Meilina Wardhani
Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Palembang/RSUD Palembang BARI

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Hubungan Antara Jenis Kelamin dan Riwayat Asma dengan Rinitis Alergi pada Pelajar SMP Muhammadiyah 3 Palembang Meilina Wardhani; Ressy Irma Juwita; Mitayani Purwoko
Medica Arteriana (Med-Art) Vol 2, No 1 (2020): Juni 2020
Publisher : University of Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/medart.2.1.2020.17-20

Abstract

Latar Belakang: Rinitis alergi adalah suatu penyakit pada hidung yang ditimbulkan oleh reaksi inflamasi mpada mukosa hidung dengan perantara immunoglobulin E. Prevalensi rinitis alergi di dunia telah meningkat termasuk di Indonesia yang kini telah mencapai 1,5-12.4% dan cenderung mengalami peningkatan setiap tahunnya. Penelitian ini bertujuan untuk mencari prevalensi rinitis alergi dan hubungan antara jenis kelamin dan riwayat asma dengan kejadian rinitis alergi pada siswa sekolah di Palembang. Metode: Penelitian ini adalah penelitian analitik observasional dengan desain cross sectional. Penelitian dilakukan di SMP Muhammadiyah 3 Palembang pada tahun 2018. Data primer diperoleh dengan cara meminta subjek penelitian untuk mengisi kuesioner ISAAC. Kriteria inklusi penelitian ini adalah siswa-siswi berusia 13-14 tahun. Besar sampel yang digunakan sebanyak 80 responden, diambil teknik total sampling.Hasil: Pada penelitian ini didapatkan prevalensi rinitis alergi sebesar 51,2% dan jenis kelamin (p=0,014) dan riwayat asma (p=0,019) sebagai faktor risiko terjadinya rinitis alergi.  Perempuan lebih banyak menderita rinitis alergi dibanding laki-laki kemungkinan disebabkan perempuan lebih sering terpapar allergen berupa debu akibat sering melakukan pekerjaan rumah tangga seperti menyapu. Adanya paparan alergen terhadap mukosa hidung akan meningkatkan konsentrasi berbagai faktor yang terkait asma seperti eosinophil, interleukin-5 dan sel CD34 di darah perifer. Kesimpulan: Jenis kelamin dan riwayat asma merupakan faktor risiko terjadinya rinitis alergi pada anak.
MULTIPLE DEEP NECK SPACE ABSCESSES OF ODONTOGENIC ORIGIN IN AN ELDERLY PATIENT: A CASE REPORT Muhammad Destrian Cossandra; Wifaqi Oktaria; Meilina Wardhani; Taufik Hidayat; Melani Jalali; Lilis Khairani; Ahmad Ghiffari; Liza Chairani
Cendekia Medika: Jurnal Stikes Al-Ma`arif Baturaja Vol. 11 No. 2 (2026): April - June
Publisher : LPPM STIKES Al-Ma'arif Baturaja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52235/cendekiamedika.v11i2.791

Abstract

Deep neck space abscess are serious bacterial infections involving cervical fascial spaces and may lead to life-threatening complications. Recent evidence suggests that, despite antibiotic availability, the incidence of these infections remains significant and may be increasing, particularly due to odontogenic sources. We report a case of a 65-year-old male presenting with progressive neck swelling originating from untreated dental infection. Clinical examination and contrast-enhanced CT scan revealed multiple deep neck space infections involving bilateral submandibular, submental, left parapharyngeal, and supraclavicular spaces. Laboratory findings showed leukocytosis and hypoalbuminemia. The patient was managed with broad-spectrum intravenous antibiotics and surgical drainage. Odontogenic infection remains the leading cause of deep neck space abscess in adults. Multispace involvement is associated with higher risk of complications, including airway obstruction, sepsis, and mediastinitis. Notably, elderly patients may present with minimal systemic symptoms despite extensive infection, highlighting the importance of imaging. Epidemiological data from global and Indonesian studies indicate that deep neck space abscess continue to occur frequently, with odontogenic infections as the primary source. Multiple deep neck space abscess can present insidiously in elderly patients. Early diagnosis using CT imaging and prompt management with antibiotics and surgical drainage are essential. Prevention should focus on improving oral hygiene and controlling underlying comorbidities.