Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Penatalaksanaan Pemasangan Mitela terhadap Penurunan Nyeri pada Pasien Close Fracture Clavicula RS Ibnu Sina Fatmawati, Andi; Taqiyah, Yusrah; Sudarman, Sudarman; Maliga, Muhajirin
Wal'afiat Hospital Journal Vol 5 No 2 (2024): Wal'afiat Hospital Journal
Publisher : Rumah Sakit Ibnu Sina, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33096/whj.v5i2.146

Abstract

Fraktur adalah hilangnya kontinuitas tulang akibat trauma, seperti kecelakaan lalu lintas. Nyeri merupakan gejala utama yang sering terjadi pada berbagai jenis cedera, termasuk luka bakar, luka robek, luka tusuk, dan fraktur, baik terbuka maupun tertutup. Penanganan fraktur clavicula bertujuan untuk mengembalikan posisi patahan tulang ke posisi semula, mempertahankannya selama masa penyembuhan, serta mencegah gerakan pada area yang stabil untuk mengurangi nyeri dan mencegah kerusakan lebih lanjut. Salah satu metode yang digunakan adalah pemasangan mitela. Studi ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas pemasangan mitela pada pasien dengan close fraktur clavicula di RS Ibnu Sina YW-UMI. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan studi kasus pada asuhan keperawatan gawat darurat pasien dengan fraktur clavicula. Hasil studi menunjukkan bahwa pemasangan mitela efektif dalam menurunkan nyeri, dengan penurunan skala nyeri dari 6 menjadi 5 dan pengurangan ekspresi nyeri seperti meringis. Kesimpulannya, pengkajian difokuskan pada keluhan utama berupa nyeri, dengan intervensi farmakologis berupa pemberian analgesik dan nonfarmakologis berupa pemasangan mitela, yang terbukti efektif dalam mengurangi nyeri pada pasien dengan close fraktur clavicula.
Penatalaksanaan Pemasangan Mitela terhadap Penurunan Nyeri pada Pasien Close Fracture Clavicula RS Ibnu Sina Fatmawati, Andi; Taqiyah, Yusrah; Sudarman, Sudarman; Maliga, Muhajirin
Wal'afiat Hospital Journal Vol 5 No 2 (2024): Wal'afiat Hospital Journal
Publisher : Rumah Sakit Ibnu Sina, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33096/whj.v5i2.146

Abstract

Fraktur adalah hilangnya kontinuitas tulang akibat trauma, seperti kecelakaan lalu lintas. Nyeri merupakan gejala utama yang sering terjadi pada berbagai jenis cedera, termasuk luka bakar, luka robek, luka tusuk, dan fraktur, baik terbuka maupun tertutup. Penanganan fraktur clavicula bertujuan untuk mengembalikan posisi patahan tulang ke posisi semula, mempertahankannya selama masa penyembuhan, serta mencegah gerakan pada area yang stabil untuk mengurangi nyeri dan mencegah kerusakan lebih lanjut. Salah satu metode yang digunakan adalah pemasangan mitela. Studi ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas pemasangan mitela pada pasien dengan close fraktur clavicula di RS Ibnu Sina YW-UMI. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan studi kasus pada asuhan keperawatan gawat darurat pasien dengan fraktur clavicula. Hasil studi menunjukkan bahwa pemasangan mitela efektif dalam menurunkan nyeri, dengan penurunan skala nyeri dari 6 menjadi 5 dan pengurangan ekspresi nyeri seperti meringis. Kesimpulannya, pengkajian difokuskan pada keluhan utama berupa nyeri, dengan intervensi farmakologis berupa pemberian analgesik dan nonfarmakologis berupa pemasangan mitela, yang terbukti efektif dalam mengurangi nyeri pada pasien dengan close fraktur clavicula.
Penerapan Manajemen Asma pada Bersihan Jalan Napas pada Pasien Asma Bronchiale di IGD RS. TK. II Makassar Sari Askar, Nurlaela; Sudarman, Sudarman; Emin, Wan Sulastri; Maliga, Muhajirin
Wal'afiat Hospital Journal Vol. 6 No. 2 (2025): Wal'afiat Hospital Journal
Publisher : Rumah Sakit Ibnu Sina, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33096/v0t25860

Abstract

Bronchial asthma is a chronic inflammatory airway disease that may present with acute exacerbations characterized by bronchospasm, mucus hypersecretion, and increased work of breathing. In emergency settings, nursing care should focus on airway patency and oxygenation. To describe tripod positioning and nebulizer therapy in an acute bronchial asthma patient with ineffective airway clearance in the Emergency Department (ED). A descriptive single-case report in May 2025 at the ED of RS Tk. II Pelamonia Makassar. The intervention included tripod positioning (10 minutes) and nebulizer therapy (15 minutes), with pre- and post-assessment of respiratory rate, oxygen saturation, breath sounds, cough effectiveness, and dyspnea severity, aligned with SDKI–SLKI–SIKI reasoning. Clinical improvement was observed in this case, including reduced respiratory rate (28 to 22 breaths/min), increased oxygen saturation (92% to 97%), resolution of wheezing, more effective cough, and reduced dyspnea severity. Tripod positioning and nebulizer therapy were followed by clinical improvement in this case, while causal inference is limited due to the single-case design and potential concomitant treatments.
Penerapan Manajemen Asma pada Bersihan Jalan Napas pada Pasien Asma Bronchiale di IGD RS. TK. II Makassar Sari Askar, Nurlaela; Sudarman, Sudarman; Emin, Wan Sulastri; Maliga, Muhajirin
Wal'afiat Hospital Journal Vol. 6 No. 2 (2025): Wal'afiat Hospital Journal
Publisher : Rumah Sakit Ibnu Sina, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33096/v0t25860

Abstract

Bronchial asthma is a chronic inflammatory airway disease that may present with acute exacerbations characterized by bronchospasm, mucus hypersecretion, and increased work of breathing. In emergency settings, nursing care should focus on airway patency and oxygenation. To describe tripod positioning and nebulizer therapy in an acute bronchial asthma patient with ineffective airway clearance in the Emergency Department (ED). A descriptive single-case report in May 2025 at the ED of RS Tk. II Pelamonia Makassar. The intervention included tripod positioning (10 minutes) and nebulizer therapy (15 minutes), with pre- and post-assessment of respiratory rate, oxygen saturation, breath sounds, cough effectiveness, and dyspnea severity, aligned with SDKI–SLKI–SIKI reasoning. Clinical improvement was observed in this case, including reduced respiratory rate (28 to 22 breaths/min), increased oxygen saturation (92% to 97%), resolution of wheezing, more effective cough, and reduced dyspnea severity. Tripod positioning and nebulizer therapy were followed by clinical improvement in this case, while causal inference is limited due to the single-case design and potential concomitant treatments.