Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan mengenai sejarah Tradisi Upacara Sembahyang Cioko dan untuk menganalisis mengenai Dinamika dari Tradisi Upacara Sembahyang Cioko di Vihara Nimmala Klenteng Boen San Bio Tangerang tahun 2000–2009. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah yang terbagi dalam empat tahap, seperti heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Landasan teori yang digunakan yaitu konsep tradisi, teori dinamika kebudayaan dan teori interaksi simbolik. Hasil penelitian menjelaskan bahwa tradisi ini tidak muncul begitu saja, melainkan dipengaruhi oleh ajaran Buddha, Taoisme, Konghucu serta tradisi-tradisi lain yang ada di Tiongkok yang turut membentuk upacara ini. Upacara Sembahyang Cioko di Klenteng Boen San Bio juga mengalami perubahan dalam prosesi pelaksanaannya. Sejak tahun 2000, ada tradisi rebutan sesaji di akhir sembahyang. Namun, pada tahun 2008 terjadi sebuah kekacauan pada proses rebutan sehingga pada tahun 2009 tradisi rebutan ini dihapus karena pernah terjadi kekacauan dalam prosesnya. Saat ini, Upacara Sembahyang Cioko di Klenteng Boen San Bio sudah tidak lagi melibatkan rebutan. Upacara Sembahyang Cioko dapat dipandang sebagai simbol keagamaan yang memiliki makna signifikan bagi komunitas setempat