Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Optimalisasi Pemanfaatan Lahan Di Areal Hutan Tanaman Rakyat Koperasi Perisai Sinar Jaya Kabupaten Muaro Jambi Prasetiyo, Endro; Johari, Asni; Marwoto
Jurnal Pembangunan Berkelanjutan Vol. 8 No. 1 (2025): Jurnal Pembangunan Berkelanjutan
Publisher : Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemanfaatan hutan saat ini diarahkan untuk memberikan akses bagi masyarakat yang berada di sekitar hutan. Hutan Tanaman Rakyat (HTR) merupakan skema pengelolaan hutan oleh masyarakat dibangun dengan perencanaan yang mencakup penataan areal, pemanfaatan hutan, rehabilitasi hutan, perlindungan dan pengamanan hutan. Perkembangan pembangunan HTR terkesan belum mampu meningkatkan produktivitas lahan terjadi akibat perencanaan yang hanya berorientasi adminstrasi. Penerbitan izin PS skema HTR di Provinsi Jambi telah tercapai sebanyak 194 izin dengan total luas perizinan sebesar 37.730,65 ha (Dinas Kehutanan Provinsi Jambi, 2022). HTR Koperasi Perisai Sinar Jaya merencanakan penanaman jenis Acacia crasicarva, Jelutung dan Pinang pada luas areal 266 ha. Realisasi penanaman sejak tahun 2010 baru tercapai seluas 72,1 ha dengan jenis Acacia crasicarva. Pengelolaan hutan HTR bersifat monokultur menyebabkan rendahnya tingkat produktivitas lahan. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan rekomendasi pemanfaatan lahan yang optimal dengan pola kombinasi jenis tanaman pokok, Multi Purpose Tree Species (MPTS) dan tanaman sela. Jenis tanaman pilihan masyarakat dianalisis menggunakan software Super Decission V.3.2. Jenis tanaman pilihan masyarakat dilakukan pencocokan (matching) terhadap persyaratan kesesuaian lahan untuk mendapatkan jenis tanaman yang sesuai dengan karakteristik lahan. Selanjutnya dilakukan penyusunan pola kombinasi jenia tanaman dan dihitung tingkat produktivitasnya. Penyusunan pola kombinasi jenis tanaman menghasilkan 18 pola kombinasi. Penentuan pola kombinasi jenis tanaman yang terbaik dilakukan dengan menghitung pendapatan dari setiap pola kombinasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola kombinasi jenis tanaman yang paling optimal memberikan keuntungan adalah tanaman pokok Jelutung, tanaman MPTS jenis Petai dan tanaman sela jenis Jahe Merah.
STUDI KERAPATAN MANGROVE DAN PERUBAHAN GARIS PANTAI TAHUN 1989-2018 DI PESISIR PROVINSI JAMBI Achmad, Eva; Nursanti, Nursanti; Marwoto, Marwoto; Fazriyas, Fazriyas; Jayanti, Dwi Putri; Marwoto
Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (Journal of Natural Resources and Environmental Management) Vol 10 No 2 (2020): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (JPSL)
Publisher : Pusat Penelitian Lingkungan Hidup, IPB (PPLH-IPB) dan Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan, IPB (PS. PSL, SPs. IPB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jpsl.10.2.138-152

Abstract

The density of mangrove cover is one of the factors that influence changes in shoreline both accretion and abrasion. This study aims to determine the effect of changes in density of mangrove cover on shoreline changes in 1989-2018 in the Coastal Province of Jambi. The method used is the interpretation of Landsat satellite images in 1989, 2000 and 2018 using NDVI (Normalized Difference Vegetation Index) and overlaying images to see shoreline changes and DSAS (Digital Shoreline Analysis System) to calculate the area of change. The results showed that there had been a change in shoreline both accretion and abrasion in several locations that had different mangrove densities in the period 1989-2018. The results showed that accretion occured in 6 locations with an average change of Kota Sebrang 771 m, Tungkal Ilir 240.65 m, Kuala Betara 153.73 m, Mendahara 167.78 m, Kuala Jambi 169.35 m and Nipah 57.3 m, while abrasion occurs at 2 locations with an average change in Sabak Timur -41.8 m and Sadu -36.55 m. Where in the 6 locations that had accretion, mangrove density dominantly was in a close-densed and moderate state and only a few are in a low-densed condition. Meanwhile, the 2 locations that had abrasion were in a moderate state and have a low density mangrove forest.