Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Composition of Functional Bacteria on Suppressive and Conducive Soil for Fusarium Wilt on Chilli Amara, Khansa; Giyanto; Widodo; Sudiana, I Made
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol 19 No 5 (2023): September 2023
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14692/jfi.19.5.215-229

Abstract

Composition of Functional Bacteria on Suppressive and Conducive Soil for Fusarium Wilt on Chilli The phenomenon of suppressive soil has been widely studied to control plant diseases in the field. Suppresive soil is characterized by its contain of functional microbes that can suppress pathogen populations. This study aims to determine and compare the composition of functional bacteria on suppressive and conducive soil of fusarium wilt. The research method consists of soil sampling in the field, isolation of functional bacteria from suppressive soil (SS) and conducive soil (CS) samples, calculation of bacterial population and type, biosafety screening, and characterization of functional bacteria in suppressing of Fusarium oxysporum. The results showed that the bacterial population in SS was higher than those in CS, especially for heat-tolerant bacteria and the fluorescent Pseudomonads. The high population of bacteria is supported by the high value of functional bacterial diversity in SS (H’ 3.70 > 3) compared to CS, which is classified as medium (1 < H’ 2.07 < 3), with the distribution of functional bacteria classified as almost evenly distributed and no dominance of certain types in SS and CS. The percentage of nonpathogenic bacteria in SS is higher than in CS, i.e. 51% and 23%, respectively. These bacteria have potential as plant growth promoting bacteria (PGPB) by producing IAA or dissolving phosphate alone of 24% and 10%, respectively in suppressive soils; and of 14% and 29%, respectively in conducive soils. Only bacteria derived from suppressive soils were able to produce IAA while dissolving phosphate with a percentage of as much as 48%.
Penilaian Penyakit dan Kehilangan Hasil Penyakit Bercak Daun pada Berbagai Kultivar Kacang Hijau Amara, Khansa
Jurnal Riset Multidisiplin Agrisosco Vol 4, No 1 (2026): Vol 4 No 1 April 2026
Publisher : Lembaga Penelitian, Pengembangan, Pemberdayaan Potensi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61316/jrma.v4i1.240

Abstract

Penyakit bercak daun yang disebabkan oleh Cercospora spp. merupakan salah satu kendala utama yang dapat menurunkan produktivitas tanaman kacang hijau secara signifikan. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan penilaian (assessment) terhadap penyakit bercak daun serta mengkaji tingkat kehilangan hasil pada tiga Kultivar akibat serangan patogen di lapangan. Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus hingga November 2020 di lahan endemik Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Metode yang digunakan meliputi metode survei dengan diagonal sampling untuk pengamatan di lapangan, serta rancangan acak kelompok (RAK) untuk membandingkan tiga Kultivar (Murai, Perkutut, dan Butet) pada kondisi lapangan dan kondisi optimal di rumah kaca (green house). Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata kejadian penyakit (insidensi) bercak daun di lahan petani mencapai 90% dengan keparahan penyakit (severitas) sebesar 39,67%. Analisis kehilangan hasil menunjukkan bahwa Kultivar Betet merupakan kultivar paling rentan dengan tingkat kehilangan hasil tertinggi sebesar 34,58%, diikuti oleh Kultivar Murai sebesar 27,67% dan Kultivar Perkutut sebesar 24,01%. Tingginya persentase kerusakan tanaman tersebut juga terbukti berkorelasi positif dengan peningkatan nilai area under disease progress curve (AUDPC). Berdasarkan hasil tersebut, penyakit bercak daun yang disebabkan oleh Cercospora spp. dapat menyebabkan penurunan hasil panen, sehingga pemilihan kultivar toleran bercak daun (seperti varietas Murai dan Perkutut) serta penerapan teknik budidaya yang tepat dengan memperhatikan integrated pest management merupakan langkah penting untuk menekan kerusakan tanaman dan perkembangan penyakit bercak daun di lahan budidaya kacang hijau.