Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Pentingnya Suvervisi Pendidikan Dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan Di Indonesia Ningsih, Ni Putu Diah Untari
Lampuhyang Vol 15 No 1 (2024)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v15i1.361

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pentingnya Suvervisi Pendidikan Dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan di Indonesia, dimana pendidikan Indonesia semakin hari kualitasnya semakin rendah. Masalah yang serius dalam meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia adalah rendahnya mutu pendidikan di berbagai jenjang, baik pendidikan formal maupun informal. Penyebab rendahnya mutu pendidikan di Indonesia adalah masalah efektifitas, efisiensi, dan standardisasi pengajaran. Hal tersebut masih menjadi masalah pendidikan di Indonesia pada umumnya. Adapun masalah khusus dalam dunia pendidikan yaitu rendahnya sarana fisik, rendahnya kualitas guru, rendahnyavkesejahteraan guru, rendahnya prestasi siswa, rendahnya kesempatan pemerataan pendidikan, rendahnya relevansi pendidikan dengan kebutuhan, dan mahalnya biaya pendidikan. Oleh karena itu, supervisi pendidikan adalah hal yang sangat penting dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan diIndonesia. Kegiatan supervisi dilaksanakan melalui berbagai proses pemecahanbmasalah pengajaran, dan bertujuan untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi proses belajar mengajar, supervisi merupakan bantuan kepada guru dalam perbaikan situasi belajar mengajar, supervisi pendidikan meliputi supervisi terhadap pengajaran maupun komponen pendukungnya.
Teknis Supervisi Guru Pada Kurikulum Merdeka Belajar Di Era Society 5.0 Ningsih, Ni Putu Diah Untari
Lampuhyang Vol 15 No 2 (2024)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v15i2.378

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pada dasarnya teknis Supervisi pada kurikulum merdeka belajar sama saja dengan supervisi pada umumnya. Merdeka belajar hanya sebuah spirit yang mendorong agar pembelajaran dilaksanakan secara merdeka, baik bagi guru maupun bagi peserta didik. Konsep merdeka belajar ini dicanangkan oleh Nadiem Anwar Makariem, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi yang merupakan kebijakan baru untuk persoalan-persoalan dalam pendidikan di Indonesia. Merdeka Belajar adalah kebebasan dalam cara berpikir dan belajar. Di dalam era Society 5.0 di bidang pendidikan difokuskan dalam keahlian 4C yaitu keterampilan berpikir kritis, keterampilan berpikir kreatif, keterampilan bekerja sama atau berkolaborasi, dan keterampilan berkomunikasi. Selain keahlian ada pula kemampuan yang mengharuskan dimiliki pada era society 5.0 ini, yaitu kepemimpinan, literasi digital, komunikasi, kecerdasan emosional, kewirausahaan, pemecahan masalah, dan kerja tim.
Eco-Cultural Economic Education: Community Assistance in Upakara Plant at the Taman Bumi Banten: Eco–Cultural Economic-Education: Pendampingan Penanaman Tanaman Upakara di Kawasan Taman Bumi Banten Ningsih, Ni Putu Diah Untari; Budiantara, I Ketut Dani; Erlia, Ayu Widha
CONSEN: Indonesian Journal of Community Services and Engagement Vol. 6 No. 1 (2026): Consen: Indonesian Journal of Community Services and Engagement
Publisher : Institut Riset dan Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57152/consen.v6i1.2590

Abstract

The purpose of this activity was to develop the Taman Bumi Banten area as a platform for Eco–Cultural Economic-Education for the Hindu community through the cultivation of upakara plants. The primary challenges faced by the community partner included: (1) limited supply of upakara materials in Telaga Tawang Village, (2) community dependence on upakara materials sourced from outside Bali, and (3) insufficient knowledge regarding cultivation techniques and the economic potential of upakara plants. A participatory approach was employed, comprising sequential stages of preliminary survey, socialization, training, planting assistance, and evaluation incorporating pre-test and post-test instruments to measure improvements in participants' understanding. The activity was conducted at Taman Bumi Banten, Telaga Tawang Village, Sidemen District, Karangasem Regency, involving approximately 50 participants drawn from lecturers, administrative staff, students, the Seka Truna Truni (STT) youth organization, and local community members. The cultivated upakara plants encompassed various coconut varieties (mulung, gading, gadang, sudamala, and bulan coconut), fruit-bearing species (starfruit, mangosteen, rambutan, and durian), and ornamental flowering plants (jepun and cempaka), totaling 1,011 plants. Pre-test and post-test results demonstrated a mean improvement of 35% in participants' comprehension scores, rising from an average of 58 on the pre-test to 78 on the post-test (on a 100-point scale). Furthermore, the program facilitated the establishment of sustainable cultivation practices and contributed to the development of Taman Bumi Banten as a commodity center for upakara materials and an educational and cultural hub for the Hindu community in Karangasem. These findings demonstrate that assistance-based cultivation of upakara plants is effective in promoting sustainable economic education grounded in cultural and environmental values.