Kriswanto, Agus
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Menolak penyeragaman: Tafsir kisah Nabot (1Raj. 21) dalam konteks kemajemukan Kriswanto, Agus
KURIOS Vol. 11 No. 2: Agustus 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i2.1471

Abstract

This article interprets the story of Naboth in 1 Kings 21 through the perspective of redaction history within the socio-historical context of Hellenism. Naboth’s refusal to surrender his ancestral land is understood not merely as an agrarian issue but as a symbol of resistance against the Hellenization program that sought to homogenize the cultural and religious identity of the Jewish people at that time. Thus, the text functions as a discourse of resistance against uniformity that sacrifices plurality. Its relevance to the Indonesian context is highly significant, as the nation continues to face challenges of religious intolerance, cultural homogenization, and identity politics that undermine the principle of Bhinneka Tunggal Ika (Unity in Diversity). Through the story of Naboth, this article emphasizes the importance of preserving plurality as a national strength, rejecting all forms of enforced uniformity, and highlighting the prophetic role of faith communities in nurturing diversity.   Abstrak Artikel ini menafsirkan kisah Nabot dalam 1 Raja-raja 21 melalui perspektif sejarah peredaksian dengan latar sosio-historis zaman Helenisme. Narasi tentang penolakan Nabot untuk menyerahkan tanah warisan leluhurnya dipahami bukan sekadar sebagai isu agraria, melainkan sebagai simbol perlawanan terhadap program Helenisasi yang berupaya menyeragamkan identitas budaya dan agama masyarakat Yahudi pada masa itu. Dengan demikian, teks ini berfungsi sebagai wacana resistensi terhadap uniformitas yang mengorbankan pluralitas. Relevansinya bagi konteks Indonesia sangat signifikan, mengingat bangsa ini terus menghadapi tantangan intoleransi agama, penyeragaman budaya, dan politik identitas yang melemahkan prinsip Bhinneka Tunggal Ika. Melalui kisah Nabot, artikel ini menekankan pentingnya mempertahankan pluralitas sebagai kekuatan bangsa, menolak segala bentuk pemaksaan keseragaman, serta mengangkat peran profetis komunitas iman untuk merawat kemajemukan.
Pujian yang Membebaskan atau Membelenggu?: Hermeneutik Feminis terhadap Amsal 31:10-31 Kriswanto, Agus; Sianturi, Juliana
Immanuel: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 4, No 1 (2023): APRIL 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46305/im.v4i1.176

Abstract

The appreciation to “a virtuous woman” in Proverb 31:10-31 tend to be interpreted by patriarchal perspectives. Such interpretations view a virtuous woman as someone who should benefit man. This article intends to seek a fresh reading of Proverbs 31:10-31 by a feminist perspective. The method used to produce this reading is a feminist hermeneutics approach, which applies three steps of analysis: hermeneutics of suspicion, hermeneutics of remembrance, and hermeneutics of liberation. The result of this research is that the appreciation to women in Proverbs 31:10-31 should not be used as a means to legitimize male domination by shackling women in an ideal image that only benefits men, but rather as a means of remembering the women’s suffering and fighting power, as well as triggering creative efforts for women's liberation so that they can actualize their own potential. AbstrakPujian terhadap “istri yang cakap” di dalam Amsal 31:10-31 cenderung ditafsirkan dari sudut pandang patriakal. Tafsir yang demikian memandang istri yang cakap sebagai perempuan yang seharusnya menguntungkan laki-laki. Tulisan ini bermaksud memberikan pembacaan terhadap Amsal 31:10-31 dari sudut pandang feminis. Metode yang digunakan untuk menghasilkan pembacaan tersebut adalah dengan pendekatan hermeneutik Feminis, yang menerapkan tiga langkah analisis: hermeneutik kecurigaan, hermeneutik ingatan, dan hermeneutik pembebasan. Hasil penelitian ini adalah bahwa pujian terhadap perempuan dalam Amsal 31:10-31 semestinya tidak dijadikan sebagai sarana untuk melegitimasi dominasi laki-laki dengan membelenggu perempuan pada gambaran ideal yang hanya menguntungkan laki-laki, melainkan untuk dijadikan sebagai sarana mengingat derita dan daya juang perempuan serta memicu upaya kreatif untuk pembebasan perempuan agar dapat mengaktualisasikan potensi dirinya sendiri.