Restu Aji, Abimanyu Yogadita
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Makna Visual Tokoh Bratasena dalam Wayang Kulit Gaya Pakualaman Restu Aji, Abimanyu Yogadita
INVENSI Vol 9, No 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Graduate School of the Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/invensi.v9i2.11155

Abstract

Wayang kulit yang berkembang di Jawa memiliki berbagai macam gaya. Salah satu gaya adalah gaya Pakualaman. Terdapat ciri khusus yang membedakan antara wayang kulit Pakualaman dengan gaya wayang kulit lain. Penambahan atribut keris merupakan ciri khusus yang ada pada wayang kulit gaya Pakualaman. Penelitian ini bertujuan untuk menguak makna visual pada tokoh Bratasena gaya Pakualaman serta korelasinya dengan pemakaian atribut keris. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Data penelitian didapatkan dengan melakukan observasi langsung ke lapangan dan wawancara dengan narasumber yang menguasai topik yang sedang diangkat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tambahan atribut keris berfungsi untuk lebih memanusiakan wayang kulit, karena wayang kulit Kyai Jimat gaya Pakualaman bukan diciptakan untuk pertunjukan. Penggunaan atribut keris merupakan gambaran keseharian atribut yang digunakan di lingkungan Pakualaman. Makna visual dari tokoh Bratasena sesuai yang terdapat dalam naskah Sestradisuhul, Bratasena digambarkan sebagai tokoh yang kuat, teguh pendirian, pembela kebenaran dan lurus kemauannya, hal itu merupakan nasihat yang ditujukan kepada keluarga Pakualaman. The Visual Meaning of the Character Bratasena in the Pakualaman Style of Leather Puppet ABSTRACT Shadow puppets that developed in Java have various styles. One style is the Pakualaman style. There are special characteristics that differentiate Pakualaman shadow puppets from other shadow puppet styles. The addition of the keris attribute is a special characteristic of Pakualaman style shadow puppets. This research aims to reveal the visual meaning of the Pakualaman style Bratasena character and its correlation with the use of keris attributes. The method used in this research is a qualitative descriptive method. Research data was obtained by conducting direct observations in the field and interviews with sources who mastered the topic being discussed. The results of the research show that the additional attribute of the keris serves to further humanize the wayang kulit, because the Pakualaman style of wayang kulit Kyai Jimat was not created for performance. The use of keris attributes is an illustration of the everyday attributes used in the Pakualaman environment. The visual meaning of the character Bratasena is in accordance with that contained in the Sestradisuhul text, Bratasena is described as a strong figure, firm in his stance, defender of truth and straight in his will, this is advice addressed to the Pakualaman family.
Modifikasi Acuan Sepatu Berbahan Kayu Secara Manual Restu Aji, Abimanyu Yogadita; Nugraha, Sanjaya; Sulistianto, Sulistianto
Corak Vol 13, No 1 (2024): Mei 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/corak.v13i1.9716

Abstract

AbstractShoe last is an artificial foot object used in the shoe making process. Traditionally making shoe last uses wood as a raw material. Shoe last with wood raw materials that are less dry will experience shrinkage if used for a long time. Shrinkage that occurs in the shoe last needs to be overcome by modifying the shoe last. The purpose of this study was to determine the process of modifying the shoe last, the materials used in the process of modifying the shoe last and the hardness level of the modification of the shoe last. The method used in this research is descriptive qualitative with the stages of data collection, data processing and data analysis. The result of this research is to know the shoe last modification process. The shoe last modification process starts with analyzing the parts that are experiencing shrinkage, marking the parts to be modified, and manually modifying the shoe last. The material used in the modification process uses fine sawdust combined with G glue to attach the powder to the shoe last. The results of the shoe last modification process can meet the hardness characteristics of the shoe last.Abstrak Acuan merupakan sebuah benda tiruan kaki yang digunakan dalam proses pembuatan sepatu. Pembuatan acuan secara tradisional menggunakan kayu sebagai bahan bakunya. Acuan dengan bahan baku kayu yang kurang kering akan mengalami penyusutan jika digunakan dalam jangka waktu yang lama. Penyusutan yang terjadi pada acuan perlu diatasi dengan cara dilakukan modifikasi pada acuan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui proses modifikasi acuan, bahan yang digunakan dalam proses modifikasi acuan dan tingkat kekerasan dari hasil modfikasi acuan sepatu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan tahapan pengumpulan data, pengolahan data dan analisis data. Hasil dari penelitian ini adalah dapat diketahui proses modifikasi acuan. Proses modifikasi acuan dimulai dari kegiatan menganalisa bagian yang mengalami penyusustan, pemberian penandaan bagian yang akan dimodifikasi, dan modifikasi acuan sepatu secara manual. Bahan yang digunakan dalam proses modifikasi menggunakan serbuk kayu halus yang dikombinasikan dengan lem G untuk menempelkan serbuk ke acuan. Hasil dari proses modifikasi acuan dapat memenuhi karakteristik kekerasan pada acuan,