Aryasuari, I Gusti Ayu Putu Istri
Unknown Affiliation

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

PRONOMINA REFLEKSIF PADA BAHASA JEPANG Aryasuari, I Gusti Ayu Putu Istri
Widya Accarya Vol 10 No 2 (2019): Widya Accarya
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Dwijendra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (280.464 KB) | DOI: 10.46650/wa.10.2.773.%p

Abstract

Abstrak Penelitian ini meneliti pronomina refleksif pada Bahasa Jepang. Kerefkelsifan adalah relasi antara argument dengan argument itu sendiri, yakni argument a berelasi dengan argument a dalam proposisi a R a (Kridalaksana, 1993: 186) dikutip dari artikel I Nyoman Kardana dengan judul ?Tipe Konstruksi Refleksif dalama Bahasa Indonesia dan Struktur Verba Pembangunnya?. Salah satu ahli yaitu, Smith mengatakan bahwa pronomina refleksif (reflexive pronoun) adalah pronomina persona yang mengacu kembali kepada subjek, misalnya yang ditemukan dalam bahasa Inggris adalah myself, himself, ourself dan verba yang digunakan dalam konstruksi refleksif disebut dengan verba refleksif.  Data-data yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dengan metode pustaka dan wawancara.  Dari hasil analisis yang dilakukan bahwa Bahasa Jepang mengenal pronomina refleksif. Reflexive pronoun Bahasa Jepang yang ditemukan yaitu, ?? (jishin) ?diri sendiri?, ?? (Jibun) ?sendiri?, dan ????? (jibun no koto) ?dirinya sendiri?. Kata kunci: pronominal, refleksif, Bahasa Jepang Abstract This research examines reflexive pronoun in Japanese language. Reflexive is a relation between an argument with the argument itself depicted as argument a coreference with argument a with a proportion of a R a (Kridalaksana, 1993: 186) as stated in ?Tipe Konstruksi Refleksif dalama Bahasa Indonesia dan Struktur Verba Pembangunnya? by I Nyoman Kardana. Smith explained that reflexive pronoun is a personal pronoun which refers back to the subject, given examples in English myself, himself, ourselves, and the verb used in the construction is called reflexive verb. Data collection was conducted through literary works and interview. This study shows that Japanese language has property of reflexive pronoun namely , ?? (jishin) ?own-self?, ?? (Jibun) ?-self?, dan ????? (jibun no koto) ?own-self?. Keywords: pronoun, reflexive, Japanese language
SATUAN LINGUAL DAN SISTEM SAPAAN ISTILAH KEKERABATAN BAHASA BALI KASTA KSATRI DI JERO TENGAH KABUPATEN TABANAN Aryasuari, I Gusti Ayu Putu Istri; Aryasuari, I Gusti Ayu Putu Istri
Widya Accarya Vol 11 No 1 (2020): Widya Accarya
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Dwijendra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (701.736 KB) | DOI: 10.46650/wa.11.1.830.34-40

Abstract

Abstrak Penelitian ini meneliti satuan lingual sapaan istilah kekerabatan Bahasa Bali di kalangan kasta ksatria di Jero Tengah Kabupaten Tabanan. Penelitian ini khusus meneliti di satu keluarga besar Jero Tengah yang terletak di Banjar Tegal Baleran Kabupaten Tabanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui satuan lingual sapaan istilah kekerabatan Bahasa Bali kasta ksatria di Jero Tengah. Kasta Ksatria yang diteliti yaitu yang menggunakan nama Gusti. Metode pengumpulan data yang dilakukan dengan metode wawancara dengan narasumber dan dilanjutkan dengan teknik catat. Metode analisis data digunakan dengan metode agih, yaitu metode yang alat penentunya itu justru bagian dari Bahasa yang bersangkutan itu sendiri. Metode penyajian hasil analisis data menggunakan metode informal, yaitu hasil analisis disajikan dengan kata-kata dan kalimat. Satuan-satuan lingual sapaan istilah kekerabatan Bahasa Bali kasta ksatria di Jero Tengah yang ditemukan yaitu, kompyang ?buyut?, ninik, mbah ?nenek?, wayah ?kakek?, ajik ?ayah?, biang ?ibu?, utik ?ibu?, ?ibu?, ji + urutan kelahiran ?paman?, biang + urutan kelahiraan ?bibi?, tik + urutan kelahiran ?bibi?, bu + urutan kelahiran ?bibi?, titu ?bibi?, raka + urutan kelahiran ?kakak laki-laki?, wi gus ?kakak laki-laki?,  mbok gek ?kakak perempuan?, gung + nama, gung + urutan kelahiran / nama saja ?adik laki-laki/perempuan?. Satuan lingual dan sistem sapaan istilah kekerabatan Bahasa Bali yang ditemukan beragam sesuai dengan penggunaannya. Kata kunci: satuan lingual, sapaan istilah kekerabatan, bahasa Bali, kasta ksatria   Abstract This research examined the lingual units of greeting of Balinese kinship terms among ksatria caste in Jero Tengah Tabanan Regency. This study specifically examined a large family of Jero Tengah located in Banjar Tegal Baleran, Tabanan Regency. This study aimed to determine the lingual units of greeting of Balinese kinship terms among ksatria caste in Jero Tengah. The Ksatria caste studied were those whose names were Gusti. The data collection method was carried out by interviewing the interviewees and continued with note taking. The data analysis method used was the distribution method that is the method in which the determinant is precisely the part of the language itself. The method of presenting the results of the data analysis was informal method, in which the results of the analysis were presented by using words and sentences. The lingual units of greeting of Balinese kinship terms among ksatria caste in Jero Tengah found were kompyang 'great-grandfather', ninik, mbah 'grandmother', wayah 'grandfather', ajik 'father', biang 'mother', utik 'mother', ji + birth order 'uncle', biang + birth order 'aunt', tik + birth order 'aunt', bu + birth order 'aunt', titu 'aunt', raka + birth order 'older brother ', wi gus 'older brother', mbok gek 'older sister', gung + name, gung + birth order / name only 'younger brother / sister'. Lingual units and greeting systems of Balinese kinship terms found were various according to their use. Keywords: lingual units, greeting of kinship terms, Balinese, Ksatria caste
SATUAN LINGUAL DAN SISTEM SAPAAN ISTILAH KEKERABATAN BAHASA BALI KASTA KSATRI DI JERO TENGAH KABUPATEN TABANAN Aryasuari, I Gusti Ayu Putu Istri; Aryasuari, I Gusti Ayu Putu Istri
Widya Accarya Vol 11 No 1 (2020): Widya Accarya
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Dwijendra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (701.736 KB) | DOI: 10.46650/wa.11.1.830.34-40

Abstract

Abstrak Penelitian ini meneliti satuan lingual sapaan istilah kekerabatan Bahasa Bali di kalangan kasta ksatria di Jero Tengah Kabupaten Tabanan. Penelitian ini khusus meneliti di satu keluarga besar Jero Tengah yang terletak di Banjar Tegal Baleran Kabupaten Tabanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui satuan lingual sapaan istilah kekerabatan Bahasa Bali kasta ksatria di Jero Tengah. Kasta Ksatria yang diteliti yaitu yang menggunakan nama Gusti. Metode pengumpulan data yang dilakukan dengan metode wawancara dengan narasumber dan dilanjutkan dengan teknik catat. Metode analisis data digunakan dengan metode agih, yaitu metode yang alat penentunya itu justru bagian dari Bahasa yang bersangkutan itu sendiri. Metode penyajian hasil analisis data menggunakan metode informal, yaitu hasil analisis disajikan dengan kata-kata dan kalimat. Satuan-satuan lingual sapaan istilah kekerabatan Bahasa Bali kasta ksatria di Jero Tengah yang ditemukan yaitu, kompyang ?buyut?, ninik, mbah ?nenek?, wayah ?kakek?, ajik ?ayah?, biang ?ibu?, utik ?ibu?, ?ibu?, ji + urutan kelahiran ?paman?, biang + urutan kelahiraan ?bibi?, tik + urutan kelahiran ?bibi?, bu + urutan kelahiran ?bibi?, titu ?bibi?, raka + urutan kelahiran ?kakak laki-laki?, wi gus ?kakak laki-laki?,  mbok gek ?kakak perempuan?, gung + nama, gung + urutan kelahiran / nama saja ?adik laki-laki/perempuan?. Satuan lingual dan sistem sapaan istilah kekerabatan Bahasa Bali yang ditemukan beragam sesuai dengan penggunaannya. Kata kunci: satuan lingual, sapaan istilah kekerabatan, bahasa Bali, kasta ksatria   Abstract This research examined the lingual units of greeting of Balinese kinship terms among ksatria caste in Jero Tengah Tabanan Regency. This study specifically examined a large family of Jero Tengah located in Banjar Tegal Baleran, Tabanan Regency. This study aimed to determine the lingual units of greeting of Balinese kinship terms among ksatria caste in Jero Tengah. The Ksatria caste studied were those whose names were Gusti. The data collection method was carried out by interviewing the interviewees and continued with note taking. The data analysis method used was the distribution method that is the method in which the determinant is precisely the part of the language itself. The method of presenting the results of the data analysis was informal method, in which the results of the analysis were presented by using words and sentences. The lingual units of greeting of Balinese kinship terms among ksatria caste in Jero Tengah found were kompyang 'great-grandfather', ninik, mbah 'grandmother', wayah 'grandfather', ajik 'father', biang 'mother', utik 'mother', ji + birth order 'uncle', biang + birth order 'aunt', tik + birth order 'aunt', bu + birth order 'aunt', titu 'aunt', raka + birth order 'older brother ', wi gus 'older brother', mbok gek 'older sister', gung + name, gung + birth order / name only 'younger brother / sister'. Lingual units and greeting systems of Balinese kinship terms found were various according to their use. Keywords: lingual units, greeting of kinship terms, Balinese, Ksatria caste
Implementasi Profil Pelajar Pancasila Dalam Satua Bali: Membentuk Karakter dan Moderasi Beragama Pada Anak Parta, Ida Bagus Made Wisnu; Aryasuari, I Gusti Ayu Putu Istri
Jurnal Penelitian Agama Hindu Vol 9 No 1 (2025)
Publisher : Jayapangus Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37329/jpah.v9i1.3631

Abstract

Satua is a Balinese traditional fairy tale or literary work in prose that contains life values, one of which is Satua Tong! Ceng! Pung! Pung! Jir! as the object of research. The purpose of this study is to determine whether Balinese satua can educate children's character and foster a sense of religious moderation in Bali. This study uses transformation theory, sociological theory, and ethnopedagogy theory supported by analytical descriptive methods and reading techniques in analyzing data. The results of this study are (1) revitalizing Balinese language satua by transforming books into learning videos that contain the values ​​of the Pancasila student profile dimensions. (2) There are three basic frameworks of Hinduism in satua, including: (a) Tatwa (philosophy) there are five philosophies of faith as the basis of belief called Panca Sradha, (b) Susila (ethics) there are Tat Twam Asi and Tri Kaya Parisudha which emphasize the attitude of mutual belonging and feeling as fellow living beings. (c) Ceremony (ritual) there is a sincere holy sacrifice called Yadnya which consists of five parts called Panca Yadnya. (3) Based on the responses of teaching teachers and the responses of 161 students from 9 elementary schools in Bali, 20.36% chose neutral, 49.87% agreed, and 29.76% strongly agreed. Thus, the use of learning video media can increase students' interest in learning and shape children's character according to the profile of Pancasila students, as well as foster an attitude of religious moderation in Bali.