Armand Barus
Unknown Affiliation

Published : 15 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

THE KNOWN CHRIST OF ISLAM IN RELIGIOUS DIALOGUE Armand Barus
Jurnal Amanat Agung Vol 11 No 1 (2015): Jurnal Amanat Agung Vol. 11 No. 1 Tahun 2015
Publisher : STT Amanat Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (481.136 KB)

Abstract

Kristologi Yohanes dari Damsyik sering dilihat sebagai crypto-Monophysitism. Ini disebabkan beberapa teolog Barat kurang memahami konteks historis pergumulannya. Dengan meletakkan kristologi dari Damsyik dalam konteks politis, sosial dan religiusnya terungkap bahwa kristologinya menekankan keAllahan Yesus disusun dalam rangka dialog dengan kristologi Quran yang menekankan kemanusiaan Yesus. Yohanes dari Damsyik jelas berjalan dalam kristologi Chalcedonian.
PANGGILAN DAN RESPONS MANUSIA Armand Barus
Jurnal Amanat Agung Vol 10 No 2 (2014): Jurnal Amanat Agung Vol. 10 No. 2 Tahun 2014
Publisher : STT Amanat Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembacaan perumpamaan Matius 22:1-14 dengan memperhatikan interaksi karakter di dalam perumpamaan tersebut dalam konteks literer (literary context) perumpamaan memberikan pengertian bahwa perumpamaan mengajarkan tentang panggilan dan respons manusia. Pesan ini kemudian ditelaah dalam tiga lapisan sejarah tradisi perumpamaan Matius 22:1-14.
ALLAH MENDENGAR SERUAN DAN TEMPAT BERLINDUNG: Penelitian Puitis Mazmur 5 Armand Barus
Jurnal Amanat Agung Vol 15 No 2 (2019): Jurnal Amanat Agung Vol 15 no. 2 Desember 2019
Publisher : STT Amanat Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47754/jaa.v15i2.366

Abstract

Abstrak: Pembacaan Mazmur 5 dengan menggunakan metode penelitian puitis (poetic criticism) menyingkapkan pesan berbeda dengan metode pemberian makna teks oleh para penafsir mazmur ratapan (lament psalm) sebelumnya. Metode penelitian puitis memperhatikan keluhan pemazmur, perasaan pemazmur yang disebabkan keluhannya, pengertiannya dan pengakuannya tentang Allah di dalam keluhannya dan perubahan suasana teks (mood) dalam menguak pesan mazmur ratapan. Penerapan penelitian puitis terhadap Mazmur 5 menghasilkan pesan tentang Allah yang mendengar seruan dan tempat berlindung. Pengenalan pemazmur akan Allah yang mendengar seruan dan tempat berlindung mengubah ratapan (lament) pemazmur menjadi pujian. Abstract: Reading psalm 5 by using poetic criticism reveals differing message with the methods used by lament psalms’ interpreters when reading psalm 5. The method of poetic criticism takes into consideration the lamentation of the psalmist, the feelings resulted from the lament, the psalmist understanding dan knowledge of God in the midst of psalmist lamentation dan the mood of the text in examining lament psalms. Applying poetic criticism to psalm 5 produces a message concerning God who hears and protects. The personal knowledge of the psalmist of God who hears dan protects radically changes the lament into joy. Kata-kata Kunci: Mazmur ratapan, penelitian puitis, keluhan, perasaan, Allah, perubahan suasana teks (mood), takut akan Allah, ibadah.
KONSEP MISKIN DALAM LUKAS-KISAH PARA RASUL Armand Barus
Jurnal Amanat Agung Vol 16 No 2 (2020): Jurnal Amanat Agung Vol 16 no. 2 Desember 2020
Publisher : STT Amanat Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47754/jaa.v16i2.465

Abstract

Abstrak: Kemiskinan dalam Injil Lukas-Kisah Para Rasul seharusnya tidak dipahami sebagai kemiskinan rohani atau kemiskinan sosial atau kemiskinan moral. Kemiskinan dalam Injil Lukas-Kisah Para Rasul merujuk kepada kemiskinan ekonomi. Kesimpulan demikian diperoleh melalui perbandingan narasi unik dalam Lukas, narasi dalam Lukas dan Matius, dan narasi dalam Lukas, Matius, dan Markus. Lukas kemudian mendemonstrasikan dalam kitab Kisah Para Rasul bagaimana jemaat Kristen perdana memberi perhatian serius terhadap orang miskin materi. Kesatuan Injil Lukas-Kisah Para Rasul masih tetap dipertahankan meski konsep miskin yang dominan dalam Injil Lukas absen di dalam Kisah Para Rasul. Kata Kunci: Injil Lukas, Kisah Para Rasul, tradisi L, tradisi Q, kesatuan Lukas-Kisah Para Rasul, miskin. Abstract: Poverty in Luke-Acts should not be understood as spiritual or social or moral poverty. Poor people in Luke-Acts refer to the economically poor. This conclusion is reached through comparing narration unique to Luke, narrations in Luke and Matthew, and narrations in Luke, Matthew, and Mark. Luke then demonstrates in Acts how early Christian church seriously gave attention to the economically poor people. Unity Luke-Acts can be sustained although the concept of poverty which is dominant in Luke is absent in Acts. Keyword: Luke, Acts, L tradition, Q tradition, Unity Luke-Acts, poor.
Allah adalah Perisai: Studi Penelitian Puitis-Afektif Mazmur 3 Armand Barus
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 8, No 1 (2023): Oktober 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v8i1.1012

Abstract

Abstract. This article attempts to enrich the varieties of reading methods of psalm. The enrichment is conducted using an approach called poetic-affective criticism. Poetic-affective criticism is a method of reading a lament psalm by seriously paying attention to the elements in lament psalms, such as major characteristics of Hebrew poetry, lament, feeling, the concept of God, and mood. Applying poetic-affective criticism to Psalm 3 produces different meaning from that was suggested by most scholars. By this study it was revealed that psalmist succeeds in dealing with physical and verbal assaults against the psalmist because God is a shield of the psalmist. In and through the suffering, the psalmist is able to know God as a shield that protects the psalmist.Abstrak. Artikel ini merupakan suatu upaya untuk memperkaya keragaman metode penafsiran mazmur. Pengayaan itu dilakukan dengan memakai suatu pendekatan penelitian puitis-afektif (poetic-affective criticism). Penelitian puitis-afektif adalah metode pembacaan mazmur ratapan dengan memperhatikan unsur-unsur terkandung dalam mazmur ratapan seperti karakteristik utama puisi Ibrani, yaitu keluhan, perasaan, konsep Allah dan perubahan suasana teks (mood). Penerapan penelitian puitis-afektif terhadap Mazmur 3 dapat menghasilkan pemaknaan berbeda dengan tafsiran kebanyakan penafsir. Dalam hal ini terungkap pemazmur berhasil menghadapi serangan fisik dan perkataan terhadap dirinya karena Allah adalah perisainya. Melalui dan di dalam penderitaannya pemazmur mengenal Allah sebagai perisai yang melindunginya.