Murda, Muhammad Ilham Mustain
Unknown Affiliation

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Arsip Visual Partisipatif sebagai Praktik Pengarsipan Kota: Studi Kasus Program Tasimpan di Taman Imbi Jayapura: Arsip Visual Partisipatif sebagai Praktik Pengarsipan Kota: Studi Kasus Program Tasimpan di Taman Imbi Jayapura Murda, Muhammad Ilham Mustain
IMAJI Vol. 16 No. 3 (2025): Imaji Visual dalam Ruang, Waktu, dan Memori
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52290/i.v16i3.366

Abstract

Artikel ini mengkaji praktik arsip visual partisipatif melalui program Tasimpan yang digagas oleh Indonesia Art Movement di Jayapura. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif berbasis observasi partisipatif, penelitian ini berupaya memahami keterlibatan komunitas lokal dalam proses pembangunan arsip kolektif. Selain itu, pendekatan ini menghadirkan metode pengarsipan alternatif yang lebih inklusif, dialogis, dan berakar pada konteks perkotaan lokal. Tujuan penelitian adalah mendokumentasikan dinamika ruang publik, memori kolektif, dan interaksi masyarakat melalui kegiatan hunting foto dan workshop sketsa. Penelitian ini menyoroti bagaimana komunitas lokal, seniman, dan pelajar berpartisipasi dalam merekam keberadaan monumen sejarah sekaligus praktik kehidupan sehari-hari di Taman Imbi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa arsip visual partisipatif tidak hanya berfungsi sebagai pelestari memori kota, tetapi juga memperkuat identitas budaya serta kesadaran kritis peserta.  
WISISI: TRANSFORMASI TARI-MUSIK PAPUA DARI RITUAL ADAT KE HIBURAN GLOBAL DIGITAL Murda, Muhammad Ilham Mustain
Greget: Jurnal Kreativitas dan Studi Tari Vol. 24 No. 2 (2025): KEBERAGAMAN KARYA TARI SEBAGAI EKSPRESI SIMBOLIK
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/grt.v24i2.7681

Abstract

Wisisi, a dance-music form originating from the Dani community in the Papuan Highlands, was traditionally embedded in ritual practices as a medium of social cohesion, entertainment, and collective healing. Over the last decade, Wisisi has undergone a profound shift from ritual performance into popular entertainment, later evolving into digital music production performed on national and international stages. This article aims to examine the transformation of Wisisi from its ritual roots to its position as a global cultural expression. The study applies a qualitative approach, combining literature review, audiovisual documentation, and mini-ethnographic analysis of sources such as traditional performance archives, contemporary recordings, and the documentary Wisisi Nit Meke that won recognition at the Indonesian Film Festival in 2023. The findings reveal three major aspects of transformation: first, the transition of function from ritual practice to public celebration; second, the adaptation of Wisisi into electronic forms by younger musicians using digital production tools; and third, the dissemination of Wisisi across online platforms and international festivals. These changes demonstrate how Wisisi negotiates cultural identity in the digital era while raising concerns regarding commodification and the sustainability of indigenous values.
PEMANFAATAN TRADISI LISAN BEDANDENG SUKU KUTAI SEBAGAI SUMBER PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA BERBASIS KEARIFAN LOKAL Setyawati, Meita; Indrahastuti, Tri; Arifin, Syaiful; Murda, Muhammad Ilham Mustain; Rea , Albertus Magnus
Jurnal Santiaji Pendidikan (JSP) Vol. 16 No. 1 (2026): Jurnal Santiaji Pendidikan (JSP)
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Mahasaraswati Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36733/jsp.v16i1.13417

Abstract

Tradisi lisan Bedandeng merupakan salah satu warisan budaya masyarakat Suku Kutai di Kalimantan Timur yang memiliki potensi besar sebagai sumber pembelajaran Bahasa Indonesia berbasis kearifan lokal. Namun, dalam praktik pembelajaran, sastra lisan lokal masih jarang dimanfaatkan secara optimal sebagai materi ajar. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pemanfaatan tradisi lisan Bedandeng sebagai sumber pembelajaran Bahasa Indonesia dengan menelaah bentuk puisi lama dan nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis. Data penelitian diperoleh melalui wawancara dengan penutur Bedandeng serta dokumentasi tuturan tradisi lisan yang masih berkembang di masyarakat Suku Kutai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bedandeng memiliki karakteristik struktural yang sesuai dengan bentuk puisi lama, khususnya syair, yang ditandai oleh keteraturan bait, larik, dan rima. Selain itu, tuturan Bedandeng mengandung nilai-nilai budaya yang mencerminkan hubungan manusia dengan Tuhan, diri sendiri, sesama, dan lingkungan. Temuan ini menunjukkan bahwa tradisi lisan Bedandeng dapat dimanfaatkan sebagai sumber pembelajaran Bahasa Indonesia yang kontekstual dan bermakna, serta berkontribusi dalam penguatan literasi budaya dan pendidikan karakter peserta didik. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi rujukan dalam pengembangan pembelajaran Bahasa Indonesia berbasis kearifan lokal.
The Decolonizing the Papuan Body: Hybridity and Identity Politics in Jecko Siompo’s Animal Pop Choreographic Practice: Dekolonisasi Tubuh Papua: Hibriditas dan Politik Identitas dalam Praktik Koreografi Pop Hewan Jecko Siompo Jugganza, Frans Junias; Murda, Muhammad Ilham Mustain; Farid, Hilmar; Yulfianti, Yola
GETER : Jurnal Seni Drama, Tari dan Musik Vol 9 No 1 (2026): April 2026
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

In Indonesia's contemporary dance landscape, the Papuan body is often caught in the tug-of-war between the legacy of colonial representation and the dynamics of urban modernity. This article aims to analyze how  Jecko Siompo's Animal Pop rearticulates Papuan identity through choreographic practices in Jakarta. The research uses a qualitative approach with a case study design, through visual observation of the work, archival review, and continuous engagement with the choreographer's artistic environment. The findings show that Animal Pop does not simply combine Papuan movements and global hip-hop, but rather presents a body practice that simultaneously negotiates ecological memory, references to fauna movements, and urban rhythms. The dancer's body serves as a living archive that maintains the tendency of environment-based movement while responding to the demands of metropolitan life. Movement patterns such as grounded postures, asymmetrical articulation, and rhythmic transitions indicate the existence of  repeated embodied negotiation processes  . This article concludes that Jakarta is not only a production space, but also an important site in the transmission and reformulation of Papuan identity, especially through Jecko Siompo's artistic and pedagogical practice. Through the perspective of decolonial aesthetics, Animal Pop shows that decolonization does not take place as an abstract discourse, but as a living, situational, and continuously negotiated practice of movement. These findings contribute to the development of the study of contemporary dance, particularly in understanding the body as a medium of articulation of cultural identity and memory in urban spaces.