Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

INOVASI PROGRAM SUNAN GIRI SEBAGAI ALTERNATIF PENINGKATAN PROMOSI KESEHATAN DI TK DEWI SARTIKA KECAMATAN SONGGON KABUPATEN BANYUWANGI Putri, Fika Ardiana
Majalah Kesehatan Masyarakat Aceh (MaKMA) Vol 3, No 1 (2020): Majalah Kesehatan Masyarakat Aceh (MaKMA)
Publisher : Universitas Serambi Mekkah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32672/makma.v3i1.1422

Abstract

Tahun 2014 Badan Pusat Statistik Banyuwangi menyebutkan bahwa angka kejadian diare di Kabupaten Banyuwangi mencapai 25.231 kasus. Salah satu penyebab terjadinya diare adalah hygiene personal yang kurang baik. Kecamatan Songgon mempunyai risiko masalah kesehatan terkait hygiene personal, hal ini dapat dilihat dari angka kejadian diare sebesar 1.306 kasus. Usia anak-anak sangat rentan mengalami diare karena hygiene personal yang kurang baik seperti tidak cuci tangan sebelum dan sesudah beraktivitas. TK Dewi Sartika merupakan sekolah yang masih belum menerapkan cuci tangan dengan baik karena kurangnya edukasi, sehingga perlu dilakukan penyuluhan di sekolah tersebut. Kegiatan ini bertujuan untuk mengembangkan inovasi Sunan Giri (Senam Cuci Tangan Pakai Sabun Gembira Riang) dengan cara melakukan penyuluhan. Sasaran pada penyuluhan terbagi menjadi 3 yaitu sasaran primer adalah anak TK, sasaran sekunder adalah guru TK, dan sasaran tersier adalah orang tua wali murid. Metode penyuluhan dengan role model, diawali dengan mengajarkan gerakan senam dan lagu cuci tangan pakai sabun kepada guru TK, kemudian guru TK mengajarkan kepada muridnya secara seksama. Adapun tahapan penyuluhan melalui beberapa tahap, meliputi perencanaan, advokasi, pelaksanaan hingga monitoring dan evaluasi. Hasil dari kegiatan ini guru mampu mengajarkan senam CTPS dan anak-anak mampu melakukan senam serta mempraktikkan CTPS dengan baik dan benar. Inovasi ini telah mendapat respon baik dari pihak sekolah dan pihak Puskesmas Songgon karena berdasarkan observasi anak TK sudah mau dan mampu melakukan cuci tangan sebelum dan sesudah beraktifitas. Mayoritas dari mereka sudah hafal dengan gerakan senam dan lagu cuci tangan. Harapan keberlanjutan dari inovasi ini adalah dapat diterapkan di sekolah sederajat yang ada di wilayah kerja Puskesmas Songgon.
INOVASI PROGRAM SUNAN GIRI SEBAGAI ALTERNATIF PENINGKATAN PROMOSI KESEHATAN DI TK DEWI SARTIKA KECAMATAN SONGGON KABUPATEN BANYUWANGI Putri, Fika Ardiana
Majalah Kesehatan Masyarakat Aceh (MaKMA) Vol 3, No 1 (2020): Majalah Kesehatan Masyarakat Aceh (MaKMA)
Publisher : Universitas Serambi Mekkah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32672/makma.v3i1.1422

Abstract

Tahun 2014 Badan Pusat Statistik Banyuwangi menyebutkan bahwa angka kejadian diare di Kabupaten Banyuwangi mencapai 25.231 kasus. Salah satu penyebab terjadinya diare adalah hygiene personal yang kurang baik. Kecamatan Songgon mempunyai risiko masalah kesehatan terkait hygiene personal, hal ini dapat dilihat dari angka kejadian diare sebesar 1.306 kasus. Usia anak-anak sangat rentan mengalami diare karena hygiene personal yang kurang baik seperti tidak cuci tangan sebelum dan sesudah beraktivitas. TK Dewi Sartika merupakan sekolah yang masih belum menerapkan cuci tangan dengan baik karena kurangnya edukasi, sehingga perlu dilakukan penyuluhan di sekolah tersebut. Kegiatan ini bertujuan untuk mengembangkan inovasi Sunan Giri (Senam Cuci Tangan Pakai Sabun Gembira Riang) dengan cara melakukan penyuluhan. Sasaran pada penyuluhan terbagi menjadi 3 yaitu sasaran primer adalah anak TK, sasaran sekunder adalah guru TK, dan sasaran tersier adalah orang tua wali murid. Metode penyuluhan dengan role model, diawali dengan mengajarkan gerakan senam dan lagu cuci tangan pakai sabun kepada guru TK, kemudian guru TK mengajarkan kepada muridnya secara seksama. Adapun tahapan penyuluhan melalui beberapa tahap, meliputi perencanaan, advokasi, pelaksanaan hingga monitoring dan evaluasi. Hasil dari kegiatan ini guru mampu mengajarkan senam CTPS dan anak-anak mampu melakukan senam serta mempraktikkan CTPS dengan baik dan benar. Inovasi ini telah mendapat respon baik dari pihak sekolah dan pihak Puskesmas Songgon karena berdasarkan observasi anak TK sudah mau dan mampu melakukan cuci tangan sebelum dan sesudah beraktifitas. Mayoritas dari mereka sudah hafal dengan gerakan senam dan lagu cuci tangan. Harapan keberlanjutan dari inovasi ini adalah dapat diterapkan di sekolah sederajat yang ada di wilayah kerja Puskesmas Songgon.
DESCRIPTION OF THE SANITATION KARANG ASEM STASION IN BANYUWANGI 2017 Sari, Apik Mila; Puspikawati, Septa Indra; Islamiyah, Khofifatul; Ardiasnyas, Risky Bagas; Putri, Fika Ardiana
Preventif : Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol. 9 No. 2 (2018)
Publisher : Tadulako University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/preventif.v9i2.98

Abstract

Background & Purpose: Stations are one of the public places that have sanitation facilities and enableenvironmental pollution and diseases including diarrhea, dysentery, typhus, malaria and filiarisis. The aim offinding out the sanitation conditions at Station Karang Asem in Banyuwagi. Material and Methods: thisstudy is an observational study conducted through a sheet of instrument that has been made based onapplicable laws and interview sheets. The assessment instrument consists of 3 main variables that are used asthe foundation in the assessment including the main building variables, sanitation facilities and supportingfacilities at the station. of the 3 variables there are sub-variables and also sub-variables used as ratings.Assessment is done by looking at the total final score of the sum of 3 variable scores. Results: The totalscore of the main building variable 140 means fulfilling 100% sub-variable requirements, 77 sanitationfacilities means fulfilling 50% of the assessment requirements of sub-variables and supporting facilities 97.5means meeting the 21.5% assessment requirements of sub-variables. The total score of Karang Asem stationsanitation is so that station x sanitation is 314.5. Which means in the Good category. Conclusion: KarangAsem Station in Banyuwangi has a Good category in station sanitation assessments, although there stillneeds to be an increase especially in its sanitation facilities.Keywords: station, sanitation, public place.