Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Pengembangan Instrumen Evaluasi Pembelajaran Berbasis HOTS (High Order Thinking Skill) Ditinjau dari Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis pada Jenjang Pendidikan Tinggi Hignasari, L.Virginayoga; Diputra, Gede Ngurah Oka
JIIP - Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan Vol. 4 No. 7 (2021): JIIP (Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan)
Publisher : STKIP Yapis Dompu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (773.277 KB) | DOI: 10.54371/jiip.v4i7.337

Abstract

Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan, dengan model pengembangan ADDIE, Penelitian ini dilakukan di Universitas Mahendradatta dengan subjek penelitian adalah mahasiswa prodi Teknik Industri semester I tahun akademik 2020/2021 sebanyak 30 mahasiswa, Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan instrumen evaluasi pembelajaran berbasis HOTS yang ditinjau dari kemampuan pemecahan masalah matematis, Penelitian ini didasari pada permasalahan pembelajaran yang lebih banyak menekankan pada kemampuan mengitung dan mengaplikasikan rumus, Instrument yang dikembangkan dilakukan uji validasi oleh ahli dan menunjukkan bahwa instrument valid untuk di uji cobakan. Berdasarkan hasil uji coba dapat dilihat bahwa hasil kemampuan pemecahan masalah siswa rata-rata yaitu 72,7 yang termasuk dalam kategori tinngi. Sebanyak 53% mahasiswa mampu menyelesaikan permasalahan HOTS dengan mengoptimalkan kemampuan pemecahan masalah matematis. Hal ini menunjukkan bahwa 17 dari 30 orang mahasiswa mampu memaksimalkan kemampuan pemecahan masalahnya dengan menyelesaikan persoalan berbasis HOTS. Respon mahasiswa terhadap impelemntasi permasalahan berbasis HOTS juga termasuk dalam kategori positif. Implementasi instrumen permasalahan berbasis HOTS dinilai mampu untuk meningkatkan beberapa kemampuan kognitif salah satunya yaitu kemampuan pemecahan masalah matematis.
Model Konseptual Pendidikan Multikultural Trasnformasional Bali: Revitalisasi Nilai Tri Parartha sebagai Penguatan Sosial and Emotional Learning (SEL) Siswa di Era Pluralitas Budaya Hignasari, L.Virginayoga; Tika, I Nyoman; Atmaja, Ananta Wikrama Tungga; Suastra, I Wayan
Journal of Authentic Research Vol. 4 No. 2 (2025): December
Publisher : LITPAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/qze6jf17

Abstract

Penelitian ini mengembangkan model Pendidikan Multikultural Transformasional Bali berbasis nilai kearifan lokal Tri Parartha (Asih, Punia, Bhakti) untuk memperkuat Social and Emotional Learning (SEL). Metode yang digunakan adalah studi literatur deskriptif kritis dengan menganalisis buku, artikel ilmiah, laporan kebijakan, dan penelitian terkait pendidikan multikultural, kearifan lokal, serta SEL. Kebaruan penelitian terletak pada integrasi nilai Tri Parartha sebagai basis etika sosial dengan kerangka SEL, menghasilkan model yang relevan secara kultural dan operasional. Hasil kajian menunjukkan implementasi pendidikan multikultural di Bali masih bersifat normatif, dengan nilai Tri Parartha diajarkan simbolik tanpa transformasi signifikan dalam karakter atau kompetensi SEL siswa. Revitalisasi Tri Parartha terbukti efektif memperkuat dimensi pendidikan multikultural dan kompetensi SEL, seperti empati, kesadaran sosial, keterampilan relasi, pengelolaan diri, dan pengambilan keputusan bertanggung jawab. Model konseptual yang dihasilkan mencakup input, proses pembelajaran, output, outcome, serta mekanisme penguatan dan evaluasi. Temuan penelitian menegaskan bahwa integrasi Tri Parartha dalam kurikulum dan budaya sekolah dapat meningkatkan toleransi, empati, dan harmoni sosial siswa, meski masih memerlukan uji coba empiris untuk menilai efektivitasnya. This study develops a Transformational Multicultural Education model for Bali based on the local wisdom values of Tri Parartha (Asih, Punia, Bhakti) to strengthen Social and Emotional Learning (SEL). The method used is a critical descriptive literature review, analyzing books, scholarly articles, policy reports, and research related to multicultural education, local wisdom, and SEL. The novelty of this research lies in the integration of Tri Parartha values as a basis for social ethics with the SEL framework, resulting in a culturally relevant and operational model. The findings show that the implementation of multicultural education in Bali remains normative, with Tri Parartha values being taught symbolically without significant transformation in students' character or SEL competencies. The revitalization of Tri Parartha proves effective in strengthening multicultural education dimensions and SEL competencies such as empathy, social awareness, relational skills, self-management, and responsible decision-making. The conceptual model developed includes input, learning processes, output, outcomes, and mechanisms for reinforcement and evaluation. The research findings emphasize that integrating Tri Parartha into the curriculum and school culture can enhance tolerance, empathy, and social harmony among students, although empirical testing is still needed to assess its effectiveness.
Studi Kualitatif Hubungan Metakognisi dan Self-Assessment terhadap Keterampilan Berpikir Kritis Matematika Siswa SMP Hignasari, L.Virginayoga; Lasmawan, I Wayan; Parmiti, Desak Putu
Emasains : Jurnal Edukasi Matematika dan Sains Vol. 15 No. 1 (2026): Maret 2026 (On Progress)
Publisher : Program Studi Pendidikan Matematika dan Pendidikan Biologi Universitas PGRI Mahadewa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59672/emasains.v15i1.5943

Abstract

Kemampuan berpikir kritis matematika merupakan kompetensi penting dalam pembelajaran. Faktor internal yang berperan dalam pengembangannya antara lain metakognisi dan self-assessment. Namun, sebagian besar penelitian sebelumnya masih didominasi pendekatan kuantitatif sehingga belum menggambarkan secara mendalam bagaimana proses metakognisi dan self-assessment berlangsung secara simultan dalam pembelajaran matematika. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi proses metakognisi dan self-assessment siswa serta hubungan keduanya dalam membentuk keterampilan berpikir kritis matematika. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Subjek penelitian dalam penelitian ini adalah siswa SMPN 5 Denpasar kelas VIIIA dengan tingkat kemampuan matematika yang berbeda. Data dikumpulkan melalui soal matematika non-rutin, wawancara mendalam, observasi pembelajaran, dan analisis dokumen. Analisis data dilakukan secara tematik dengan tahapan reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metakognisi dan self-assessment saling berinteraksi dalam proses berpikir kritis siswa. Siswa berkemampuan tinggi menunjukkan integrasi perencanaan, pemantauan, evaluasi, dan penilaian diri yang lebih konsisten dan reflektif, sementara siswa berkemampuan sedang dan rendah memperlihatkan regulasi diri yang masih parsial dan memerlukan scaffolding. Penelitian ini menegaskan pentingnya integrasi metakognisi dan self-assessment untuk meningkatkan berpikir kritis matematis siswa. Kebaruan penelitian terletak pada kajian mendalam tentang bagaimana kedua proses tersebut berlangsung secara simultan dalam pembelajaran nyata serta implikasinya bagi pengembangan strategi reflektif di kelas.