Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Hubungan Kadar Elektrolit Dengan Petanda Jantung Pada Sindrom Koroner Akut Wijayanti, Emelia; Adipireno, Purwanto
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 7 No. 1 (2020): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (322.523 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v7i1.424

Abstract

Pendahuluan: Sindrom koroner akut (SKA) merupakan masalah kardiovaskular utama yang menyebabkan angka perawatan dan kematian yang tinggi. Enzim jantung seperti troponin dan Creatinin Kinase-MB (CKMB) dilepaskan ke peredaran darah dan meningkat pada infark miokard. Elektrolit adalah zat berfungsi untuk menghantarkan listrik. Aktivitas listrik jantung diatur oleh kalsium, kalium dan natrium; kontraksi jantung membutuhkan kalsium, magnesium dan fosfor. Elektrolit berguna sebagai indikator AMI. Penelitian ini bertujuan menganalisis kadar serum elektrolit dengan petanda jantung pada SKA. Metode: Penelitian belah lintang pada 35 pasien SKA pada bulan Desember - Januari 2018. Kadar elektrolit serum diperiksa dengan metode Ion selective electrode (ISE) dan photometric, kadar CKMB diperiksa dengan metode Enzyme-linked immuno assay (ELISA), kadar Troponin I (cTnI) diperiksa dengan metode Enzyme-linked fluorescence assay (ELFA). Uji Korelasi spearman digunakan untuk menganalisis data, signifikan jika p <0.05. Hasil: Terdapat korelasi negatif kuat antara natrium, kalium, clorida, dan magnesium baik dengan CKMB (p 0,000/ 0,000/ 0,001/ 0,014 dan r= -0,631/ -0,634/ -0,557/ -0,412) maupun cTnI (p 0,000/ 0,000/ 0,001/ 0,000 dan r= -0,746/ -0,574/ -0,545/ -0,564). Tidak terdapat korelasi antara kalsium baik dengan CKMB (p= 0,475 dan r= -0,125) maupun cTnI (p= 0,086 dan r= -0,294). Simpulan: Terdapat hubungan negatif antara natrium, kalium, clorida, dan magnesium dengan petanda jantung, tidak terdapat hubungan antara kalsium dengan petanda jantung pada SKA. Temuan ini menunjukkan bahwa rendahnya kadar serum elektrolit pada SKA dapat berarti adanya area infark yang lebih luas. Hasil penelitian ini perlu divalidasi dalam penelitian berskala besar dengan metodologi yang lebih baik dan diharapkan dapat menjadi dasar penelitian lebih lanjut. Kata Kunci: SKA, Elektrolit, CKMB, cTnI Introduction: Acute coronary syndrome (ACS) is a major cardiovascular problem that causes significant morbidity and mortality burden. Cardiac enzymes, such as troponin and Creatinin Kinase-MB (CKMB), are released into the bloodstream and increase in acute myocardial infarction (AMI). Electrolytes involving calcium, potassium and sodium regulate heart electrical activity, while calcium, magnesium and phosphorus regulate its contraction. Electrolytes serve as AMI indicators. This study aims to analyze serum electrolyte levels with cardiovascular markers in ACS. Methods: a coss sectional study of 35 ACS patients was conducted from December to January 2018. Serum electrolyte levels were examined by the Ion selective electrode (ISE) and photometric method, CKMB levels were examined by the enzyme-linked immuno assay (ELISA), Troponin I (cTnI) were examined by the Enzyme-linked fluorescence assay (ELFA) method. Spearman test was perfomed for analyzing data with significant level of <0.05. Results: a strong negative correlation was found between sodium, potassium, chloride, and magnesium and both CKMB (p 0,000 / 0,000 / 0,001 / 0,014 and r = -0,631 / -0,634 / -0,557 / -0,412) and cTnI (p 0,000 / 0,000 / 0.001 / 0,000 and r = -0,746 / -0,574 / -0,545 / -0,564). No correlation was found between calcium and both CKMB (p = 0.475 and r = -0.125) and cTnI (p = 0.086 and r = -0.294). Conclusion: There is significant negative correlation between sodium, potassium, chloride, and magnesium and cardiac markers, there is no correlation between calcium and cardiac markers in ACS. These findings indicate low serum electrolytes values in ACS may have higher area of infarction. These finding need to be validated in large-scale studies with better methodologies and are expected to be the basis for further research. Keywords: ACS, Electrolytes, CKMB, cTnI.
Pelaksanaan Progam Pengendalian Resistensi Antimikroba (PPRA) dalam Upaya Meningkatkan Pengelolaan Rumah Sakit Yang Baik Menurut Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 Wijayanti, Emelia; Hayati, Resti Nur; Ta’adi, Ta’adi
Soepra Jurnal Hukum Kesehatan Vol 11, No 1: Juni 2025
Publisher : Universitas Katolik Soegijapranata Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24167/sjhk.v11i1.12757

Abstract

Abstrak: Rumah sakit memiliki kewajiban untuk menyelenggarakan kegiatan PPRA sesuai dengan perintah Pasal 141 ayat (1) Undang-Undang Kesehatan, Pasal 885 ayat (4) PP Nomor 28 Tahun 2024, dan Pasal 6 ayat (1) Permenkes No. 8 Tahun 2015. Tata laksana kegiatan PPRA diatur pada Pasal 9 Permenkes No. 8 Tahun 2015 dan PKPO 8 STARKES 2023. Fakta yang terjadi di RS X adalah tim PPRA sudah dibentuk namun tugas pokok dan fungsinya tidak dilaksanakan, sehingga risiko antimicrobial resistance masih sangat tinggi. Hal tersebut menjadi latar belakang bagi peneliti mengkaji tentang: pengaturan PPRA dalam rangka peningkatan pengelolaan rumah sakit yang baik, pelaksanaan PPRA di RS X dan faktor yang menjadi kendala pelaksanaannya. Penelitian menggunakan pendekatan yuridis sosiologis dan spesifikasi penelitian deskriptif analitis.  Data primer dan sekunder diperoleh dari studi lapangan dan kepustakaan. Analisis data menggunakan metode analisis kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaturan PPRA di RS X hanya memiliki SK pembentukan tim PPRA sedangkan hospital bylaws tersedia namun tidak mengatur tentang kegiatan PPRA dan standar prosedur pelaksanaannya belum ada. Pelaksanaan PPRA di lingkungan rumah sakit hanya sebatas pembentukan tim saja sedangkan tugas-tugas pokok seperti surveilans, FORKKIT belum dilaksanakan sehingga tata kelola rumah sakit dan tata kelola klinis yang baik belum tercapai. Faktor yang menjadi kendala adalah faktor yuridis yaitu kebijakan internal rumah sakit (hospital by laws) belum mengatur mengenai PPRA, faktor teknis yaitu tidak memadahinya sarana dan prasarana kegiatan PPRA dan faktor sosial berupa kebiasaan pasien tidak menghabiskan antibiotik.Abstract: Hospitals as providers of health services must comply with the provisions of Article 141 paragraph (1) of the Health Law, namely that they must carry out rational use of medicines (including the use of antibiotics). The impact of antibiotic resistance is reduced effectiveness of therapy, increased morbidity and mortality and increased health costs. Hospitals must implement good hospital governance and good clinical governance in accordance with the orders of the Health Law, including in carrying out PPRA activities.  This research uses a sociological juridical approach with analytical descriptive research specifications.  This research uses primary and secondary data with data collection methods in the form of field studies and literature studies to obtain the necessary data. The data analysis method uses qualitative analysis methods. The research results show that there are a number of regulations that regulate PPRA as part of hospital governance, contained in Article 885 paragraph (4) PP No. 28 of 2024, the technical implementation is regulated in PKPO 8 STARKES 2023 and Minister of Health Regulation no. 8 of 2015. The implementation of PPRA at RS X has not fulfilled the principles of good hospital governance and good clinical management, because most of the main tasks of the PPRA team have not been implemented. Obstacles to the implementation of PPRA consist of the juridical factor that hospitals do not have internal policies that regulate the implementation of PPRA, technical factors in the form of inadequate facilities and infrastructure for PPRA activities and social factors in the form of patients' habit of not finishing antibiotics.