Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Predictive measure for Ischemic Heart Disease among Workers in Jakarta, Indonesia Indriyati, Leli Hesti; S, Gea Pandhita; Anis, Nurhayati; Suraya, Anna
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 31, No 4 (2021)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkb.2021.031.04.8

Abstract

Ischemic Heart Disease (IHD) is one of the leading causes of morbidity and mortality in many countries, including Indonesia. Therefore, cardiovascular risk-prediction models are required in clinical practice for early detection in high-risk populations, including the worker population. This study intends to develop a predictive risk measure for early detection of IHD incidences among employees in Jakarta, Indonesia. Source of data was the database of 4,100 medical check-up (MCU) results of employees and entrepreneurs in Jakarta and surrounding areas in January to October 2019. Multivariate analysis showed that being aged >40 years (p=0.000; OR=5.329 (95% CI 2.621-10.833)), having a history of dyspnea (p=0.000; OR=5.699 (95% CI 2.524-12.871)), smoking (p=0.048; OR=2.007 (95% CI 1.924-4.359)) and HDL<50 mg/dL (p=0.049; OR=1.811 (95% CI 1.099-3.281)) were all good predictors to detect IHD in the worker population. The combination of these predictors results with a cut-off point of 2.5, showed accuracy (79.2% sensitivity and 66.3% specificity). Workers who have a score >2.5 are at high risk of developing IHD in the future. This scoring system can be used by workers or companies to take early preventive measures.
Gambaran Tingkat Kecemasan Pada Penderita Diabetes Melitus Tipe-II di RSUD Pesanggrahan,Jakarta Selatan Winarso, Rizka Suhartini; Darwin, Prasilia; Indriyati, Leli Hesti
Sanus Medical Journal Vol. 6 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA Press)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22236/sanus.v6i1.10714

Abstract

Diabetes Mellitus merupakan suatu penyakit kronis yang disebabkan karena pankreas tidak cukup menghasilkan hormon insulin atau saat tubuh tidak mampu menggunakan insulin yang dihasilkan oleh pankreas. Kecemasan merupakan suatu kondisi aprehensi atau kekhawatiran yang merujuk pada sesuatu hal tidak baik yang akan terjadi. Banyak faktor pemicu kecemasan contohnya kondisi kesehatan, masa depan, pekerjaan, dan hubungan sosial. Penelitian ini dilakukan untuk melihat gambaran tingkat kecemasan pada penderita diabetes mellitus tipe-II. Penelitian ini menggunakan desain penelitian analitik dengan pendekatan cross sectional. Instrumen penelitian yang digunakan adalah dengan kuisioner Zung Self-Rating Anxiety Scale (SAS/ZRAS) yang terdiri dari 20 pertanyaan. Hasil penelitian menyatakan bahwa gambaran tingkat kecemasan berpengaruh pada penderita diabetes mellitus tipe-II dengan nilai likelihood ratio sebesar 0.005 < 0.05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecemasan tingkat ringan lebih banyak dirasakan pada penderita diabetes melitus tipe-II.
Hubungan Ibu Pekerja dengan Perkembangan Anak Balita Usia 3-59 Bulan di Wilayah Kerja Posyandu 1 Banyu Biru Mauk dengan Menggunakan Kuesioner Praskrining Perkembangan (KPSP) Dewi Novita Sari; Salsabil Nadiyyah, Salsabil; Indriyati, Leli Hesti
Sanus Medical Journal Vol. 5 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA Press)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22236/sanus.v5i2.14491

Abstract

Penelitian ini melihat hubungan antara ibu pekerja dengan perkembangan balita usia 3-59 bulan dengan menggunakan Kuesioner Praskrining Perkembangan (KPSP) yang dilakukan pada bulan Januari 2022 sampai April 2022 di Posyandu 1 Banyu Biru Mauk. Penelitian ini dilakukan menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Responden pada penelitian ini sebanyak 48 orang ibu yang terdiri atas ibu rumah tangga dan ibu pekerja. Hasil penelitian didapatkan sebanyak tiga dari 48 balita (6%), mengalami perkembangan terlambat. Berdasarkan hasil penelitian tidak didapatkan hubungan antara ibu pekerja dengan keterlambatan perkembangan pada anak balita (p=1,000). Dari penelitian ini disarankan penelitian selanjutnya dengan jumlah sampel yang lebih banyak dan menambahkan beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan
Identifikasi Boraks dan Formalin pada Jajanan Sekolah dengan Menggunakan Metode Sederhana dan Efeknya bagi Tubuh Wijiastuti, Wijiastuti; Putri, Elfia Siska Yasa; Indriyati, Leli Hesti
E-Dimas: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 11, No 2 (2020): E-DIMAS
Publisher : Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/e-dimas.v11i2.3469

Abstract

Kebutuhan siswa akan makanan adalah faktor utama warung penjual makanan berkembang di lingkungan sekolah. Berbagai variasi dan rasa makanan tersedia dari makanan ringan (snack) sampai makanan yang mengenyangkan. Faktor rasa yang sesuai dengan selera siswa, seperti gurih dan pedas, menjadi pilihan bagi para siswa untuk mengkonsumsi makanan tersebut. Padahal tidak semua makanan yang disukai itu merupakan makanan sehat karena mengandung bahan tambahan makanan yang berbahaya bagi tubuh yaitu boraks dan formalin. Boraks dan formalin memberikan efek samping apabila dikonsumsi. Tujuan dilaksanakan pengabdian masyarakat ini adalah upaya untuk meningkatkan pemahaman tentang kandungan bahan tambahan makanan khususnya boraks dan formalin dan efeknya bagi kesehatan apabila siswa-siswa memakan makanan yang mengandung boraks dan formalin. Tujuan lainnya adalah siswa-siswa diberikan prosedur untuk mendeteksi boraks dan formalin dalam makanan dengan menggunakan metode sederhana yang memanfaatkan tanaman yang ada disekitar kita. Pelaksanaan program diawali dengan penjaringan subyek (kelompok target), dan sosialisasi program di SMA Muhammadiyah 1 Depok, Jawa Barat. Tahapan program selanjutnya adalah penyebaran angket sebelum melakukan pelatihan, memberikan edukasi dan penyuluhan tentang bahan boraks dan formalin serta efeknya bagi kesehatan, prosedur identifikasi boraks dan formalin dengan metode sederhana. Pada kegiatan ini dilakukan pembagian buku saku yang berisi panduan sederhana prosedur identifikasi boraks dan formalin pada makanan yang dilanjutkan praktek identifikasi boraks dan formalin dengan metode sederhana. Tahap berikutnya adalah pembagian angket akhir. Siswa sangat antusias pada praktek identifikasi boraks dan formalin. Mereka mendapatkan wawasan baru tentang identifikasi boraks dan formalin dengan metode sederhana. Dengan adanya pelatihan ini mereka lebih selektif dan hati-hati dalam memilih makanan yang aman untuk dikonsumsi.
Indonesia Prevalensi dan Komponen Sindrom Metabolik pada Pekerja Pria di Indonesia Indriyati, Leli Hesti; Ujianti, Irena; Lakhsmi, Betty Semara
Majalah Kedokteran Indonesia Vol 73 No 2 (2023): Journal of The Indonesian Medical Association - Majalah Kedokteran Indonesia, Vo
Publisher : PENGURUS BESAR IKATAN DOKTER INDONESIA (PB IDI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47830/jinma-vol.73.2-2023-886

Abstract

Introduction : Metabolic syndrome (MetS) has emerged as one of the world’s major public health issues and the prevalence of this syndrome varies among population. There is a little of information on the epidemiology of MetS in male workers in Indonesia. Therefore, this study aims to determine the prevalence, its component and risk factors of MetS in Indonesian’s male working population. Methods : This was a cross sectional study of 1298 workers (median age, IQR 41,37-48 years) who underwent a routine Medical Check Up (MCU). The metabolic syndrome is diagnosed using the criteria established by the revised National Cholesterol Education Program-Adult Treatment Panel-III definition (2005 ATP III). Results : Metabolic syndrome prevalence was 13.9% in male workers. The most common abnormalities among all participants were hypertriglyceridemia (94.5%) and abdominal obesity (80.6%) [p less than 0.001]. Multivariable logistic regression analysis revealed that obesity (OR: 9.29; 95% CI: 5.56-15.54), overweight (OR: 2.15; 95% CI: 1.11-4.18), increasing age (OR: 2.39; 95% CI: 1.36-4.21), white blood cells/WBC or leukocyte (OR: 1.13; 95% CI: 1.04-1.24) and exercise (OR: 1.51; 95% CI: 1.06-2.15), were associated with a higher risk of developing MetS in the working population. Conclusion : The most common component of MetS in workers is hypertriglyceridemia followed by abdominal obesity. As a result, it is possible that these are the first detectable component of MetS in the working population. Early detection of MetS components, especially in obese workers, could be effective way to prevent the development of the syndrome.