung melihatnya sebagai bentuk pengurangan nilai agama. Setelah mengikuti pelatihan, guru lebih memahami bahwa moderasi beragama merupakan keseimbangan dalam beragama, sikap adil, serta menghargai perbedaan. Observasi kelas menunjukkan bahwa guru mulai menerapkan metode diskusi terbuka dan pendekatan yang lebih inklusif dalam pengajaran. Beberapa madrasah juga mulai mengembangkan kebijakan yang mendorong penerapan nilai-nilai moderasi dalam pembelajaran. Meskipun terdapat peningkatan pemahaman, tantangan seperti perlunya bimbingan lanjutan dan integrasi yang lebih sistematis dalam kurikulum masih menjadi kendala.  
Exploring the Differences in Views of Jalaluddin Al-Suyuti and Ayatollah Khomeini on the Law of Mut'ah Marriage: A Comparative Study Analysis Maheran, Siti
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 4 No. 5 (2024): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v4i5.15712

Abstract

Artikel ini membahas tentang berbagai perbedaan persepsi yang terjadi dalam menanggapi praktek nikah mut’ah, yaitu antara Jalaluddin al-Suyuti dan Ayatullah Khomeini. Kedua tokoh ulama besar ini memiliki cara dan dasar hukumnya masing-masing dalam menetapkan hukum nikah mut’ah. Penelitian ini menggunakan metode yang bersifat deskriptif analisis dengan jenis penelitian kualitatif. Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah mengkaji dan mendeskripsikan gagasan primer terkait ayat-ayat al-Qur’an yang berbicara mengenai perbedaan pandangan hukum nikah mut’ah. Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini yakni menggunakan penelitian kepustakaan (library research) dengan mengadakan penelaahan terhadap buku/kitab, artikel, jurnal, dan karya ilmiah serta mendapatkan gambaran atau penjelasan tentang perbedaan pandangan hukum nikah mut’ah antara Jalaluddin al-Suyuti dan Ayatullah Khomeini yang menjadi objek kajian penelitian. Hasil penelitian menyebutkan bahwa menurut Jalaluddin al-Suyuti, nikah mut’ah hukumnya adalah haram, karena surah an-Nisa ayat 24 yaitu ayat tentang nikah mut’ah telah di nasakh oleh surah al-Mu’minun ayat 6-7 dan beberapa hadis dalam kitab Shahih Bukhari dan Muslim tentang keharaman nikah mut’ah yang dijadikan rujukan oleh mazhab sunni. Sedangkan menurut Ayatullah Khomeini, nikah mut’ah hukumnya adalah sah (halal), karena tidak terdapat dalil keharamannya di dalam al-Qur’an, surah an-Nisa ayat 24 adalah dasar hukumnya yang didukung oleh hadis-hadis yang diriwayatkan oleh ahlulbait.
MENINGKATKAN PEMAHAMAN MODERASI BERAGAMA BERBASIS AL-QUR’AN DAN HADIS GURU-GURU MADRASAH IBTIDAIYAH “MI” KOTA TANJUNGPINANG KEPULAUAN RIAU Islamiyah, Islamiyah; Maheran, Siti
Wahana Islamika Jurnal Studi Keislaman Vol. 11 No. 1 (2025): Wahana Islamika: Jurnal Studi Keislaman
Publisher : Institut Agama Islam Syubbanul Wathon Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61136/zce2sz44

Abstract

This study aims to analyze the improvement of the understanding of Madrasah Ibtidaiyah (MI) teachers in Tanjungpinang City regarding religious moderation based on the Qur'an and Hadith after being given mentoring and training. The research method used is qualitative with a descriptive approach, involving in-depth interviews, classroom observations, and documentation studies of the teaching materials used in the madrasah. The results of the study show that before the training, most teachers have a limited understanding of the concept of religious moderation and tend to see it as a form of reducing religious values. After participating in the training, teachers better understand that religious moderation is a balance in religion, a fair attitude, and respect for differences. Classroom observations show that teachers are beginning to apply open discussion methods and a more inclusive approach in teaching. Several madrasas have also begun to develop policies that encourage the application of moderation values in learning. Despite the increase in understanding, challenges such as the need for advanced guidance and more systematic integration in the curriculum remain obstacles.