Articles
Kepemimpinan Biblika: Musa dan Ezra Sebagai Pelayan Firman
Barus, Armand
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 5 No 2 (2004)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (20.04 KB)
Setiap generasi memiliki pemimpin yang dibangkitkan Allah untuk memimpin umat-Nya. Kelihatannya tidak pernah terjadi dalam sejarah di mana, umat Allah tidak memiliki pemimpin. Setiap generasi umat Allah membutuhkan pemimpin yang sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan konteks historis. Artinya, pemimpin bersifat unik. Keunikan masing-masing pemimpin menyebabkan perbandingan kepemimpinan harus dilakukan dengan memperhatikan konteks historis masing-masing. Ringkasnya, seorang pemimpin muncul dalam konteks dan kurun waktu sejarah tertentu. Kegagalan dan keberhasilan pemimpin terikat secara unik kepada konteks dan periode kepemimpinan. Keberhasilan seorang pemimpin mungkin dianggap sebagai kegagalan oleh generasi berikutnya. Sehingga perbandingan evaluatif kepemimpinan seseorang sebenarnya sulit dilakukan. Perbandingan evaluatif yang dilakukan tanpa memperhatikan konteks historis akan memberikan penilaian bernuansa penghakiman. Meski demikian tidak berarti kontinuitas sejarah kepemimpinan tidak dapat ditelusuri di dalam gereja. Gereja terus hadir di dalam sejarah di bawah kepemimpinan Kristus kepala gereja dan para pemimpin yang adalah hamba-hamba-Nya. Terjadinya diskontinuitas okasional kepemimpinan gereja terutama disebabkan oleh situasi dinamis konteks di mana gereja berada. Dengan demikian setiap diskusi mengenai kepemimpinan gereja harus memperhatikan baik unsur kontinuitas juga unsur diskontinuitas. Beragam pemimpin diutus Allah untuk menjawab berbagai kebutuhan masyarakat di mana gereja berada. Para pemimpin melayani-Nya dengan menerapkan prinsip-prinsip kepemimpinan yang bersumber dari kitab suci. Sebagaimana kebutuhan masyarakat berubah dan berbeda setiap zaman, demikian juga bentuk dan model kepemimpinan. Meski aspek diskontinuitas perlu diperhatikan, namun tulisan ini hanya akan membahas aspek kontinuitasnya. Pembahasan dimulai dengan merumuskan pemimpin sebagai pelayan Allah. Sebagai pelayan Allah pemimpin menyampaikan kehendak Allah kepada komunitas yang dipimpinnya. Hakikat utama kepemimpinan adalah pengungkapan atau penyataan kehendak Allah bagi masyarakat. Ringkasnya, pemimpin adalah pelayan firman Allah (the word of God). Pelayanan dan firman Allah merupakan dua unsur yang tidak terpisahkan dalam kepemimpinan. Keduanya membentuk aspek kontinuitas suatu kepemimpinan. Kepemimpinan Kristen adalah kepemimpinan yang memperhatikan dimensi pelayanan dan firman Allah. Esensi fundamental suatu kepemimpinan berjalan dalam jalur kedua dimensi ini. Apakah memang demikian model pemimpin dalam Alkitab? Bagian berikut berusaha menguraikannya secara ringkas.
Misi Personal dan Komunal : Perbandingan Yohanes 1:35-51 dan 2:12-25
Barus, Armand
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 6 No 2 (2005)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (17.768 KB)
Perkembangan suatu agama dipengaruhi dan dibentuk oleh konsep keselamatan. Demikian juga perkembangan agama Kristen bertumpu pada konsep keselamatan. Dengan perkataan lain, teologi dan praksis misi berdasarkan pada dan mengalir dari konsep keselamatan. Perkembangan agama Kristen ke seluruh dunia didorong oleh konsep keselamatan yang ingin disebarkan agar orang lain mengikutinya. Di samping itu perlu diperhatikan bahwa misi dalam PB tidak mengenal dikotomi pemberitaan injil dan perbuatan sosial. Misi PB selalu holistis. Namun ada masalah lain. Pemberitaan injil memberi penekanan pada individualitas, sedang perbuatan sosial menekankan komunitas. Dikotomi personal-komunal sebenarnya telah melandasi berbagai rumusan konsep misi Kristen, seperti terungkap, misalnya, dalam istilah-istilah penginjilan, penanaman gereja (church planting) ... Bagaimana di Indonesia? Secara umum dapat dikatakan adanya karakter komunal bangsa Indonesia. Sifat komunal ini tercermin dalam bentuk yang dikenal sebagai “gotong royong.” Pada hakikatnya, konsep gotong royong tidak memberikan ruang terhadap semangat individualistis. Konsep keselamatan individualistis yang dibawa oleh bentara Kristus dari Barat tentu saja masuk ke dalam ruang berbeda dengan asalnya. Tetapi apakah konsep keselamatan harus sesuai dengan konteks agar dapat diterima? Pengalaman gereja di Barat masa kini tidak memperlihatkan demikian. Sejatinya, yang diperlukan gereja di Indonesia bukan konsep keselamatan personal atau komunal, tetapi suatu konsep keselamatan personal dan komunal. Jika demikian, bagaimana dengan konsep keselamatan dalam PB? Apakah keselamatan PB bersifat personal atau komunal? Apakah konsep keselamatan PB bersifat holistis? Dengan kata lain, apakah dikotomi personal-komunal dapat dibenarkan? Tulisan berikut berusaha membuktikan bahwa kontur keselamatan PB selalu berdimensi personal dan komunal. Dengan pendekatan naratif (narrative criticism) diupayakan menyusun suatu gambar komprehensif konsep keselamatan dengan sampel teks Injil Yohanes.
Rahasia Keluarga Sukses : Mazmur 127
Barus, Armand
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 8 No 2 (2007)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (18.766 KB)
Mazmur 127 adalah bagian dari mazmur-mazmur ziarah. Penulis mazmur ziarah melihat hidup sebagai suatu perjalanan, perjalanan ziarah. Kata “ziarah” (ha|mma|`álôt) pada ayat 1 dapat juga diterjemahkan ke tempat tinggi. Perjalanan ke tempat tinggi. Bagi bangsa Israel kuno, ziarah merupakan suatu perjalanan ke Yerusalem, tempat yang tinggi, di mana Allah berada, perjalanan menjumpai Allah. Perjalanan ziarah diiringi dengan nyanyian. Sebagai mazmur ziarah, Mazmur 127 disebut sebagai mazmur keluarga. Hidup berkeluarga adalah sebuah perjalanan ziarah untuk bertemu dengan Allah. Isi mazmur ini menyangkut dua pokok penting dalam hidup berkeluarga yakni rumah dan anak-anak. Kehidupan keluarga yang dijalani dengan susah payah pada perenungan terakhir disadari dan diterima sebagai pemberian Allah. Pemazmur tidak merendahkan atau mencela kerja keras manusia dalam mencari dan membina dua pokok dasar tersebut, melainkan pemazmur mengarahkan pencarian manusia kepada sumber yang sebenarnya. Pokok teologis yang didendangkan pemazmur adalah: Allah adalah sumber segala sesuatu yang diperlukan manusia. Rahasia kesuksesan keluarga terdapat pada Allah. Mazmur 127 dipandang sebagai karya raja Salomo atau berasal dari zaman pemerintahan raja Salomo (ay. 1). Dengan perkataan lain, mazmur ini telah beredar dalam masyarakat Israel kuno sejak zaman pemerintahan Salomo. Suatu kemungkinan penyusunan mazmur ini diilhami oleh kehidupan keluarga raja Salomo. Informasi kata Salomo pada ayat 1 akan digunakan untuk menyingkapkan makna terkandung dalam mazmur ini. Karakter Salomo berfungsi sebagai alat penggali makna mazmur ini. Meski demikian, tidak dapat dipastikan apakah mazmur ini merupakan komposisi puisi yang diterbitkan sebelum atau sesudah zaman pembuangan. Bahkan A. Weiser berpendapat bahwa mazmur ini tidak terikat pada waktu atau periode sejarah tertentu karena “ia termasuk dalam dunia amsal yang tidak terikat pada waktu sejarah (it belongs to the timeless world of the proverb).”
PEMURNIAN INTEGRITAS: Penelitian Puitis Mazmur 26
Armand Barus
Jurnal Amanat Agung Vol 14 No 2 (2018): Jurnal Amanat Agung Vol. 14 No. 2 Tahun 2018
Publisher : STT Amanat Agung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.47754/jaa.v14i2.356
Abstrak: Pembacaan Mazmur 26 dengan menggunakan metode penelitian puitis (poetic criticism) menghasilkan makna berbeda dengan metode penafsiran yang digunakan penafsir sebelumnya. Melalui penelitian puitis terungkap pesan bahwa sentral Mazmur 26 adalah proses pemurnian orang benar yang justru terjadi melalui dan di dalam kehadirannya di tengah-tengah orang fasik. Abstract: Reading Psalm 26 with poetic criticism results in getting a from different meaning the interpretation method used by previous interpreters. Using poetic criticism in reading Psalm 26 reveals that the central message of Psalm 26 is purification of the righteous which precisely happens in and through his or her presence amongs the wicked. Kata-kata Kunci: Mazmur ratapan, penelitian puitis, keluhan, perasaan, pengenalan akan Allah, perubahan suasana teks (mood), integritas
Kepemimpinan Yohanes Pembaptis
Armand Barus
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 3 No 1 (2002)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT (Southeast Asia Bible Seminary)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (17.035 KB)
|
DOI: 10.36421/veritas.v3i1.82
Seorang pemimpin biasanya menimbulkan dua hal yang kontradiktif. Ia bisa dikasihi atau sebaliknya, dibenci oleh orang-orang yang dipimpinnya. Ada berbagai alasan atau motivasi yang dapat menimbulkan dua hal kontradiktif sebagai akibat kepemimpinan seseorang. Namun pembahasan mengenai soal ini, meski penting, tidak dapat diuraikan di sini. Artikel ini lebih dititikberatkan pada diri seorang pemimpin ketimbang respons terhadapnya. Relasi benci-kasih terhadap seorang pemimpin akan menimbulkan pertanyaan: “Apa sebenarnya tugas dan fungsi seorang pemimpin?” Dari sekian banyak figur Alkitab, kepemimpinan Yohanes Pembaptis terkesan sangat menonjol dan dramatis. Dengan pendekatan naratif saya berupaya menyusun suatu potret Yohanes Pembaptis. Kompleks dan luasnya masalah menyebabkan data-data dasar hanya bersumber dari injil Yohanes sehingga tentu saja hasilnya bukan merupakan sebuah potret yang utuh. Namun paling sedikit sketsa ini diharapkan dapat mendorong penelitian lanjutan terhadap karakter Yohanes Pembaptis. Penelaahan dimulai dari Yohanes 1:1-18, dilanjutkan dengan bagian lain dari kitab ini. Sudah merupakan kelaziman di kalangan pakar injil Yohanes memberi label Prolog untuk 1:1-18. Melalui artikel ini saya ingin menguji apakah benar Prolog tersebut merupakan miniatur injil Yohanes? Jika bagian ini dinyatakan sebagai injil Yohanes dalam bentuk padat dan ringkas, maka kitab ini tentulah merupakan uraian lanjutan dari Prolog. Kita akan menguji tesis ini dengan melihat karakterisasi Yohanes Pembaptis dalam Prolog dan injil Yohanes. Dengan perkataan lain, pertanyaan yang akan ditelusuri adalah: Apakah Prolog merupakan bagian integral dari injil Yohanes?
MENGHADAPI KEBOHONGAN
Armand Barus
Jurnal Amanat Agung Vol 14 No 1 (2018): Jurnal Amanat Agung Vol. 14 No. 1 Tahun 2018
Publisher : STT Amanat Agung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (334.716 KB)
|
DOI: 10.47754/jaa.v14i1.40
Berita bohong (hoax) yang tersebar mengenai diri pemazmur menciptakan perasaan sesak. Fitnah membuat kemuliaan pemazmur dinodai. Artinya reputasi pemazmur sebagai orang yang dikenal publik bergaul intim dan taat kepada Allah menjadi diragukan banyak orang. Melalui dan di dalam penderitaan pemazmur saat difitnah terlihat pergerakan pengenalan pemazmur akan Allah mulai dari Allah yang membenarkan dan berakhir pada Allah yang memberi sukacita dan Allah yang membiarkannya diam dengan aman. Perjalanan rohani tersebut mencerminkan perubahan suasana teks pada ayat 3, 6, dan 8 di mana suasana teks bergerak dari ratapan berubah menjadi pujian kemudian berubah menjadi ratapan dan berakhir dengan pujian.
SEMBUHKANLAH AKU
Armand Barus
Jurnal Amanat Agung Vol 12 No 2 (2016): Jurnal Amanat Agung Vol. 12 No. 2 Tahun 2016
Publisher : STT Amanat Agung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (839.481 KB)
|
DOI: 10.47754/jaa.v12i2.51
Pembacaan Mazmur 6 dengan menggunakan metode penelitian puitis memberi nuansa berbeda dengan hasil pembacaan metode-metode penelitian teks puisi. Dengan metode penelitian puitis aspek perasaan pemazmur sebagai akibat keluhan pemazmur terkuak baik dalam proses pemberian makna. Mazmur 6 membahas penderitaan penyakit pemazmur yang nyaris membawanya ke dalam dunia orang mati. Namun pemazmur, berbeda dengan keyakinan masyarakat pada masa itu, meyakini bahwa penyakitnya bukan hukuman Allah terhadap dosanya. Pemazmur tidak mengerti mengapa menderita penyakit demikian hebat. Namun di ujung penderitaannya, pemazmur mengenal Allah s ebagai Allah yang mendengar doa.
PEMURIDAN SEBAGAI MISI GEREJA
Armand Barus
Jurnal Amanat Agung Vol 9 No 1 (2013): Jurnal Amanat Agung Vol. 9 No. 1 Tahun 2013
Publisher : STT Amanat Agung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (598.335 KB)
PEMURIDAN SEBAGAI MISI GEREJA: Studi Matius 28:16-20
SPIRITUALITAS SURAT KOLOSE
Armand Barus
Jurnal Amanat Agung Vol 12 No 1 (2016): Jurnal Amanat Agung Vol. 12 No. 1 Tahun 2016
Publisher : STT Amanat Agung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (660.429 KB)
|
DOI: 10.47754/jaa.v12i1.160
Spiritualitas Kristen sebagai hidup yang mewujudkan persekutuan jemaat dan Allah dalam Kristus yang bangkit (being) melalui perkataan dan perbuatan sebagai bentuk norma dan moralitas kerajaan surga (doing). Spiritualitas adalah gaya dan sikap hidup dari Kristus, bersama Kristus, untuk Kristus dan demi Kristus. Spiritualitas Kristen bermotif kristologis dalam nuansa eskatologis. Dasar spi ritualitas adalah dibangkitkan bersama Kristus. Hidup dalam kuasa kebangkitan Kristus berarti hidup yang mencari dan memikirkan norma dan moral surgawi. Tujuannya adalah hal-hal di atas yakni hidup yang memberitakan dan memperlihatkan sentralitas dan keutamaan Kristus di dunia seperti di surga. Motivasinya adalah kemuliaan hidup bersama Kristus.
HENDAKLAH HATIMU MELIMPAH DENGAN SYUKUR (KOLOSE 2:7)
Armand Barus
Jurnal Amanat Agung Vol 11 No 2 (2015): Jurnal Amanat Agung Vol. 11 No. 2 Tahun 2015
Publisher : STT Amanat Agung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (100.843 KB)
Ucapan syukur sering diabaikan dalam diskusi teologis-etis. Jarang hal ini diberikan perhatian khusus, padahal ucapan syukur merupakan tema yang penting. Paulus memberikan perhatian khusus tentang ucapan syukur, ia menasihatkan agar hati jemaat Kolose melimpah dengan syukur. Dengan memahami Kolose 2:7 dalam perspektif Paulus, maka terlihat multifaset makna yang terkandung dalam ucapan syukur.