Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

PENGORGANISASIAN SISWA DALAM MENGAWAL KEBIJAKAN PENDIDIKAN: SEBUAH REFLEKSI DARI SERIKAT PELAJAR JONGGOL Wahyudin, Yogi Maulana; M. Kamim, Anggalih Bayu
Jurnal Penelitian Kebijakan Pendidikan Vol 17 No 1 (2024)
Publisher : Pusat Standar dan Kebijakan Pendidikan, BSKAP, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpkp.v17i1.840

Abstract

Tulisan ini berupaya menggali pendidikan publik dan pengorganisasian siswa untuk terlibat dalam pengawalan kebijakan oleh salah satu serikat pelajar di provinsi Jawa Barat. Pengkajian atas pengorganisasian siswa menjadi penting untuk menunjukkan bahwa siswa sebagai subjek pendidikan pada dasarnya dapat terlibat dalam pengawalan kebijakan pendidikan yang terkait dengan kegiatan belajar dan mengajar. Hal tersebut membongkar sudut pandang yang melihat siswa semata-mata sebagai objek kebijakan pendidikan yang harus mengikuti kemauan otoritas sekolah.  Penelitian secara partisipatif ini dilakukan untuk melihat siswa yang mampu membangun konsensus tanpa harus dibayangi oleh generasi yang lebih tua dan justru generasi di atasnya ikut belajar bersama dalam Serikat Pelajar Jonggol. Metode Participatory Action Research sengaja dipilih untuk memperlihatkan keterlibatan siswa dalam proses pembentukan pengetahuan yang digali dalam penelitian ini. Temuan penelitian ini mengungkapkan bahwa hegemoni pendidikan yang melihat siswa semata-mata sebagai objek kebijakan pendidikan menghalangi kemunginan munculnya partisipasi siswa dalam pengawalan kebijakan pendidikan yang melekat dengan siswa. Stagnansi ini berhasil diterabas oleh Serikat Pelajar Jonggol dengan membangun konsensus baru melalui pengorganisasian siswa dan secara reflektif memaknai kembali kebijakan melalui pendidikan publik.
PENGORGANISASIAN SISWA DALAM MENGAWAL KEBIJAKAN PENDIDIKAN: SEBUAH REFLEKSI DARI SERIKAT PELAJAR JONGGOL Wahyudin, Yogi Maulana; M. Kamim, Anggalih Bayu
Jurnal Penelitian Kebijakan Pendidikan Vol 17 No 1 (2024)
Publisher : Pusat Standar dan Kebijakan Pendidikan, BSKAP, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpkp.v17i1.840

Abstract

Tulisan ini berupaya menggali pendidikan publik dan pengorganisasian siswa untuk terlibat dalam pengawalan kebijakan oleh salah satu serikat pelajar di provinsi Jawa Barat. Pengkajian atas pengorganisasian siswa menjadi penting untuk menunjukkan bahwa siswa sebagai subjek pendidikan pada dasarnya dapat terlibat dalam pengawalan kebijakan pendidikan yang terkait dengan kegiatan belajar dan mengajar. Hal tersebut membongkar sudut pandang yang melihat siswa semata-mata sebagai objek kebijakan pendidikan yang harus mengikuti kemauan otoritas sekolah.  Penelitian secara partisipatif ini dilakukan untuk melihat siswa yang mampu membangun konsensus tanpa harus dibayangi oleh generasi yang lebih tua dan justru generasi di atasnya ikut belajar bersama dalam Serikat Pelajar Jonggol. Metode Participatory Action Research sengaja dipilih untuk memperlihatkan keterlibatan siswa dalam proses pembentukan pengetahuan yang digali dalam penelitian ini. Temuan penelitian ini mengungkapkan bahwa hegemoni pendidikan yang melihat siswa semata-mata sebagai objek kebijakan pendidikan menghalangi kemunginan munculnya partisipasi siswa dalam pengawalan kebijakan pendidikan yang melekat dengan siswa. Stagnansi ini berhasil diterabas oleh Serikat Pelajar Jonggol dengan membangun konsensus baru melalui pengorganisasian siswa dan secara reflektif memaknai kembali kebijakan melalui pendidikan publik.
PENGORGANISASIAN SISWA DALAM MENGAWAL KEBIJAKAN PENDIDIKAN: SEBUAH REFLEKSI DARI SERIKAT PELAJAR JONGGOL Wahyudin, Yogi Maulana; M. Kamim, Anggalih Bayu
Jurnal Penelitian Kebijakan Pendidikan Vol 17 No 1 (2024)
Publisher : Pusat Standar dan Kebijakan Pendidikan, BSKAP, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpkp.v17i1.840

Abstract

Tulisan ini berupaya menggali pendidikan publik dan pengorganisasian siswa untuk terlibat dalam pengawalan kebijakan oleh salah satu serikat pelajar di provinsi Jawa Barat. Pengkajian atas pengorganisasian siswa menjadi penting untuk menunjukkan bahwa siswa sebagai subjek pendidikan pada dasarnya dapat terlibat dalam pengawalan kebijakan pendidikan yang terkait dengan kegiatan belajar dan mengajar. Hal tersebut membongkar sudut pandang yang melihat siswa semata-mata sebagai objek kebijakan pendidikan yang harus mengikuti kemauan otoritas sekolah.  Penelitian secara partisipatif ini dilakukan untuk melihat siswa yang mampu membangun konsensus tanpa harus dibayangi oleh generasi yang lebih tua dan justru generasi di atasnya ikut belajar bersama dalam Serikat Pelajar Jonggol. Metode Participatory Action Research sengaja dipilih untuk memperlihatkan keterlibatan siswa dalam proses pembentukan pengetahuan yang digali dalam penelitian ini. Temuan penelitian ini mengungkapkan bahwa hegemoni pendidikan yang melihat siswa semata-mata sebagai objek kebijakan pendidikan menghalangi kemunginan munculnya partisipasi siswa dalam pengawalan kebijakan pendidikan yang melekat dengan siswa. Stagnansi ini berhasil diterabas oleh Serikat Pelajar Jonggol dengan membangun konsensus baru melalui pengorganisasian siswa dan secara reflektif memaknai kembali kebijakan melalui pendidikan publik.
Kekuasaan dalam Relasi Bahasa: Refleksi Pengalaman Penutur Bahasa Isyarat di Yogyakarta Wahyudin, Yogi Maulana
INKLUSI Vol. 7 No. 1 (2020)
Publisher : PLD UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (396.496 KB) | DOI: 10.14421/ijds.070103

Abstract

This study documents and reflects the experience of Sign Language speakers in Yogyakarta. The reflection is then negotiated with the grand narrative of linguistic justice, which has been unwittingly narrated by the domination of knowledge viewed mainly in the perspective of the hearing. This study uses ethnographic methods focusing on a broad process of observation of the subject's experience. The findings of this study are: First, the experience of members of the Deaf community in promoting linguistic justice for Sign Language is a process of cultural relocation and hybridization. The dynamics that occur are related to the acceptance and rejection of Deaf culture in multicultural societies. Secondly, this study found a link between the process of marginalization of the Deaf culture and the intensity of power in inter-language relations. [Penelitian ini mendokumentasikan dan merefleksikan pengalaman penutur Bahasa Isyarat di Yogyakarta. Refleksi itu kemudian dinegosiasikan dengan narasi besar keadilan linguistik yang selama ini tanpa disadari dinarasikan oleh dominasi-pengetahuan yang bias ‘orang dengar’. Penelitian ini menggunakan metode etnografi yang difokuskan pada proses pengamatan yang luas terhadap pengalaman subjek. Temuan penelitian ini adalah: Pertama, pengalaman anggota komunitas Tuli dalam mempromosikan keadilan linguistik bagi Bahasa Isyarat merupakan proses relokasi dan hibridisasi kultural. Dinamika yang terjadi berhubungan dengan penerimaan dan penolakan budaya Tuli dalam masyarakat multikultur. Kedua, penelitian ini menemukan kaitan antara proses marginalisasi budaya-Tuli dengan intensitas kuasa dalam relasi antar bahasa.]