Purwaningsih, Ernawati
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

TRADISI NYADRAN TUK TEMPURUNG DARI DOMESTIK KE PUBLIK Purwaningsih, Ernawati
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 18 No. 3 (2017)
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5731.109 KB) | DOI: 10.52829/pw.28

Abstract

Upacara nyadran Tuk Tempurung di Dusun Liangan, Temanggung merupakan tradisi yang selalu dijaga oleh masyarakat pendukungnya. Tradisi tersebut terus diwariskan secara turun temurun. Namun, semenjak ditemukannya Situs Liangan yang lokasinya di Dusun Liangan, pada tahun 2008, penyelenggaraan upacara tradisi tersebut mengalami perubahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana perubahan penyelenggaraan nyadran Tuk Tempurung dan fungsinya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyelenggaraan nyadran Tuk Tempurung mengalami perubahan baik dalam hal penyelenggaraan maupun fungsinya. Upacara nyadran Tuk Tempurung yang semula diselenggarakan secara perorangan dan sederhana, setelah ditemukannya Situs Liangan diselenggarakan secara kolektif. Penyelenggaraan nyadran dikemas lebih meriah. Nyadran Tuk Tempurung mengalami perubahan fungsi, yang semula sakral menjadi profan, artinya kepentingan menjadikan upacara tersebut sebagai daya tarik wisata menjadi lebih menonjol daripada esensi dari  penyelenggaraan tradisi nyadran Tuk Tempurung. The ceremony of Nyadran Tempurung Spring in Liangan village, Temanggung is a tradition which is always maintaned by the society supporting it. The tradition is continuously descended.However, the tradition of the performance of the ceremony has changed since Liangan Sites was found in Liangan village in 2008. This research is aimed to know the performance of Nyadran Tempurung Springs and its function. This research used  qualitatif and qualitative descriptive analysis methods. The result of the research shows  that Nyadran Tempurung Springs has changed in term of the performance and the function. The ceremony of Nyadran Tempurung Springs which was initially performed individually and simply was performed collectively after Liangan Site had been found. The ceremony is merrily performed now. Nyadran Tempurung Springs has changed its function, which is initially sacred turns into profane. It means the ceremony is carrried out to be a tourist attraction more than the essence of the performance of the tradition of Nyadran Tempurung Springs.
PEWARISAN TRADISI MEMBATIK DI DESA KOTAH, SAMPANG, MADURA Purwaningsih, Ernawati
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 16 No. 4 (2015)
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (126.892 KB) | DOI: 10.52829/pw.81

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tradisi membatik di Desa Kotah, latar belakangeksistensi tradisi membatik, menelusuri unsur-unsur pewarisan, serta menelusuri cara pewarisannya. Penelitian menggunakan metode kualitatif, teknik wawancara mendalam, pengamatan, dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa awal mula tradisi membatik di Desa Kotah tidak dapat diketahui pasti, namun sudah ada sejak nenek moyang. Hal ini tergambar dari warisan kain batik yang dimiliki beberapa warga di Desa Kotah sudah berumur lebih dari 100 tahun. Mayoritas perempuan di Dusun Magug dapat membatik. Tradisi membatik dapat tetap eksis dipengaruhi, pertama, ketrampilan membatik merupakan warisan dari nenek moyang sehingga ada ikatan untuk meneruskannya. Kedua, kualitas sumberdaya manusia relatif rendah, mengakibatkan kesempatan untuk mencari kerja dan bersaing di luar daerah menjadi rendah. Ketiga, lingkungan permukiman yang relatif terpencil, di daerah perbukitan, tanahnya kurang subur mempengaruhi keterbatasan terhadap kesempatan kerja. Banyak ibu rumah tangga di Dusun Magug menjadi pembatik, namun yang menarik, pembatik anak-anak juga banyak. Anak-anak belajar membatik atas kemauannya sendiri. Dalam proses membatik, anak-anak hanya pada tahapan paling dasar yaitu isen-isen. Jadi, pewarisan tradisi membatik terjadi karena ada rasa memliki warisan budaya, menambah penghasilan, dan lingkungan sekitar banyak yang membatik.This research is aimed to describe batik tradition on Kotah village, reveal the background of batik tradition existence, finds the factor of the legacy, and reveal the way its inherited. The research was done by qualitative methods, depth-interview techniques, observation, and library study. The beginning of Batik tradition in Kotah village was not known for certain. But it has started since the time of their ancestor. This was depicted through the drawings of Batik cloth possessed by several Kotah villagers which already exists for more than 100 years. The majority of women in Magug hamlet able to make batik. The reasons of Batik tradition can survive was influenced by several factors. First, Batik craftsmanship was the legacy from their ancestor, therefore they have a bond or obligation to continue the legacy. Second, the low rate of human resource quality, cause the opportunity to find and compete to be a job seeker outside the area relatively low. Third, Remote settlements, in hill landscape, infertile soil will limit the job opportunity. Batik crafter in Magug hamlet consist of both children and adults. Children study batik by their own will. In Batik process, children were only comes at 'isen-isen' stage, the most basic stage. Briefly, Batik tradition legacy exists because children love and happy with the cultural legacy that they have. Economically, the activity can add extra money, for local area, household wife who can make Batik.