Articles
Strategi Pendidikan Kristen bagi Anak Berkebutuhan Khusus Slow Learner
Cahyono, Benaya Dwi;
Budiyana, Hardi
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 6, No 1 (2023): September 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.38189/jtbh.v6i1.429
Anak berkebutuhan khusus adalah individu yang mempunyai gangguan perkembangan dan kelainan yang dialami anak dan karakteristik yang berbeda dari individu lainnya. Sehingga dalam menangani Anak berkebutuhan khusus tidak boleh disamakan dengan anak normal pada umumnya oleh karenanya dalam pembelajarannya harus dengan penanganan yang khusus dan terarah, hal ini bertujuan untuk tercapainya proses pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan Anak berkebutuhan khusus. Slow Learner sering digunakan untuk menyebut anak yang mempunyai kemampuan kognitif di bawah rata-rata atau lamban belajar. Anak slow learner memiliki prestasi belajar di bawah rata-rata dari anak normal pada umumnya. Oleh karenanya dalam pembelajaran harus dengan metode yang khusus dan mudah dipahami karena setiap strategi pembelajaran terhadap anak berkebutuhan khusus berbeda satu dengan yang lainnya. Dalam kajian ini adalah metode penelitian memakai metode deskriptif kualitatif. Kajian ini memperoleh data melalui studi pustaka, data empiris dan menelusuri karya ilmiah para peneliti sebelumnya yang telah dipublikasikan terkait tema kajian serta pengamatan dan wawancara di sekolah yang menangani anak slow leaner.
Penggembalaan Berdasarkan Yohanes 10:1-18 Serta Implikasinya Bagi Jemaat Masa Kini
Suleman, Richard;
Budiyana, Hardi
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 6, No 1 (2024): Teologi dan Pendidikan Agama Kristen (Februari 2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.59177/veritas.v6i1.275
Pastoral care plays an important role in the life of the church and congregation. Shepherding is part of Practical Theology and if its implementation is carried out in accordance with the Bible, it will produce congregations that have a good standard level of faith, so that with this good level of faith the congregation can have the ability to recover themselves when problems and struggles come. Using a descriptive qualitative method with a literature study approach, it can be concluded that congregants who have been shepherded and taught based on Jesus' teaching about the Good Shepherd will have faith and loyalty to their local church as a place to start discipleship, so that the congregation grows in their local church. So the true task of a shepherd is to be a teacher for his congregation. Teaching can be done by giving a living example or through biblical guidance that can grow the believing faith of the congregation, so that they can stand firm on their belief until the end, and they are found to remain faithful in Christ.AbstrakPastoral atau penggembalaan berperan penting di dalam kehidupan bergereja maupun berjemaat. Penggembalaan termasuk di dalam bagian dari Teologi Praktika dan jika pelaksanaannya dilakukan sesuai dengan Alkitab, maka akan menghasilkan jemaat yang memiliki standart level iman yang baik, sehingga dengan level iman yang baik ini warga jemaat dapat memiliki kemampuan pemulihan diri pada saat masalah dan pergumulan datang. Mengunakan metode kualitatif deskritif dengan pendekatan studi literature maka dapat disimpulkan bahwa warga jemaat yang telah digembalakan dan diajar berdasarkan pengajaran Yesus tentang Gembala yang Baik akan memiliki iman dan kesetiaan terhadap gereja lokalnya sebagai wadah dalam awal dimulaianya pemuridan, sehingga warga jemaat tersebut semaking bertumbuh di gereja lokalnya. Maka sejatinya tugas seorang gembala adalah menjadi pengajar bagi warga jemaatnya. Mengajar dapat dilakukan dengan memberikan teladan hidup maupun melalui bimbingan Alkitabiah yang dapat menumbuhkan iman percaya warga jemaat, sehingga mereka dapat berdiri teguh di atas kepercayaan mereka sampai akhir, dan mereka didapati tetap beriman di dalam Kristus.
Rekontekstualisasi Pendidikan Nilai Teologi di Era Post-Truth Berdasarkan Roma 1:18-32
Tuminah, Sri;
Budiyana, Hardi;
Sukarno, Mahattama Banteng
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol. 7 No. 1 (2024): September 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.38189/jtbh.v7i1.831
Immoral and criminal acts by social actors in religious and cultural communities are a barometer of the low quality of theological values education. These social facts are gaining more and more space in the post-truth era. This confirms that there is a problem in Theological Education of Values that needs to be critiqued again in order to achieve maximum results. Therefore, the researcher developed a research question, namely, how to recontextualise theological values education in the post-truth era. The question is based on the research gap and is also the main basis for the novelty of this research. By developing Teun Adrianus van Dijk's critical discourse analysis perspective on Romans 1:18-32, the researcher found that the passage highlights Christian values education and provides four recommendations to address the problems and challenges that arise in the post-truth era, including: first, developing a critical and constructive attitude towards narrative; second, developing a comprehensive understanding of identity and its representation; third, promoting and implementing interfaith dialogue and tolerance; and fourth, using the media wisely. These four things are important to be implemented by theological values education activists to respond to any negative phenomenon in the present and transform it into positive and constructive based on God's truths. Tindakan-tindakan amoral dan kriminal dari aktor-aktor sosial dalam masyarakat agama dan budaya menjadi barometer atas rendahnya kualitas Pendidikan Nilai Teologis. Fakta sosial tersebut semakin mendapatkan ruang di era post-truth. Hal ini menegaskan, bahwa ada masalah dalam Pendidikan Nilai Teologi yang selama ini telah berlangsung perlu dikritisi kembali guna mendapatkan hasil maksimal. Karena itu, peneliti mengembangkan satu pertanyaan penelitian, yaitu bagaimana rekontekstualisasi Pendidikan nilai Teologi di Era Post-truth? Pertanyaan tersebut didasarkan atas celah penelitian dan sekaligus menjadi pijakan utama kebaruan penelitian ini. Dengan mengembangkan perspektif Analisa Wacana Kritis dari Teun Adrianus van Dijk atas Roma 1:18-32, peneliti menemukan bahwa perikop tersebut menekankan Pendidian Nilai Kristiani dan memberikan empat rekomendasi untuk menyikapi permasalahan dan tantangan yang muncul di era post-truth antara lain: pertama, mengembangkan sikap kritis dan konstruktif terhadap narasi; kedua, mengembangkan pemahaman komprehensif tentang identitas serta representasinya; ketiga, mempromosikan dan melaksanakan dialog lintas iman dan toleransi; dan keempat, mempergunakan media dengan bijaksana. Keempat hal tersebut menjadi penting dilaksanakan oleh penggiat Pendidikan Nilai Teologis guna menyikapi setiap fenomena negatif dalam kekinian dan mengubahnya menjadi positif serta konstruktif berdasarkan kebenaran-kebenaran Allah.
Rekontekstualisasi Pendidikan Nilai Teologi di Era Post-Truth Berdasarkan Roma 1:18-32
Tuminah, Sri;
Budiyana, Hardi;
Sukarno, Mahattama Banteng
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol. 7 No. 1 (2024): September 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.38189/jtbh.v7i1.831
Immoral and criminal acts by social actors in religious and cultural communities are a barometer of the low quality of theological values education. These social facts are gaining more and more space in the post-truth era. This confirms that there is a problem in Theological Education of Values that needs to be critiqued again in order to achieve maximum results. Therefore, the researcher developed a research question, namely, how to recontextualise theological values education in the post-truth era. The question is based on the research gap and is also the main basis for the novelty of this research. By developing Teun Adrianus van Dijk's critical discourse analysis perspective on Romans 1:18-32, the researcher found that the passage highlights Christian values education and provides four recommendations to address the problems and challenges that arise in the post-truth era, including: first, developing a critical and constructive attitude towards narrative; second, developing a comprehensive understanding of identity and its representation; third, promoting and implementing interfaith dialogue and tolerance; and fourth, using the media wisely. These four things are important to be implemented by theological values education activists to respond to any negative phenomenon in the present and transform it into positive and constructive based on God's truths. Tindakan-tindakan amoral dan kriminal dari aktor-aktor sosial dalam masyarakat agama dan budaya menjadi barometer atas rendahnya kualitas Pendidikan Nilai Teologis. Fakta sosial tersebut semakin mendapatkan ruang di era post-truth. Hal ini menegaskan, bahwa ada masalah dalam Pendidikan Nilai Teologi yang selama ini telah berlangsung perlu dikritisi kembali guna mendapatkan hasil maksimal. Karena itu, peneliti mengembangkan satu pertanyaan penelitian, yaitu bagaimana rekontekstualisasi Pendidikan nilai Teologi di Era Post-truth? Pertanyaan tersebut didasarkan atas celah penelitian dan sekaligus menjadi pijakan utama kebaruan penelitian ini. Dengan mengembangkan perspektif Analisa Wacana Kritis dari Teun Adrianus van Dijk atas Roma 1:18-32, peneliti menemukan bahwa perikop tersebut menekankan Pendidian Nilai Kristiani dan memberikan empat rekomendasi untuk menyikapi permasalahan dan tantangan yang muncul di era post-truth antara lain: pertama, mengembangkan sikap kritis dan konstruktif terhadap narasi; kedua, mengembangkan pemahaman komprehensif tentang identitas serta representasinya; ketiga, mempromosikan dan melaksanakan dialog lintas iman dan toleransi; dan keempat, mempergunakan media dengan bijaksana. Keempat hal tersebut menjadi penting dilaksanakan oleh penggiat Pendidikan Nilai Teologis guna menyikapi setiap fenomena negatif dalam kekinian dan mengubahnya menjadi positif serta konstruktif berdasarkan kebenaran-kebenaran Allah.
Rekontekstualisasi Pendidikan Nilai Teologi di Era Post-Truth Berdasarkan Roma 1:18-32
Tuminah, Sri;
Budiyana, Hardi;
Sukarno, Mahattama Banteng
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol. 7 No. 1 (2024): September 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.38189/jtbh.v7i1.831
Immoral and criminal acts by social actors in religious and cultural communities are a barometer of the low quality of theological values education. These social facts are gaining more and more space in the post-truth era. This confirms that there is a problem in Theological Education of Values that needs to be critiqued again in order to achieve maximum results. Therefore, the researcher developed a research question, namely, how to recontextualise theological values education in the post-truth era. The question is based on the research gap and is also the main basis for the novelty of this research. By developing Teun Adrianus van Dijk's critical discourse analysis perspective on Romans 1:18-32, the researcher found that the passage highlights Christian values education and provides four recommendations to address the problems and challenges that arise in the post-truth era, including: first, developing a critical and constructive attitude towards narrative; second, developing a comprehensive understanding of identity and its representation; third, promoting and implementing interfaith dialogue and tolerance; and fourth, using the media wisely. These four things are important to be implemented by theological values education activists to respond to any negative phenomenon in the present and transform it into positive and constructive based on God's truths. Tindakan-tindakan amoral dan kriminal dari aktor-aktor sosial dalam masyarakat agama dan budaya menjadi barometer atas rendahnya kualitas Pendidikan Nilai Teologis. Fakta sosial tersebut semakin mendapatkan ruang di era post-truth. Hal ini menegaskan, bahwa ada masalah dalam Pendidikan Nilai Teologi yang selama ini telah berlangsung perlu dikritisi kembali guna mendapatkan hasil maksimal. Karena itu, peneliti mengembangkan satu pertanyaan penelitian, yaitu bagaimana rekontekstualisasi Pendidikan nilai Teologi di Era Post-truth? Pertanyaan tersebut didasarkan atas celah penelitian dan sekaligus menjadi pijakan utama kebaruan penelitian ini. Dengan mengembangkan perspektif Analisa Wacana Kritis dari Teun Adrianus van Dijk atas Roma 1:18-32, peneliti menemukan bahwa perikop tersebut menekankan Pendidian Nilai Kristiani dan memberikan empat rekomendasi untuk menyikapi permasalahan dan tantangan yang muncul di era post-truth antara lain: pertama, mengembangkan sikap kritis dan konstruktif terhadap narasi; kedua, mengembangkan pemahaman komprehensif tentang identitas serta representasinya; ketiga, mempromosikan dan melaksanakan dialog lintas iman dan toleransi; dan keempat, mempergunakan media dengan bijaksana. Keempat hal tersebut menjadi penting dilaksanakan oleh penggiat Pendidikan Nilai Teologis guna menyikapi setiap fenomena negatif dalam kekinian dan mengubahnya menjadi positif serta konstruktif berdasarkan kebenaran-kebenaran Allah.
Rekontekstualisasi Pendidikan Nilai Teologi di Era Post-Truth Berdasarkan Roma 1:18-32
Tuminah, Sri;
Budiyana, Hardi;
Sukarno, Mahattama Banteng
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol. 7 No. 1 (2024): September 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.38189/jtbh.v7i1.831
Immoral and criminal acts by social actors in religious and cultural communities are a barometer of the low quality of theological values education. These social facts are gaining more and more space in the post-truth era. This confirms that there is a problem in Theological Education of Values that needs to be critiqued again in order to achieve maximum results. Therefore, the researcher developed a research question, namely, how to recontextualise theological values education in the post-truth era. The question is based on the research gap and is also the main basis for the novelty of this research. By developing Teun Adrianus van Dijk's critical discourse analysis perspective on Romans 1:18-32, the researcher found that the passage highlights Christian values education and provides four recommendations to address the problems and challenges that arise in the post-truth era, including: first, developing a critical and constructive attitude towards narrative; second, developing a comprehensive understanding of identity and its representation; third, promoting and implementing interfaith dialogue and tolerance; and fourth, using the media wisely. These four things are important to be implemented by theological values education activists to respond to any negative phenomenon in the present and transform it into positive and constructive based on God's truths. Tindakan-tindakan amoral dan kriminal dari aktor-aktor sosial dalam masyarakat agama dan budaya menjadi barometer atas rendahnya kualitas Pendidikan Nilai Teologis. Fakta sosial tersebut semakin mendapatkan ruang di era post-truth. Hal ini menegaskan, bahwa ada masalah dalam Pendidikan Nilai Teologi yang selama ini telah berlangsung perlu dikritisi kembali guna mendapatkan hasil maksimal. Karena itu, peneliti mengembangkan satu pertanyaan penelitian, yaitu bagaimana rekontekstualisasi Pendidikan nilai Teologi di Era Post-truth? Pertanyaan tersebut didasarkan atas celah penelitian dan sekaligus menjadi pijakan utama kebaruan penelitian ini. Dengan mengembangkan perspektif Analisa Wacana Kritis dari Teun Adrianus van Dijk atas Roma 1:18-32, peneliti menemukan bahwa perikop tersebut menekankan Pendidian Nilai Kristiani dan memberikan empat rekomendasi untuk menyikapi permasalahan dan tantangan yang muncul di era post-truth antara lain: pertama, mengembangkan sikap kritis dan konstruktif terhadap narasi; kedua, mengembangkan pemahaman komprehensif tentang identitas serta representasinya; ketiga, mempromosikan dan melaksanakan dialog lintas iman dan toleransi; dan keempat, mempergunakan media dengan bijaksana. Keempat hal tersebut menjadi penting dilaksanakan oleh penggiat Pendidikan Nilai Teologis guna menyikapi setiap fenomena negatif dalam kekinian dan mengubahnya menjadi positif serta konstruktif berdasarkan kebenaran-kebenaran Allah.
Model dan Strategi Pembelajaran Yesus berdasarkan Injil Sinoptik dan Implementasinya bagi Guru Pendidikan Agama Kristen
Arifianto, Yonatan Alex;
Budiyana, Hardi;
Purwoto, Paulus
Harati: Jurnal Pendidikan Kristen Vol 1 No 1 (2021): HaratiJPK: April
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Kristen IAKN Palangka Raya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.54170/harati.v1i1.23
The success of Christian religious education can be observed from the joint corporation between Christian religious education teachers and students and maximizing the teaching which is the goal. Therefore, the role of the teacher in building models and learning strategies for Jesus based on the synoptic Gospels can be applied in the learning process. Using a descriptive qualitative method with a literature study approach, it can be concluded that teachers and all church leaders are expected to be able to convey the value of the Jesus Learning model and strategy for the congregation and students. Because the learning carried out by Jesus in developing spiritual values and can be implemented is what is expected to be maximized in the teaching carried out. Because this is based first on the importance of Christian education, for the congregation's spirituality and for students who continue to aim and focus on Jesus as an example in learning. So that it can bring the role of Christian religious education teachers in learning to explore in studies in the Synoptic Gospels to obtain a Jesus Learning model. Keberhasilan pendidikan agama Kristen dapat dicermati dari koorporasi bersama antara guru Pendidikan Agama Kristen dan peserta didik serta memaksimalkan pengajaran yang yang menjadi tujuan tersebut. Oleh karena itu peran guru dalam membangun model dan strategi pembelajaran Yesus berdasarkan Injil sinoptik dapat diterapkan dalam proses pembelajaran. Menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi pustaka maka didapatkan kesimpulan bahwa Guru dan seluruh pimpinan gereja sangat diharapkan dapat menyampaikan nilai dari model dan strategi pembelajaran Yesus bagi para jemaat maupun peserta didik. Sebab pembelajaran yang dilakukan oleh Yesus dalam mengembangkan nilai kerohanian serta dapat di implementasikan menjadi hal yang sangat diharapkan dapat dimaksimalkan dalam pengajaran yang dilakukan. Karena hal tersebut didasari pertama pentingnya pendidikan Kristen, bagi spiritual jemaat maupun peserta didik yang tetap mengarah dan berfokus kepada Yesus sebagai teladan dalam pembelajaran. Sehingga dapat membawa peran guru pendidikan agama Kristen dalam pembelajaran dapat mengeksplore dalam kajian dalam Injil sinoptik untuk didapatkan model Pembelajaran Yesus.
Landasan Teologis Pendidikan Kristen dan Relevansinya Bagi Pendidikan Kristen Masa Kini
Diana, Messelina;
Budiyana, Hardi
Jurnal Lentera Nusantara Vol 3, No 2 (2024): Teologi dan Pendidikan Kristen (Juni 2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.59177/jls.v3i2.302
Christian education today has a big challenge. The big challenge is because it is in the industrial era 5.0 in this industrial era 5.0, people are in an order with high civilization. Thus the challenges faced in the world of Christian education are also high. This research aims to find the theological foundation of Christian Education in the Bible, both in the Old and New Testaments so that we can implement it today. This research uses qualitative research methods, the author uses literature sources, namely reference books, and journals related to the research topic. The conclusion of this research is that there is a theological foundation in both the Old and New Testaments regarding Christian education that is still very relevant to Christian education today. These foundations include that Christian education must be based on the Bible, Christian education aims to bring salvation and character change, Christian education is contextualized with the times. AbstrakPendidikan Kristen masa kini memiliki tantangan yang besar. Tantangan besarnya karena berada dalam era industri 5.0 di era industri 5.0 ini masyarakatnya berada dalam suatu tatanan dengan peradaban yang tinggi. Dengan demikian tantangan yang dihadapi pun dalam dunia pendidikan Kristen juga tinggi. Penelitian ini memiliki tujuan untuk menemukan landasan teologis Pendidikan Kristen dalam Alkitab, baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru sehingga kita dapat mengimplementasikannya saat ini. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif, penulis menggunakan sumber literatur yaitu buku-buku referensi, dan jurnal yang berhubungan dengan topik penelitian. Kesimpulan penelitian ini adalah ditemukan adanya landasan teologis baik dalam Perjanjian Lama maupun dalam Perjanjian Baru mengenai pendidikan Kristen yang masih sangat relevan dengan pendidikan Kristen saat ini. Landasan tersebut di antaranya adalah bahwa pendidikan Kristen harus berdasarkan Alkitab, pendidikan Kristen bertujuan membawa keselamatan dan perubahan karakter, pendidikan Kristen berkontektualisasi dengan jaman.
Kombinasi Model Pembelajaran Joyce – Weil & Model Pembelajaran Alkitabiah Yesus dalam Kehidupan Rohani Jemaat
Purwonugroho, Daniel Pesah;
Budiyana, Hardi
Jurnal Lentera Nusantara Vol 3, No 1 (2023): Pendidikan Kristen dan Teologi - Desember 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.59177/jls.v3i1.250
Penelitian ini dibuat untuk mengkombinasikan model pembelajaran Joyce-Weil model pembelajaran Alkitbiah Yesus dalam kehidupan rohani jemaat. Model pembelajaran adalah seluruh spektrum penyajian materi pendidikan. Model pembelajaran mencakup semua elemen sebelum pembelajaran, selama proses pembelajaran, dan sesudah pembelajaran serta semua fasilitas yang terkait yang digunakan oleh guru secara langsung atau tidak langsung selama proses belajar. Joyce-Weil mendeskripsikan 4 rumpun model pembelajaran. Yesus sebagai guru agung memiliki model pembelajaran yang tercatat di dalam 4 Injil. Dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif, kombinasi antara model pembelajaran Joyce-Weil dan model pembelajaran Alkitabiah Yesus sangat berguna bagi kehidupan rohani jemaat. Kombinasi ini membawa kebaharuan bagi pengkotbah demi tercapainya pertumbuhan rohani jemaat
Model Pembelajaran Yesus Berdasarkan Alkitab
Budiyana, Hardi
ELEOS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol. 1 No. 1 (2021): Teologi dan Pendidikan Agama Kristen
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalvari Manado
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (486.442 KB)
|
DOI: 10.53814/eleos.v1i1.3
Abstract This study aims to discuss the learning model of Jesus based on the Bible. The learning model is the whole series of presentations of teaching materials which includes all aspects before learning, while the learning process and after learning by the teacher and all related facilities that are used directly or indirectly in the teaching and learning process. The teaching model can be interpreted as a plan or pattern used in preparing the curriculum, arranging student material, and providing instructions to teachers in the classroom in teaching settings or other settings. As a teacher, of course, Jesus has a model in teaching His students. Because the learning model is very necessary to achieve an educational goal. Using descriptive qualitative methods, it can be concluded that Jesus' learning model for His disciples is focused on the four Gospels. By studying and understanding the learning model of Jesus as the Great Teacher, the teachers will be able to prepare the learning process well, so that the goals of their education can be achieved. In the context of educational services, we must imitate the learning model that Jesus did for His disciples. This can make students understand the material given and strengthen their faith in the Lord Jesus and can be witnesses in winning new souls for His kingdom. Abstrak Penelitian ini bertujuan membahas model pembelajaran Yesus berdasarkan Alkitab. Model pembelajaran adalah seluruh rangkaian penyajian materi ajar yang meliputi segala aspek sebelum pembelajaran, sedang proses pembelajaran dan sesudah pembelajaran yang dilakukan guru serta segala fasilitas yang terkait yang digunakan secara langsung atau tidak langsung dalam proses belajar mengajar. Model mengajar dapat diartikan sebagai suatu rencana atau pola yang digunakan dalam menyusun kurikulum, mengatur materi peserta didik, dan memberi petunjuk kepada pengajar di kelas dalam setting pengajaran atau setting lainnya. Sebagai seorang guru tentu Yesus mempunyai model dalam melakukan pembelajaran kepada murid-murid-Nya. Karena model pembelajaran sangat diperlukan untuk mencapai suatu tujuan pendidikan.menggunkan metode kualitatif deskritif dapat disimpulkan bahwa Model pembelajaran Yesus kepada murid-murid-Nya yang difokuskan dalam ke empat Kitab Injil. Dengan mempelajari dan memahami model pembelajaran Yesus sebagai Guru Agung, maka para pengajar akan dapat mempersiapkan proses pembelajarannya dengan baik, sehingga apa yang menjadi tujuan dari pendidikannya dapat tercapai. Dalam konteks pelayanan pendidikan harus meneladani model pembelajaran yang Yesus lakukan kepada murid-murid-Nya. Hal ini dapat menjadikan peserta didik mengerti akan materi yang diberikan dan semakin meneguhkan iman percayanya kepada Tuhan Yesus serta dapat menjadi saksi dalam memenangkan jiwa-jiwa baru bagi kerajaan-Nya.