This Author published in this journals
All Journal Jurnal Koridor
Stirena Rossy Tamariska
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PERAN RUANG KOMUNAL DALAM MENCIPTAKAN SENSE OF COMMUNITY STUDI KOMPARASI PERUMAHAN TERENCANA DAN PERUMAHAN TIDAK TERENCANA Stirena Rossy Tamariska; A. Dwi Eva Lestari2, Elisabet Nungky Septania; Elisabet Nungky Septania; M. Shoful Ulum
Jurnal Koridor Vol. 10 No. 1 (2019): Jurnal Koridor
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (521.331 KB) | DOI: 10.32734/koridor.v10i1.1388

Abstract

Sense of community merupakan penentu signifikan kualitas hidup secara umum dan kepuasan dalam kesejahteraan. Dalam kehidupan bermukim, anggotanya harus memiliki sense of community agar komunitasnya tetap bertahan dan hubungan yang berjalan semakin kuat. Adanya hubungan yang kuat antar warga permukiman merupakan salah satu ukuran kepuasan hidup di daerah perumahan. Aktivitas interaksi sosial yang terjadi di ruang komunal menjadi salah satu indikator terhadap sense of community. Ruang komunal di dalam kota keberadaannya bisa direncanakan, bisa pula muncul secara organic (tidak terencana). Masing-masing ruang komunal baik yang ‘by design’ ataupun ‘non design’ memiliki peran masing-masing berdasarkan aktivitas dan keseharian yang terjadi. Keberadaan interaksi sosial melalui terbentuknya kelompok pengguna ruang, intensifnya penggunaan ruang dan adanya aktivitas yang beragam dapat menjelaskan bagaimana ruang komunal bermakna bagi masyarakat. Ruang komunal dalam mempertahankan eksistensinya dipengaruhi oleh bagaimana penghuni atau pengguna (user) memanfaatkan ruang komunal tersebut. Kebutuhan ruang komunal dilakukan berdasarkan sebuah kesadaran bahwa interaksi sosial merupakan bagian dari kebutuhan keseharian. Pada ruang komunal kampung kota, interaksi sosial bisa dilakukan kapan saja setiap saat, dengan memanfaatkan ruang-ruang yang justru tidak direncanakan atau ruang yang berada relatif dekat dengan hunian. Ruang komunal baik terencana maupun tidak terencana masing-masing memiliki peran sosial. Sense of community dapat dinilai dari kualitas penggunaan lahan, kualitas fisik ruang komunal dan kualitas sosial. Masing-masing ruang komunal memiliki peran dalam menciptakan sense of community karena faktor lingkungan sangat penting untuk pengembangan rasa kebersamaan dalam komunitas perkotaan. Studi ini dapat digunakan sebagai rekomendasi dalam pembuatan kebijakan untuk untuk memperhatikan hadirnya ruang-ruang interaksi/ ruang komunal dalam perencanaan permukiman/ perkotaan yang menciptakan Sense of Community.
Discourse on Providing Fair Housing for The Middle Class: Housing Preferences of Young Lecturers in Peri-Urban Areas Amelia Tri Widya; Stirena Rossy Tamariska; Antusias Nurzukhrufa; Yemima Sahmura Vividia
Jurnal Koridor Vol. 17 No. 1 (2026): Jurnal Koridor
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32734/koridor.v17i1.23968

Abstract

Indonesia's middle class, which comprises 66.35% of the total population and contributes 81.49% to national consumption, faces serious challenges in accessing decent housing in urban areas. Young middle-class individuals face housing unaffordability due to an 11.19% increase in housing prices over the past five years, while government housing policies still focus on Low-Income Communities, leaving the middle class as the "missing middle" without adequate assistance. This study aims to identify the housing preferences of young lecturers, who represent the urban middle class, analyze their adaptation strategies to address housing unaffordability, and uncover their implications for the discourse on housing equity. The study was conducted in the peri-urban area of ​​Bandar Lampung with 31 young lecturers from the Institut Teknologi Sumatera (ITERA) through in-depth interviews and the Analytical Hierarchy Process (AHP). The findings indicate that location is an absolute factor in the hierarchy of preferences, followed by price and security as fundamental needs. The majority of respondents still rent at up to 20 million rupiah per year, but aspire to housing in the 300-500 million rupiah range. This paradox of unaffordability forces respondents to adopt suboptimal strategies: renting while saving, building independently in remote locations with poor infrastructure, purchasing subsidized housing (downward adaptation), or living with their parents. This study confirms that housing affordability for the young middle class is a manifestation of imbalanced market failures and policies that ignore middle-class stratification.