Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

State Authority and Legal Action: How to Prevent the State Misconduct? Zamakhsyari, Ahmad Faris; Utama, Muhamad Adji Rahardian; Sulistyanti, Jihan Syahida; Baharudinsyah, Rasyanahla Ghaffar; Nabilla, Suci
Law Research Review Quarterly Vol 6 No 2 (2020): L. Research Rev. Q. (May 2020) "Contemporary Development in Legal Studies and Cri
Publisher : Faculty of Law Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/lrrq.v6i2.37722

Abstract

The ideal organization is the bureaucracy whose activities and objectives rationally think and divisions of duty and authority are clearly stated. There are some expert opinions on the notion of authority. According to Philipus M. Hadjon, in constitutional law, the Authority (Bevoegdheid) is described as the rule of law (Rechtsmacht). So in the concept of public law, authority relates to power. Ferrazi defines the authority as the right to do one or more management functions, which include arrangements (regulation and standardization), Management (Administration) and supervision (supervision) or specific affairs.
Dinamika Upacara Sembahyang Cioko Sebagai Salah Satu Tradisi Masyarakat Etnis Tionghoa di Vihara Nimmala Klenteng Boen San Bio Tangerang Tahun 2000–2009 Nabilla, Suci
J-CEKI : Jurnal Cendekia Ilmiah Vol. 4 No. 4: Juni 2025
Publisher : CV. ULIL ALBAB CORP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jceki.v4i4.9048

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan mengenai sejarah Tradisi Upacara Sembahyang Cioko dan untuk menganalisis mengenai Dinamika dari Tradisi Upacara Sembahyang Cioko di Vihara Nimmala Klenteng Boen San Bio Tangerang tahun 2000–2009. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah yang terbagi dalam empat tahap, seperti heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Landasan teori yang digunakan yaitu konsep tradisi, teori dinamika kebudayaan dan teori interaksi simbolik. Hasil penelitian menjelaskan bahwa tradisi ini tidak muncul begitu saja, melainkan dipengaruhi oleh ajaran Buddha, Taoisme, Konghucu serta tradisi-tradisi lain yang ada di Tiongkok yang turut membentuk upacara ini. Upacara Sembahyang Cioko di Klenteng Boen San Bio juga mengalami perubahan dalam prosesi pelaksanaannya. Sejak tahun 2000, ada tradisi rebutan sesaji di akhir sembahyang. Namun, pada tahun 2008 terjadi sebuah kekacauan pada proses rebutan sehingga pada tahun 2009 tradisi rebutan ini dihapus karena pernah terjadi kekacauan dalam prosesnya. Saat ini, Upacara Sembahyang Cioko di Klenteng Boen San Bio sudah tidak lagi melibatkan rebutan. Upacara Sembahyang Cioko dapat dipandang sebagai simbol keagamaan yang memiliki makna signifikan bagi komunitas setempat