Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

EKSPRESI DALAM SENI DEKLAMASI DAN MUSIKALISASI PUISI PUTERA SEMADI, ANAK AGUNG GDE
Widya Accarya Vol 6 No 2 (2016): Widya Accarya
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Dwijendra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (219.593 KB) | DOI: 10.46650/wa.6.2.305.%p

Abstract

Puisi  merupakan satu bentuk ragam sastra imajinatif yang perlu dihargai sama tinggi dengan ilmu pengetahuan.  Membaca puisi merupakan sebuah kenikmatan yang khusus,  bahkan sebagai puncak  dari kenikmatan seni sastra itu sendiri.  Puisi yang dideklkamasikan serta dimusikalisasikan dengan  baik dan penuh  khidmat  akan dapat diresapi  sentuhan  nilai estetikanya yang tinggi. Akan tetapi, apabila terjadi  bentuk  ekspresi /apresiasi yang berlebihan bahkan berlawanan dengan hakikatnya tentu kesejatian makna yang terlukis dalam puisi itu tidak akan maksimal diresapi penonton.          Setiap akhir penampilan deklamasi dan musikalisasi puisi hendaknya dapat meninggalkan kesan  yang indah dan menyenangkan hati setiap pemirsanya. Di sinilah letak sebuah kenikmatan dan kepuasan yang terindah itu.  Dengan demikian, untuk dapat sampai pada kategori tersebut maka seorang  deklamator dituntut mampu memahami, menghayati, dan  mengaktualisasi  secara mendalam  unsur-unsur dasar sastra seperti pemahaman, peresapan, ekspresi, irama, rima, dan metrumnya. Kata  kunci :  Ekspresi, Deklamasi, Musikalisasi puisi.
PENDIDIKAN KRITIS BERDIMENSI IDEOLOGIS KULTURAL PUTERA SEMADI, ANAK AGUNG GDE
Widya Accarya Vol 9 No 1 (2018): Widya Accarya
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Dwijendra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (63.479 KB) | DOI: 10.46650/wa.9.1.604.%p

Abstract

ABSTRACT            In an effort to develop a critical education, the concept of education needs to be formulated as a process of cultural dimension / humanization process. The process of education can not be separated from human life in order to create cultural and cultural heritage (cultural creation and cultural transmission) to the young generation. Through the process of critical education, human beings are able to develop various potentials or creativity, taste, intention, and work that become the core of cultural process, because culture in the essential concept of education can be formulated as "The shared product of human learning". The main functions and targets of the paradigm to develop critical education are self-awareness, also known as critical awareness, and develop the main method of learning by emphasizing the principle of critical dialogical domination. Thus, the core process of critical education is not just the transfer of science / information, but is a psychological process or cultural practice towards awareness / self-liberation of learners. Keywords: Critical education, critical awareness, Dialogical-critical.  Abstrak  Dalam upaya mengembangkan pendidikan kritis, maka konsep pendidikan perlu dirumuskan sebagai proses berdimensi kultural/proses humanisasi. Proses pendidikan tidak bisa dipisahkan dengan kehidupan manusia dalam rangka penciptaan budaya sekaligus pewarisannya (cultural creation and cultural transmission) kepada generasi muda. Melalui proses pendidikan kritis manusia mampu mengembangkan berbagai potensi atau daya cipta, rasa, karsa, dan karya yang menjadi inti proses budaya, karena budaya dalam konsep esensial pendidikan dapat  dirumuskan sebagai â??The shared product of human learningâ?.  Fungsi serta sasaran utama paradigma mengembangkan pendidikan kritis adalah upaya penyadaran diri, atau disebut pula dengan istilah kesadaran kritis, serta mengembangkan metode utama pembelajarannya dengan menekankan prinsip dominasi dialogis kritis. Jadi, inti proses pendidikan kritis bukanlah sekadar transfer ilmu/informasi, melainkan merupakan proses kejiwaan atau praktik kebudayaan menuju penyadaran/pembebasan diri peserta didik.       Kata kunci:  Pendidikan kritis, Kesadaran kritis, Dialogis-kritis.
SIKAP SATYA DAN BAKTI DALAM GEGURITAN PANCA DATU (WIT WASTAN JAGAT BALI) Putera Semadi, Anak Agung Gde
Widya Accarya Vol 9 No 2 (2018): Widya Accarya
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Dwijendra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (269.223 KB) | DOI: 10.46650/wa.9.2.673.%p

Abstract

     Abstract          Geguritan Panca Datu (Wit Wastan Jagat Bali) is a traditional Balinese literature work which uses macepat song as it literary media. Bali is historical values and satya bakti philosophy which are developed as the main theme in this work can be utilized to guide polite character for each generation. This problem is very interesting to be studied from the paradigm of literature psychology theory. This study is a type of qualitative research. The data were collected by using library study method and assisted with in-depth interview techniques, participatory observation, note, and recording. All data were reviewed by both analysis descriptive method and text content analysis. The presentation of that data analysis result is delivered verbally, sharply, and systematically. Satya and bakti are two powerful mental attitudes which can be applied in reaching the success of life goals and this life which are based on dharma. In Geguritan Panca Datu (Wit Wastan Jagat Bali) these two forms of attitude are purely highlighted as the embodiment of truly value-field work of art.                                                                                       Key words :  Geguritan, Satya, and Bakti. AbstrakGeguritan Panca Datu (Wit Wastan Jagat Bali) adalah karya sastra Bali tradisional yang menggunakan tembang macepat sebagai medium sastranya. Nilai-nilai historis Bali dan filosopis satya bakti yang dikembangkan sebagai tema utama dalam karya ini dapat dimanfaatkan untuk menuntun karakter yang santun bagi setiap generasi. Permasalahan ini sangat menarik dikaji dari paradigma teori psikologi sastra.Penelitian ini termasuk jenis penelitian kualitatif. Data yang dikumpulkan menggunakan metode studi pustaka dan dibantu dengan teknik wawancara mendalam, observasi partisipasi, pencatatan, dan rekaman. Seluruh data dikaji dengan metode deskriptif analisis serta analisis isi teks. Penyajian hasil analisis data itu dilakukan secara verbal, tajam, dan sistematis.Satya dan bakti adalah dua sikap batin yang sangat kuat dapat diaplikasikan dalam mencapai kesuksesan tujuan hidup dan kehidupan ini berdasarkan atas dharma. Dalam Geguritan Panca Datu (Wit Wastan Jagat Bali) kedua bentuk sikap tersebut murni ditonjolkan sebagai  perwujudan karya seni yang benar-benar sarat nilai. Kata kunci : Geguritan, Satya, dan Bakti.
BENTUK DAN MAMFAAT NILAI PENDIDIKAN FOKLOR BALI Putera Semadi, Anak Agung Gde
Widya Accarya Vol 10 No 1 (2019): Widya Accarya
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Dwijendra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (485.343 KB) | DOI: 10.46650/wa.10.1.682.%p

Abstract

   AbstractGenerally folklore could be described as myths, legends, music, oral history, proved, jokes, superstitions, fables, and power which include traditions in a subcultural culture, or a group of fochlores are a set of practices which become means of spreading various cultural traditions. Bali fochlor as a variety of forms which relatively have same characteristic. There are oral, partialy oral, and not oral folklores. The socio-cultural values in folklore which full of purpose of life are having enormous benefits as good character guides for every child of our nation. Therefore, this research was completed on time.This research was designed as a part of the phenomenologycal approach. The object of the study was on a text and its context in a community, and this research did not use the hypothesis. Analysis descriptive method and analysis content which were strengthened by the paradigm of literary sociology as its theoretical study were the method used in describing the result of its data processed.From a more comprehensive poin of view, this research is not only useful for improving the means of language, literature, and Balinese script learning, but more important than that is as a means of social controler in order to create a harmonious and peaceful atmosphere. Key words:  Forms, Educational values, and Fochlor benefits.   Abstrak            Secara umum foklor meliputi mite, legenda, musik, sejarah lisan, pepatah, lelucon, takhyul, fabel, dan kekuasaan yang meliputi tradisi dalam suatu budaya subkultur, atau kelompok foklor merupakan serangkaian praktik yang menjadi sarana penyebaran berbagai tradisi budaya. Foklor Bali memiliki bentuk beragam dengan sifat atau ciri-ciri yang relatif sama. Ada foklor lisan, sebagian lisan, dan bukan lisan. Nilai-nilai sosial budaya dalam foklor yang sarat dengan tujuan hidup dan kehidupan memiliki mamfaat yang sangat besar sebagai penuntun karakter yang baik bagi setiap anak bangsa. Oleh karena itu, maka penelitian ini diselesaikan tepat pada waktunya.            Penelitian ini dirancang sebagai bagian dari pendekatan penomenologis. Objek kajiannya pada teks serta konteksnya yang ada di masyarakat, dan tidak menggunakan hipotesis. Dalam menguraikan hasil pengolahan data digunakan metode deskritif analisis dan konten analisis serta diperkuat dengan paradigma sosiologi sastra sebagai kajian teoritisnya.            Dari sudut pandang yang lebih komprehensif penelitian ini tidak sekadar bermamfaat bagi peningkatan media pembelajaran bahasa, sastra, dan aksara Bali, tetapi lebih penting dari itu adalah sebagai sarana pengendali sosial dalam rangka menciptakan suasana rukun, tenteram, dan damai. Kata kunci:  Bentuk, Nilai pendidikan, dan Manfaat foklor. 
DRAMA GONG DALAM PANGGUNG PERTUNJUKAN KESENIAN BALI DI ERA GLOBAL Putera Semadi, Anak Agung Gde
Widya Accarya Vol 10 No 2 (2019): Widya Accarya
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Dwijendra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (274.569 KB) | DOI: 10.46650/wa.10.2.768.%p

Abstract

Abstract Penelitian ini mengangkat topik ?Drama gong dalam panggung pertunjukan kesenian Bali di era global?. Keterpinggiran yang sedang dialami drama gong dewasa ini dikaji secara mendalam dengan teori-teori budaya kritis seperti: teori hegemoni, dekonstruksi, dan semiotika. Bentuk penelitian kajian budaya (culture studies) ini dirancang sebagai penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa drama gong di era global memang benar masih terpinggirkan dari panggung pertuntukan kesenian Bali. Faktor internal dan eksternal yang menyebabkan keterpinggiran itu antara lain; sekaa drama gong tersebut tidak dikelola dengan manajemen seni profesional, menjamurnya genre budaya populer yang lebih menarik bahkan mudah diperoleh masyarakat secara langsung melalui media masa elektronik. Kondisi drama gong di Bali benar-benar sangat memprihatinkan. Minat masyarakat untuk menonton pertunjukannya relatif sangat kecil. Oleh karena itu, maka pementasannya di panggung pertunjukan kesenian Bali menjadi sangat jarang, apalagi grup-grup terpopuler teater ini sudah membubabarkan diri. Efek dari keterpinggiran drama gong selama ini adalah memudarnya gairah beraktivitas dan kreativitas berkesenian masyarakat di bidang drama gong. Perolehan finansial bagi para pelaku bahkan pionir drama gong di Bali menjadi menipis, serta redupnya salah satu media pendidikan nonformal yang sarat budi pekerti sebagai penerus nilai-nilai luhur budaya Bali. Kata Kunci: Keterpinggiran, Drama gong, Panggung Pertunjukan Kesenian Bali   Abstract This research raised the topic ?Drama gong on the stage of Balinese art performances in the global era?. The marginalization which is currently being experienced by drama gong is the deeply studied by critical cultural theories such as: the theory of hegemony, deconstruction, and semiotics. This form of cultural studies is designed as a qualitative research with a phenomenological approach. The result of this research showed that drama gong has truly been being marginalized from the stage of Balinese art performances. The internal and external factor which result in that marginalization are including; Sekaa drama gong which is not manage by professional art management, the proliferetion of more interesting popular culture genres which are even easily accessed directly by public through electronic mass media. Drama gong condition in Bali is truly alarming, people?s interest in watching the shows is relatively very small. Therefore, its performances on Balinese art performances stage are very rare, moreover these most popular groups in the theater have already disbanded. The effect of drama gong marginalization during this time is the warning of people?s passion in art creativity and activity in the field of drama gong. The financial gain for the perpetrators and even the drama gong pioneers in Bali is depleting, and the dimming of one of the non-formal education media which is full of characters that become the successor of Balinese culture noble values.   Key words: Marginalized, Drama gong, Bali art performance stage.
CRITICAL EDUCATION WITH CULTURAL IDEOLOGICAL DIMENSIONS Putera Semadi, Anak Agung Gde
Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan Undiksha Vol 9, No 1 (2021): Februari, Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan Undiksha
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpku.v9i1.31439

Abstract

In an effort to develop cultured critical education, the concept of education needs to be formulated as a process of cultural dimension/humanization process. The process of education cannot be separated from human life in the context of cultural creation as well as its inheritance (cultural creation and cultural transmission) to the young generation. Through the process of critical education, humans are able to develop various potentials or creations, tastes, initiatives, and works that are at the core of the cultural process, because culture in the essential concept of education can be formulated as "The shared product of human learning". The main functions and objectives of the paradigm of developing critical education are self-awareness efforts, or also known as critical awareness, as well as developing the main methods of learning by emphasizing the principle of critical dialogic dominance. So, the core of the process of critical education is not just the transfer of knowledge/information, but it is a process of psychiatric or cultural practices towards the awareness/liberation of students. Culture studies research through a phenomenological approach can describe the answer to this problematic sharply, deeply, logically, and systematically.
FUNGSI DAN MAKNA SIMBOL-SIMBOL DALAM PALINGGIH PADMASANA PERSPEKTIF KAJIAN BUDAYA Putera Semadi, Anak Agung Gde
Widya Accarya Vol 12 No 1 (2021): Widya Accarya
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Dwijendra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46650/wa.12.1.1070.108-116

Abstract

Abstract Palinggih Padmasana is a sanctified building to worship Ida Sang Hyang Widhi Wasa/God Almighty in His various manifestations. It does not only has a varying fomrs, but olso defferent designation , function, and meaning of symbols which differ based on its location. Historycally, the existence of this palinggih was only known around 15th century especially during the reigin of Dalem Waturenggong which was indicated by the arrival of a powerful Shiwa priest to Bali named Danghyang Dwijendra with a sacred mission of perfecting the order of Hindu life from Tri Murti to Tri Purusa concept. Each function and symbol in palinggih Padmasana truly reflects the nobility of invaluable meaning, therefore, Padmasana is a symbol of the universe for Hindus. Through the perspective of cultural sytudies which is accompained by the implementation of descriptive analysis method, this research topic was successfully studied critically, logically, and systematically.
Peran Media Sosial Dalam Upaya Penegakan Hukum di Indonesia Putera Semadi, Anak Agung Gde
IJOLARES: Indonesian Journal of Law Research Vol. 2 No. 1 (2024): IJOLARES: Indonesian Journal of Law Research
Publisher : CV Tirta Pustaka Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.60153/ijolares.v2i1.42

Abstract

Berbagai peristiwa hukum yang menarik dan menyedot perhatian masyarakat Indonesia disebabkan karena viral di media sosial. Media sosial dalam perkembangannya telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam upaya negara menegakan hukum di Indonesia. Dapat dikatakan, media sosial memiliki peran yang strategis dalam penegakan hukum di Indonesia. Oleh karena itu, penting rasanya untuk mengetahui lebih dalam lagi bagaimana peran fundamental yang dimainkan media sosial dalam membantu aparat penegak hukum untuk menegakan hukum di Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peran media sosial dalam upaya penegakan hukum di Indonesia. Jenis penelitian yang dipergunakan adalah jenis penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif. Sumber data yang digunakan berasal dari data primer dan sekunder. Teknik pengumpulan data yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan teknik studi dokumen. Penelitian ini menggunakan teknik pengolahan data yang dilakukan dengan cara mensistematika data-data hukum yang ada. Hasil penelitian menunjukkan peran media sosial dalam upaya penegakan hukum di Indonesia, yakni (1) transparasi dan akuntabilitas penegakan hukum. Dalam peranannya yang fundamental, media sosial dapat membantu aparat penegak hukum dalam menegakan hukum untuk mencapai dan meningkatkan transparansi dan juga akuntabiitas. (2) membangun kesadaran penegak hukum. Dengan adanya media sosial ini membantu penegak hukum untuk menumbuhkan kesadaran hukum untuk to complay atau to confirm (3) kontrol sosial. Media sosial kini dapat dikatakan tidak sekedar sebagai alat kontrol sosial, tetapi juga “guardian of justice by netizen” dalam upaya mendukung penegakan hukum dan keadilan.